First Short Story: “Aku Akan Penuhi Janjiku, Kak…”
Cerpen ini adalah cerpen pertama yang Ratna buat sepanjang sejarah, mohon kritik dan saran untuk perbaikan tulisan kedepannya..
Jazakumullah khairan katsiira.. Selamat membaca! ^-^
Anak kecil itu masih terus menangis terisak-isak sepanjang perjalanan ke Tripoli. Ia memeluk kedua kakinya yang terlipat di depan dadanya. Air mukanya menampakkan kesedihan yang amat sangat. Pipinya ternodai oleh badai debu ulah orang-orang kejam yang datang. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dan sesekali ia terbatuk. Badannya menggigil kedinginan, bajunya masih agak basah. Masih tersisa lumuran darah di baju dan lengannya. Ia ingin sekali berteriak, tapi ia tahu, ia harus menahannya. Wajahnya basah bersimbah air mata yang tak kunjung berhenti, sejak ia meninggalkan Palestina bersama bertruk-truk rombongan pengungsi lain menuju Lebanon.
Mungkin sudah terlalu lama menangis. Ia pun diam, walau kedua matanya masih basah. Pandangannya kosong. Melihat anak itu sudah sedikit tenang, Zaid pun bertanya.
“Mas muka?”
Anak itu menoleh. “Farhan,” jawabnya parau.
“Na’am. Farhan, setelah ini kita akan ke tempat yang lebih aman. Insya Allah kita tidak lagi mendengar bom dan granat meledak, roket melaju, atau pun suara senapan lagi,” katanya menenangkan. Ia pun tersenyum.
Zaid meneruskan kalimatnya sambil mengusap-usap kepala Farhan, “Jangan bersedih. Mulai sekarang, akulah kakakmu,” katanya pada sosok tubuh kecil yang gemetaran dan tengah berada dalam pelukannya itu, mengingat apa yang telah ia lewati.
Pengalaman pahit yang baru saja dialami Farhan bukanlah hal yang lazim dialami anak umur 9 tahun sepertinya. Ia belum bisa melupakan bayangan itu. Bayangan yang masih sangat baru dalam ingatannya. Baru beberapa jam yang lalu.
“Kak, bangun kak… Bahkan aku belum bisa mewujudkan janjiku,” katanya berteriak pada wajah yang terkulai lemah di pangkuannya. Masih di antara reruntuhan dan puing-puing rumahnya, dikelilingi oleh asap dan debu yang mengangkasa, ia tak ingin menyia-nyiakan tiap seperdetik waktu yang dimiliki kakaknya, Khalid, untuk bisa bersamanya. Tangisnya makin menjadi ketika mata sayu dihadapannya telah benar-benar tertutup, dan tak akan pernah terbuka lagi. Ia berteriak sekuat tenaga. Menangisi keluarganya, meratapi nasibnya. Hanya satu kalimat yang bisa ia ingat dari kakak laki-lakinya itu sebelum ia meninggal.
“Adikku tersayang, jadilah lelaki yang kuat dan tegar. Berpeganglah selalu pada agama Islam, dan ingatlah, innallaha ma’ana…,” Khalid berusaha tersenyum, mata sayunya menatap adik kesayangannya itu dalam-dalam, lalu menengadahkan wajah ke angkasa seolah-olah ia tahu akan pergi kemana setelah ini. Saat itu, hujan turun rintik-rintik seakan ikut menangisi apa yang tengah terjadi di Tanah Suci ini. Entah mengapa siang itu matahari seperti sedang enggan menampakkan sayap-sayap emasnya. Awan hitam pun berarak perlahan, sepelan bibir Khalid yang berusaha bergerak untuk mengucapkan kalimat terakhirnya.
“Asyhadu allaa… Ilaaha illallah.. Wa asyhadu anna… Muhammad”, kepalanya jatuh semakin dalam.
“Kakaaak……”
Petir sambar-menyambar. Hujan turun semakin deras. Dipeluknya wajah Khalid erat-erat. Tangan dan bajunya berlumuran darah kakaknya yang telah melunaskan perniagaannya dengan Allah sebagai seorang syuhada. Kesedihan semakin menyelimuti diri Farhan. Ia terus menangis dan menangis. Seakan tak rela harus hidup di dunia ini sendiri. Hanya suara tangis dan gemuruh hujan yang bisa ia dengar. Guncangan dan kelelahan membuatnya putus asa. Dia benar-benar merasa sendiri saat itu. Sampai akhirnya ia tak sadarkan diri, sementara tetesan air hujan memukuli punggung kurusnya.
