Indonesia bukan Negara Agraris, tapi Maritim.

“Sekitar 70% bagian negara ini adalah perairan, oleh karena itu Indonesia disebut Negara Kepulauan (Maritim).”

Pasti sebagian besar kalian sudah tahu tentang statement di atas. Bagaimana dengan yang ini?

“Negara Maritim: To live from and with the sea.”

Hidup dari dan dengan laut (perairan). Sudahkah Negara kita benar-benar menjadi Negara Maritim? Yang hidup dari dan bersama lautnya?

Mungkin belum, mungkin juga sudah. Atau sudah, tapi belum optimal. Bagaimana menurut kalian?

Tadi saya menghadiri ceramah dan diskusi ilmiah tentang “Membangun Sumber Daya Insani di Negara Maritim” oleh Prof M.T. Zen, salah satu dosen Program Studi Teknik Geofisika ITB.  Ceramah dan diskusi hari ini merupakan kerjasama Program Studi Oseanografi dengan Earth Science Club (ESc). Dan tanpa sengaja saya ‘terjebak’ dan menjadi salah seorang member klub yang peduli dengan lingkungan tersebut.

Saya suka sekali dengan cara Pak Zen menyampaikan materi, karena beliau menyampaikannya dengan penuh semangat. Kaki kiri beliau belum pulih benar dari penyakitnya dan dilarang keras oleh dokter untuk banyak berdiri. Tapi tahukah kalian? Beliau menghabiskan waktu sekitar 90 menit dengan lebih banyak berdiri dan beberapa kali berjalan. Yah, itulah semangat. Sesuatu yang dapat melepaskan diri kita dari segala keterbatasan yang ada.

Beliau membuka presentasi dengan dua istilah Jerman yang sangat dekat dengan kehidupan laut kita. Yaitu Lebensraum (ruang gerak; ruang bernapas) dan Weltanschaung (world outlook). Tapi bukan Lebensraum dan Weltanschaung yang digunakan oleh Nazi. Weltanschaung; kelautan adalah hal yang sangat kita, sangat Indonesia. Kalau menurut istilah Pak Zen, Indonesia ini adalah Benua Maritim. Dunia melihat kita sebagai pulau-pulau yang dikelilingi oleh laut yang sangat luas. Tidak aneh jika dalam keadaan seperti saat ini (silakan anda definisikan sendiri), orang asing bisa jadi belum mengetahui bahwa Indonesia bukan Jawa saja, atau Jawa dan Sumatera saja, apalagi Kalimantan disebut Malaysia!? Ya, perlu kita pertanyakan lagi, sudahkah kemaritiman kita menjadi identitas? Sebagai world outlook? Dan laut merupakan Lebensraum kita, dimana kita hidup dari dan bersama laut. Melanjutkan hidup, menyumberkan sebagian besar kebutuhan kita. Bukan menjadikannya sampingan, terlebih lagi tidak menjaga dan memperhatikannya. Sehingga, jangan marah jika ia dicaplok orang lain.

Dewasa ini, krisis energi yang melanda dunia, termasuk Indonesia, masih menjadi PR untuk setiap individu. Puluhan ribu MegaWatt harus kita hasilkan untuk memenuhi kebutuhan energi manusia sehari-hari. Dari laut, kita dapat menghasilkan energi yang amat besar. Beberapa cara adalah dengan memanfaatkan energi ombak (tidal wave), osmosis, arus laut, dan perbedaan suhu pada kedalaman-kedalaman tertentu. Jika kita memiliki laut seluas dan sedalam seperti yang kita miliki saat ini, maka seharusnya kita bisa memiliki energi yang dihasilkan dari berbagai konversi energi pada laut tersebut.

Sebenarnya kita telah mencapai tahapan pengembangan, beberapa darinya dapat dilihat dari hubungan kerjasama Program Studi Oseanografi dan Teknik Mesin ITB dalam mengembangkan energi arus laut. Atau Oseanografi dan Teknik Kelautan ITB dalam mengembangkan energi ombak (tidal wave). Banyak riset yang dilakukan, hanya saja mungkin belum dilakukan secara masif, sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat awam. Sekedar informasi, saya adalah seorang mahasiswi Teknik Fisika ITB, bukan jurusan-jurusan yang telah saya sebutkan sebelumnya. Karena konversi dan pengembangan energi harus menjadi perhatian bersama. Ditambah lagi energi yang dapat dihasilkan di laut Indonesia memang tidak main-main. Salah satunya di Celah Timor Timur, sebuah perairan dekat Flores, memiliki perbedaan suhu pada kedalaman tertentu yang apabila dikembangkan, dapat menghasilkan energi yang bukan saja dapat memenuhi energi listrik di Indonesia, tapi juga dapat memenuhi kebutuhan energi se-Asia Tenggara! Luar biasa, bukan?