Beberapa hari yang lalu, sepulang ibu berbelanja dari pasar Ramallah, Farhan dikagetkan oleh 3 orang berbadan besar menggunakan pakaian loreng-loreng yang mendobrak masuk ke dalam rumahnya. Mengobrak-abrik seisi rumah, berteriak sumpah serapah, lalu menyeret ibunya keluar rumah –entah kemana– hingga jilbab panjang berwarna abu-abunya itu hampir sobek. Mereka tak mempedulikan teriakan ibu Farhan. Ayahnya sudah lama meninggal, sejak ia masih di dalam kandungan. Tiba-tiba salah satu dari 3 orang tadi mendekatinya. Raksasa itu menodongkan senapannya ke arah Farhan, lalu menyipitkan mata kirinya. Mata kanannya tertuju pada satu titik, yaitu kepala anak kecil yang bergidik ketakutan dan hampir menangis dipojok ruangan. Jari-jari kecilnya meremas celana pendek katunnya. Kepalanya menunduk, matanya dipejamkan kuat-kuat, rahangnya mengeras. Ia tak mau melihat. Ujung bibir pria itu sedikit terangkat.
“Jangaan!!”, Khalid berlari dan menarik tangan si lelaki bertopi bulat itu, berusaha melawan dan merebut senapannya. Namun tubuhnya terlalu kecil untuk melawan raksasa itu. Yang ia dapatkan malah bogem mentah tepat di pelipis kirinya. Tubuhnya jatuh ke lantai. Tak puas dengan itu, si raksasa pun melayangkan kakinya ke perut Khalid. Ia terlihat sangat kesakitan, tubuhnya melingkar memegangi perutnya. Dan sebelum raksasa itu pergi, ia meludah ke arahnya. Tapi tidak mengenainya.
Farhan serta merta berlari ke arah Khalid. Lalu memeluknya. Sambil meratapi keadaan kakaknya yang terus merintih kesakitan, ia bergumam dalam hati, “Kakak melakukan ini untukku. Kini ia kesakitan karena telah menyelamatkanku. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu terluka, Kak. Aku akan menjagamu. Itu janjiku.”
Selama beberapa hari ia hidup bersama kakaknya. Masih dalam suasana yang sama. Suasana kebengisan, tak berperikemanusiaan, kebencian, dan tanpa belas kasihan. Kakak beradik itu terus berusaha bertahan hidup bagaimana pun caranya. Khalid sering menitipkan Farhan ke rumah-rumah tetangga apabila ia hendak mencari uang untuk makan, biasanya ia menjadi kuli panggul di pasar. Khalid terus berusaha melindungi adik satu-satunya itu. Ketika ia merasa situasi untuk berada di rumah kurang aman, ia juga tidak jarang menginap di rumah tetangga dekatnya. Begitu setiap hari.
Hingga di suatu siang yang mendung, hari yang tidak akan pernah Farhan lupakan seumur hidupnya. Suara dentuman bom menghatam telinga. Tak lama kemudian, sebuah bom meledak tepat didepan rumah mereka. Bom-bom itu dijatuhkan dari pesawat-pesawat yang lalu lalang di atas kepalanya. Seketika bom itu meledak, Khalid dengan sigap memeluk tubuh adiknya erat agar tak sedikitpun puing mengenainya, dan ia pun berhasil. Tak sedikit pun Farhan terluka akibat bom itu, kecuali sedikit goresan di siku karena terlempar sejauh tiga meter dari tempat ia berdiri. Tetapi, tidak dengan kakaknya.
***
Hari semakin sore. Hujan sudah berhenti, hanya meninggalkan jejak tanah dan rumput yang basah, memberitahukan bahwa ia pernah datang. Truk yang membawa rombongan pengungsi Palestina telah memasuki perbatasan ke Lebanon. Farhan menatap wajah lelah lelaki muda yang tertidur lelap disampingnya. Farhan memperkirakan umur Zaid sekitar 16 tahun, karena posturnya kurang lebih almarhum Khalid. Ia pun langsung mengingat kakak laki-lakinya yang sangat ia sayangi itu. Tapi ia harus bisa merelakannya. Ia mengerti bahwa kakaknya tidak mati sia-sia, melainkan mati syahid. Dia tahu kakaknya sedang mengawasi dirinya dari tempat yang damai dan indah saat ini. Kemudian ia memejamkan kedua matanya. Merasakan kekakuan disetiap sendi-sendi tubuhnya.
Ia ingat, beberapa detik setelah kepergian kakaknya, seorang lelaki muda menariknya untuk segera pergi dari reruntuhan rumahnya. Memang keadaan saat itu sangat tidak aman. Bukan hanya satu bom yang meledak, tapi belasan. Hujan telah mencapai klimaks. Lelaki itu mengangkat tubuhnya lalu berlari sejauh mungkin. Dia yang menyelamatkan Farhan dari serangan bom bertubi-tubi itu. Ya, dia adalah Zaid. Lelaki muda berperawakan mirip kakaknya, kulitnya putih, tinggi, agak kurus, dan memiliki lesung pipi di pipi kanannya. Setelah beberapa lama menunggu bantuan datang, Farhan dibawa bersamanya ke truk pengungsi untuk segera ke Tripoli, Lebanon. Farhan berhutang nyawa padanya. Dan ia yakin kakaknya pasti sangat senang bila bertemu dengan Zaid.
Farhan terngiang kalimat terakhir Zaid, “Jangan bersedih. Mulai sekarang, akulah kakakmu.” Kalimat yang pendek dan terdengar biasa. Tapi bagi Farhan itu sangat membahagiakan, karena kini ia tak sendiri lagi. Ia pun bisa merasakan ketulusan di wajah Zaid. Semua yang ada di dalam truk ini adalah korban, tak terkecuali Zaid. Farhan memang belum tahu apa yang telah dialami oleh Zaid, tapi ia sangat senang berada di sisi lelaki yang sebaya kakaknya itu. Kemudian lirih ia berkata, “kau telah menyelamatkan nyawaku. Kini kau pun rela menganggapku adikmu. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu terluka. Aku akan menjaga dan menyayangimu seperti kakakku. Itu janjiku.” Ia sangat sadar, ia seperti sedang mengulang sebuah janji. Janji yang sangat ingin ditepatinya.
Seorang lelaki berbadan tinggi dan agak gemuk yang memakai seragam dinas kemudian berdiri, dan berteriak, “Salaamun ’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh”, Farhan membuka matanya. Lelaki itu melanjutkan kalimatnya setelah reda jawaban dari seisi truk, “insya Allah sekitar 1 jam lagi kita akan sampai di perkemahan Al Badawy. Begitu sampai disana kalian akan diberikan tempat tinggal di perkemahan itu, makanan serta obat-obatan. Dan semoga kita semua selamat sampai tujuan. Amin.”
“Satu jam…”, Farhan menghela napas lalu memejamkan matanya kembali.
Pikirannya melayang kemana-mana. Anak kecil itu harus memaksakan dirinya menjadi dewasa. Terbayang tanah kelahirannya yang sedang direbut oleh orang-orang yang menganggap tanah itu milik mereka. Padahal setiap jengkal bumi ini hanyalah milik Allah SWT. Ia belum bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan di Lebanon, dan lain-lainnya. Bibirnya terus berdzikir, laa haula walaa quwwata illa billah, berulang-ulang. Hingga akhirnya ia tertidur.
Ia memang masih sangat muda, tapi ia berusaha menjadi lelaki yang kuat dan tegar, sesuai dengan pesan terakhir kakaknya. Dia harus berusaha untuk gembira, sesuai dengan nama yang diberikan oleh orang tuanya, Farhan. Masih banyak hal yang bisa ia lakukan dan usahakan. Demi agama dan negaranya. Walau sekarang ia pun tak tahu apa yang akan ia hadapi setelah di pengungsian nanti.
“Farhan, nam. Malam nanti kita akan qiyamul layl bersama pengungsi-pengungsi yang lain, lalu muraja’ah. Kalau tidak tidur sekarang, nanti malam kau akan sulit bangun,” tegur Zaid saat melihat mata belo Farhan masih menerawang ke langit-langit barak, sambil memperbaiki kain selimut pembagian dari camp yang mulai merosot dari dada adik angkatnya itu. Malam itu Farhan bisa merasakan beberapa orang yang masih bicara berbisik-bisik. Ada pula yang masih asyik berdua bersama Allah SWT dalam doa yang amat khusyuk. Lalu Farhan mendengar Zaid membaca Al Mulk, badannya juga dimiringkan ke kanan, ke arah Farhan, serta telapak tangannya yang menjadi alas kepalanya, sesuai dengan kebiasaan Rasulullah SAW sebelum tidur.