Di samping itu semua, banyak isu yang merambah di masyarakat tentang kelautan Indonesia. Sayang, sebagiannya bukanlah hal yang baik. Seperti yang kita ketahui, Negara kita masih memiliki kelemahan di sektor Pertahanan dan Keamanan (Hankam) kelautan. Tak kalah pentingnya yakni dampak lingkungan, limbah-limbah yang terbuang (atau mungkin dibuang) ke laut, kerusakan maupun kepunahan flora dan fauna, over-exploration (lebih menyedihkan karena dilakukan oleh asing) dan berbagai masalah lainnya, seharusnya belum membuat kita merasa bahwa kita telah memanfaatkan laut secara baik. Sebaliknya, kita pun belum memberikan manfaat yang signifikan kepada laut. Sehingga, dapat saya simpulkan bahwa kemaritiman Negara ini belum menjadi concern kita selama ini.

Hal-hal di atas tentu tidak seharusnya menjadikan kita pasrah dan menyerahkan segala kelanjutannya kepada Allah, apalagi jika hanya kepada pemerintah. Kebijakan pemerintah, dan perindustrian pun dapat kita kendalikan sendiri. Jawabannya adalah dengan Marine Science and Technology. Kita harus mengambil andil, atau paling tidak memberi perhatian akibat pikiran kita yang telah tercerdaskan. Dengan adanya foundation semacam ESc, maka kita dapat ikut berusaha untuk memperjuangkan kebijakan yang benar-benar bijak untuk laut kita, teman kita yang kita hidup dari dan bersamanya.

Teman-teman, sudah terlalu banyak yang mereka ambil dari kita. Jangan biarkan mereka mengambil lebih banyak lagi dan tragisnya menjadikan kita pekerjanya! We are master in our land, because this is our land! INDONESIA IS OUR LAND! Dan kita wajib memperjuangkannya.

Jadi, benarkah kita masih tidak peduli dengan laut kita?

“Kebahagiaan itu bukan ketika kita memanen padi, tetapi ketika kita memanen padi yang kita sendiri menanamnya.” – Multatuli.

10 thoughts on “Indonesia bukan Negara Agraris, tapi Maritim.

  1. Merinding bacanya..
    So true, begitu banyak sumber daya kelautan yang belum dimanfaatkan secara maksimal
    Jadi, daripada bikin trending topic worldwide tentang hal yang ga penting, mending pikirin caranya buat mengubah hal ini :)

    • betul betul betull.. makasi dah main2.. salam kenal. ^^
      btw, kok saya ngerasa banyak yang liat post ini di hari yang sama kk ngomen tulisan ini..
      kenapa ya?

  2. Salam Kenal

    Sangat inspiratif sekali tulisannya mbak,, memang di perlukan gegraphical awarenes agar kita sadar bahwa negara kita adalah negara maritim dan belum adanya pemimpin kita yang memilki ocean leadership yang handal,,

    Trima kasih

    Tak buat referensi juga ya tulisannya, karena saya juga sedang belajar

  3. Saking parahnya jiwa kemaritiman di Indonesia maka belum ada Universitas yg mengkhususkan ilmu maritim,bahkan sedikit sekali ilmu2 maritim yg terdapat di universitas2 negeri…

    • belum.. masih cari cari data tentang energi yang strategis buat dikembangin di Indonesia. sekarang sih sedang cari-cari juga energi alternatif dari petroleum.

      oh waw. saya tertarik mempelajari energi dari laut. btw gimana penelitiannya? erry dari kampus mana?

      • sy dari perusahaan… sy lg mengembangkan energi gelombang dengan teknik kelautan ITB … .

        Kalo dari petroleum … itu bagaimana bentuknya ?

  4. tapi indonesia itu bagus kokk
    punya kekayaan… :)
    seperti taman nasional nya
    suaka margasatwa nya seperti suaka margasatwa way kambas
    itu kan melestarikan gajah gajah di indonesia
    trus indoensia juga mempunyai kekayaaan laut yang luas
    seperti taman bunaken
    bunaken tu bertujuan untuk melestarikan ikan ikan di indonesia
    sebentar lagi juga komodo akan menjadi 7 keajaibann dunia khaann???
    semoga komodo menang amiennnnn……… ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s