Malam ini adalah malam yang paling dingin yang pernah dirasakan Farhan. Mungkin juga beberapa saudaranya yang ada di perkemahan itu. Memang bulan-bulan ini adalah musim dingin, dan sering turun hujan. Jika dikira-kira, temperaturnya mencapai 77oF atau sekitar 15oC. Ini malam pertama yang ia lewati di pengungsian korban penjajahan Zionis, setelah tragedi tragis yang dialaminya siang tadi. Dan ini malam pertama pula ia tidak tidur disamping malaikatnya. Khalid.
Tak ada rasa kantuk di matanya. Tatapannya tertuju pada satu titik di langit-langit barak berwarna hijau tua itu. Barak itu tingginya hanya sekitar 3,5 meter dan sangat luas. Di barak ini mampu menampung sekitar 600 orang. Bahkan total pengungsi di perkemahan Al Badawy disinyalir sekitar 20.000 pengungsi. Mereka tidur berjejer-jejer, serapih mungkin. Barak untuk laki-laki dan perempuan pun tetap terpisah. Hijab tetap terjaga pun karena pengondisian tim SAR Lebanon yang tetap memberikan kebijakan ini dalam keadaan seperti apapun.
Banyak hal yang terbersit di benak Farhan saat itu. Tentang ibunya, kekerasan lelaki-lelaki raksasa, bom dan rudal yang berjatuhan bak dedaun gugur, rumahnya yang kini telah rata dengan tanah, dan yang paling jelas ia bayangkan adalah tentang Khalid. Saat wajah sendu itu menatap lekat matanya, dan berkata, “jadilah lelaki yang kuat dan tegar…” Kata-kata itu terus mengiang di telinga Farhan. Hembusan napasnya pun terasa makin kuat di bibirnya.
“Di dalam darahku mengalir darah Palestina, darah syuhada. Para pemberani yang tangguh dan tak takut akan mati. Jiwa ragaku akan kupersembahkan untuk agama dan negaraku. Demi kemerdekaan saudara-saudariku.” Doktrinnya dalam hati. “Dan aku, akan menjagamu, Kak,” gumamnya pelan seraya menolehkan kepalanya ke arah Zaid yang sudah tertidur, kemudian memejamkan mata.
***
Dua bulan sudah Farhan dan Zaid berada di perkemahan itu. Zaid kini aktif di lembaga yang merupakan cabang dari Hamas. Bergerak di bagian persiapan para mujahid untuk melaju ke gerbang syahid. Zaid bukan hanya pengurusnya, tapi juga salah satu dari mujahid yang akan pergi berperang setelah persiapan selesai. Pagi itu Zaid sedang membereskan pakaian mereka di tenda, dan Farhan sedang mengenakan seragam sekolahnya yang berwarna ungu muda dan celana panjang bahan berwarna biru donker keunguan. Memanggul tas ransel kecil hasil donasi dari pelbagai penjuru dunia, agar para pengungsi tetap dapat menuntut ilmu.
“Yaa Farhan, sore ini mungkin kakak akan pulang agak telat. Makanlah dulu, tak usah menunggu kakak pulang ya.”
“Mm hmm,” sahut Farhan pendek yang masih sibuk menyimpul tali sepatunya. Lagipula, ini bukan pertama kalinya kakaknya pulang lebih larut. Maklum, satu pekan lagi para mujahid baru akan dikirim ke medan jihad.
“Satu lagi, tolong ambilkan makan malam untuk Abu Hazhafah juga ya. Penyakit beliau belum kunjung sembuh. Obatnya ada di dekat kepalanya. Bantu juga beliau meminum obatnya,” pesan kakak.
Farhan memutar kepalanya. Dilihatnya tetangga tidurnya itu masih berselimut, ada sehelai kain basah di dahinya. Kata dokter keliling, beliau menderita thypus. Makanan dari camp memang bukan makanan yang memenuhi kaidah empat sehat lima sempurna. Belum lagi kebersihan sekitar perkemahan dan MCK yang seadanya, membuat lelaki paruh baya itu tak makin sehat. Malah semakin lemah. Lebih parah lagi, tidak sedikit pengungsi yang menderita seperti Abu Hazhafah ini, masih banyak yang menderita penyakit-penyakit kronis lainnya. Seringkali Farhan mendengar beliau batuk-batuk di malam hari. Biasanya tetangga tidur terdekatnya yang langsung menemaninya, Farhan, Khalid, dan tiga orang pemuda yang tidur di sebelah kanannya. Hamzah, ‘Ali, dan Yusuf. Yusuf juga aktivis dan calon mujahid, sama seperti Zaid. Mereka berlima bergantian menjaga Abu Hazhafah yang sedang sakit.
“Fahimtu. Kak, Farhan berangkat sekolah dulu. Assalaamu’alayka,” ditempelkan dahinya ke punggung tangan Zaid.
“Wa’alaykassalaam warahmatullaah wabarakaatuh.”
Di jalan, puluhan anak berstelan sama seperti Farhan memenuhi gang ‘Adn. Hari ini hari yang cukup cerah untuk diawali dengan menuntut ilmu. Gang itu ribut sekali. Beberapa anak sedang membahas pelajaran yang dipelajari kemarin, beberapa bercerita seru tentang mimpinya semalam, ada yang hanya berjalan sambil menunduk, ada yang tertawa, mengantuk, dan lain-lain. Pinggiran gang pun tidak kosong, setiap dua meter ada penjaja makanan kecil, permen, minuman, mainan, kebutuhan sehari-hari, bahan sembako, sampai sapu, wajan dan panci ada yang menjajakan. Memang gang ini cukup lebar untuk pedagang-pedagang seperti mereka. Lagipula, rasanya bukan saat yang buruk untuk berjualan di sekitar camp pengungsian.
“Salam!” sebuah tepukan yang menguapkan lamunan Farhan mendarat di pundak kirinya. “Kayfa haluk?” lanjut tiga makhluk kecil itu hampir bersamaan.
Ia melirik kecil. “Bikhayr.”
Mereka diam sejenak. Canggung.
“Maadzaa waqo’a?” tanya gadis tembem di ujung shaff, sambil sedikit memunculkan kepala bulatnya agak bisa melihat wajah Farhan yang tidak seperti biasanya.
Farhan memandangnya sekilas, lalu mengembalikan pandangannya ke jalan. Ia diam dan tetap berjalan.
“Hei. Wajahmu terlihat murung, kawan. Ceritakanlah pada kami. Ada apa?” masih pertanyaan yang sama, kali ini dari anak laki-laki jangkung di kanan Farhan yang lengan kirinya mulai melingkar di belakang leher Farhan.
Ketiga temannya itu adalah Hasan, Husein, dan Najma. Hasan dan Husein berjalan di sisi kanan dan kiri Farhan, sedang Najma berjalan di sisi kanan Husein. Hasan dan Husein adalah anak kembar, tapi tak seperti anak kembar lainnya, mereka tidak begitu suka memiliki style yang sama. Model rambut, karakter, mereka cukup berbeda. Walaupun begitu, mereka adalah saudara yang sangat akur, jarang sekali bertengkar. Kalau Najma, gadis ini amat sensitif. Mulai dari bisa merasakan apabila ada serangga yang berjalan di atas kerudungnya, sampai bila wajah temannya ada yang berubah. Ia pasti yang paling awal tahu. Seperti saat ini. Mereka bertiga adalah sahabat Farhan di sekolah, sudah sering mereka saling berbagi cerita, sedih maupun senang selama dua bulan di Al Badawy.
Sepanjang jalan Farhan mulai terdesak. Bukan hanya dari teman-temannya, tapi juga desakan dari pikirannya. Akhirnya ia menyerah dan mulai angkat bicara.
“Aku pernah kan bercerita tentang kakak kandungku, kak Khalid?” dipandangi wajah teman-temannya satu persatu.
“Mm hmm…” mereka mengangguk serempak.
“Dulu, aku pernah berjanji akan selalu melindunginya. Tapi janji itu tak terwujud karena ia… Yah, kalian tau.”
Wajah Hasan, Husein dan Najma cukup serius mendengar curhat Farhan kali ini. Mereka mendengarkan dengan seksama.
“Setelah kak Zaid datang menolongku dan mengangkatku menjadi adiknya, aku menyatakan janji yang sama kepadanya seperti janji yang kukatakan pada kak Khalid,” lanjut Farhan. Ia menarik napas panjang, menahannya sejenak, lalu menghembuskannya. “Pekan depan kak Zaid dan rombongan akan berangkat ke Palestina, menjadi mujahid baru di barisan Hamas. Dan aku nggak mau hanya menunggu dan diam disini, hingga mendengar kabarnya dengan dua kemungkinan. Kemerdekaan Palestina, atau mati syahid.”
Hening.
“Lalu, kau mau apa, heh?” Hasan nyengir.
“Aku tidak akan membiarkannya terluka. Dan aku akan berusaha melindunginya. Itu janjiku,” jawab Farhan mantap.
“Apa kamu yakin ingin berangkat jihad juga?” potong Najma.
“Ya. Aku nggak mau hal ini terjadi dua kali di dalam hidupku. Melihat orang yang kusayang syahid, dan aku hanya bisa diam. Paling tidak, aku ingin syahid bersama mereka.”
Tak ada yang bersuara.
“Sebaiknya kau ceritakan pada kak Zaid apa yang kau inginkan, dan kemukakan alasanmu. Beliau pasti mengerti betapa penting jihad itu, dan insya Allah beliau akan mengizinkanmu untuk ikut,” kata Husein bijak.
“Ya, benar kata Husein. Bicarakanlah dulu dengan kak Zaid. Paling tidak, beliau lah yang paling bertanggung jawab atas dirimu saat ini,” imbuh Hasan. Tumben sekali ia bisa bicara bijak seperti kakaknya, Husein.
Farhan merenungi saran-saran dari teman-temannya. Dan bukan saran yang buruk, pikirnya. “Mereka benar, aku harus membicarakan hal ini pada kak Zaid,” hatinya mengiyakan.
Tak terasa mereka telah sampai di sekolah.
“Mari lupakan sejenak yang tadi. Sekarang kita senang-senang dulu di sekolah. Haha…” teriak Hasan ceria.
“Mari…!” sahut Najma sambil menghantam udara diatas dengan kepalan tangan kanannya. Ia tertular Hasan. Mereka semua tertawa, dan berlari menuju ruang kelas.
***
Malam itu, dua hari sebelum keberangkatan rombongan ke Palestina, Farhan mendekati kakak angkatnya di luar tenda yang sedang berbicara sambil minum sesuatu dengan seseorang. Orang itu terlihat asing, Farhan yakin tak pernah melihat orang itu sebelumnya di daerah sini. Pembicaraan mereka juga terlihat sangat serius, dan Zaid terlihat hanya mengangguk-angguk mendengar lelaki itu bicara. Tapi ya sudahlah, pikir Farhan, pembicaraan mereka pun usai saat ia semakin dekat. Lelaki yang tadi berbicara dengan kakaknya juga sudah pergi, sepertinya ia sedang buru-buru.
“’An idznik.”
Kak Zaid menoleh cepat ke arahku. Ia kaget bukan kepalang. “Oh, kau rupanya Farhan. Ada apa?” Napasnya seketika melambat.
Farhan mengernyitkan dahi, “ada hal penting yang ingin Farhan bicarakan, Kak.”
“Hmm… Na’am. Qul.”
“Ini tentang keberangkatan kakak dan rombongan besok lusa ke Palestina.”
Zaid memperhatikan.
“Sebenarnya, Farhan…” kata Farhan ragu-ragu sambil memperbaiki cara ia berdiri. “Jadi, Farhan ingin… Mmm…” ia menunduk sambil sesekali memandang wajah kakaknya.
“Katakan saja Farhan, apa yang kau inginkan?” Zaid menyela dengan lembut. Bahkan ia tersenyum.
Farhan mengaitkan kedua tangannya di belakang punggungnya. “Farhan ingin ikut berperang dengan kakak besok lusa,” Farhan lega bisa mengatakannya. Ia balas tersenyum, lalu memandangi wajah kakaknya yang berubah seketika.
Farhan tak pernah melihat wajah Zaid seperti ini sebelumnya. Mendengar kalimat Farhan, Zaid seperti dijatuhi batu besar ke atas kepalanya. Matanya melotot, rahangnya mengeras. Ia marah. Sangat marah.
“LAA!! TIDAK!!” dibuangnya gelas plastik yang sedari tadi ia pegang itu ke tanah. Farhan tersentak. “Kau tidak boleh ikut! Dan jangan langgar perintah kakak kali ini, atau kakak akan mengikat tangan dan kakimu!!” telunjuknya berada tepat di depan hidung Farhan. “FAHIMHU!!?”
Farhan membeku. Ia ketakutan setengah mati. Tidak pernah ia melihat kakak angkatnya semarah ini. Bahkan ia hampir tidak pernah dimarahi Zaid. Sejauh yang ia kenal, Zaid benar orang yang baik hati, lembut dan penyayang. Memang, walaupun sudah lebih dari dua bulan mereka bersama, Zaid tidak pernah menceritakan tentang keluarga kandungnya kepada Farhan. Bagaimana ayah dan ibunya, berapa saudara-saudaranya, dimana rumahnya, atau apapun yang berkaitan dengan masa lalunya di Palestina. Itulah yang membuat Zaid masih terasa misterius bagi Farhan. Dan saat ini, Farhan benar-benar tidak mengenal siapa lelaki yang ada dihadapannya saat ini.
Bibir Farhan bergetar, ia shock. Suasana menjadi sangat hening. Ia bisa mendengar suara angin berhembus. Mereka bertatapan cukup lama. Sampai Zaid menangkap ketakutan di mata adik angkatnya, serta merta ia memeluk Farhan yang masih terpaku. Dinginnya malam itu tak berefek apapun bagi mereka berdua, suasana hening sesaat, sebelum tangis Zaid memecah kesunyian. Badannya merosot hingga lututnya menempel pada rumput-rumput kering dibawahnya, membuat Farhan mengikuti iramanya dan ikut duduk bersimpuh. Farhan tidak bergeming sedikitpun. Ia tak tahu harus berbuat apa. Bahkan ia tak mengerti apa yang sedang terjadi. Setidaknya, ia memberikan kakaknya waktu untuk memuaskan tangisnya.
Zaid melepaskan pelukannya. Setelah tangisnya reda, ia menyeka air mata dengan tangannya. Wajahnya menengadah ke langit, ditariknya napas dengan kuat kemudian berkata, “berjanjilah padaku kau tidak akan pergi besok lusa bersama kami,” ditatapnya adiknya itu tajam. Tangannya masih berada di kedua pundak adiknya.
Farhan tetap tak bergeming.
“Kau sangat berharga bagi kakak, Farhan,” kata Zaid memberi pengertian.
“Apakah kakak tidak ingin melihatku syahid?” akhirnya Farhan buka mulut.
“Bukan begitu. Hanya saja, jangan besok lusa.”
“Tapi aku ingin pergi bersama kakak.”
“Kau boleh pergi berperang, kapanpun kau mau. Asalkan tidak besok lusa.”
“TAPI AKU INGIN SYAHID BERSAMA KAKAK!” tangan Farhan menebas kedua lengan kakaknya. Ia berdiri, lalu berlari sekuatnya menuju barak. Meninggalkan kakaknya yang masih bersimpuh terpaku di belakangnya.
***
“Aku hanya ingin menepati janjiku,” kilah Farhan kepada ketiga temannya.
“Tapi kau harus menuruti apa kata kakakmu,” Najma menasehati.
“Aduh, ulangan tadi sulit ya… Banyak soal yang tidak kuisi,” Hasan menyesali.
“Hasan, ini bukan saat yang tepat curhat. Farhan sedang dalam masalah saat ini,” gadis itu memukul kepala Hasan dengan pensil di tangannya.
“Aduh, iya iya. Hehe, ayo Farhan, semangat! Ikuti kata hatimu,” berkata sekenanya sambil mengusap-usap kepalanya akibat pensil Najma tadi.
Gang ‘Adn di siang terik itu tak ubahnya pagi hari. Anak-anak sekolah ramai memenuhi jalan. Para pedagang dipinggiran gang juga masih banyak.
Si Bijak Husein tidak bicara apa-apa sejak tadi. Ia mendengarkan, tapi ia terlihat sangat bingung. Akhirnya ia mengungkapkan kerisauannya. “Dari ceritamu itu, aku merasa bahwa kak Zaid terlalu menyayangimu. Tapi yang aku tak mengerti, mengapa beliau tidak mengizinkanmu berjihad bersamanya? Terlebih lagi, beliau pasti tahu keutamaan jihad. Ini sangat aneh…”
Semua diam. Berpikir.
“Hmm… Pokoknya, kau harus menuruti nasehat kakakmu, Farhan. Lagipula, untuk melindungi kakakmu, kau bisa saja kan pergi dengan rombongan mujahid bulan depan kan?!” Najma bersikeras.
“Tidak Najma. Farhan tidak bisa menepati janjinya jika ia tak pergi bersama kak Zaid,” bantah Husein. Sepertinya ia mengerti betapa penting janji ini untuk Farhan.
“Dan lagi…” Farhan menambahkan, “Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kakakku akan hidup hingga bulan depan selain Allah,” gumam Farhan.
Sepanjang perjalanan, tak ada yang membuka mulutnya hingga menuju barak masing-masing.
“Ikuti saja kata hatimu,” teriak Hasan dari kejauhan sambil tersenyum lebar.
Farhan mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya. Di barak, ia tak melihat kakaknya.
“Pasti sedang bersiap-siap,” katanya dalam hati.
***
“Aina Farhan?” tanyanya pada ‘Ali.
“Laa a’rifu,” jawab ‘Ali sambil menggeleng. “Aku tak melihatnya sejak tadi.”
Ia terus berkeliling barak sambil menanyakan keberadaan Farhan, tapi tak ada yang tahu. Sampai ke beberapa barak di dekat baraknya, ia tak juga menemukan adik kesayangannya itu. Ia duduk di barak, peluh memenuhi bajunya.
Hingga malam tiba, ia tak melihat Farhan. Ia sangat sedih. Terakhir kali ia melihat adiknya adalah saat ia pergi sekolah tadi pagi. Tanpa pembicaraan apapun, hanya salam yang diucapkan. Rindunya ia pada sosok lelaki kecil yang mewarnai harinya selama ini. Ia gelisah, tak tidur semalaman. Padahal besok pagi, ia harus ke sekretariat ranting Hamas lalu berangkat ke Palestina.
“Kumohon Farhan, dengarkan nasehat kakak kali ini,” gumamnya.
***
Di tempat lain, di depan sebuah rumah kecil yang masih ramai, Farhan sedang menatap empat buah truk. Pandangannya melucuti setiap sudut truk-truk itu. Banyak pemuda lalu lalang di hadapannya, mereka sedang sibuk mempersiapkan hari esok. Kemudian seorang lelaki menghampirinya.
“Minumlah susu hangat ini,” kata lelaki itu menyodorkan gelas yang masih berasap di tangannya kepada Farhan. Melepas jaketnya lalu memakaikan di kedua pundak anak kecil itu.
“Kak Yusuf, apakah kakakku akan marah jika ia tahu aku disini?” tanyanya pada lelaki yang ada di sampingnya.
“Hmm… Seharusnya tidak. Tidak ada alasan ia melarang seseorang untuk berjihad. Kalau kau memang sudah niat dan mampu, berjihadlah.” Yusuf tersenyum dan kagum karena keberanian Farhan. “Sekarang tidurlah, besok pagi kita akan berangkat. Kau akan kumasukkan ke truk yang dikendarai Zaid, agar kau bisa menepati janjimu,” lanjutnya.
Farhan tersenyum lebar, “jazakallah, kak Yusuf.”
Mereka diam, kemudian Farhan teringat sesuatu dan memecah keheningan. “Apa yang kakak tahu tentang kak Zaid?”
“Zaid,” Yusuf mulai berpikir. “Ia tak banyak bercerita tentang dirinya. Orangnya agak tertutup. Tapi saat perkenalan di sekretariat ini, aku ingat ia bercerita bahwa ia adalah seorang berkebangsaan Mesir. Ia hidup sebatangkara di Palestina, katanya ingin mencari kehidupan baru. Saat itu umurnya sekitar 9 tahun, kurang lebih seperti dirimu. Ia bekerja apapun untuk menyambung hidupnya, sampai saat ini. Zaid memang masih sangat muda, tapi kehidupannya membuatnya seperti telah lama hidup. Sepertinya hanya itu yang aku tahu,” cerita Yusuf.
Farhan mengangguk-angguk. Ia kembali mengarahkan pandangan ke arah truk-truk di depannya, sambil menyeruput susu hangat di tangannya. Tapi pandangannya kosong. Sebuah kalimat yang mengiang di telinganya, ikuti saja kata hatimu! Ia tersenyum.
***
Langkah Zaid pagi itu terasa berat. Ia harus meninggalkan barak, tanpa melihat adiknya. Tapi yang paling penting baginya, dimana pun Farhan saat ini, jangan sampai Farhan berada di truknya. Hanya itu yang ia harapkan. Entah mengapa, setelah bertemu Farhan, ia merasa ia memiliki makna dalam hidup. Sebelum itu, ia merasa hidupnya hampa, bahkan harus mengerjakan hal-hal yang tidak begitu ia sukai.
Saatnya bersiap-siap. Semua orang di sekretariat telah berbenah, saatnya berangkat. Dari empat truk, satu akan diisi bahan pangan dan obat-obatan, satu lagi diisi dengan senjata dan segala amunisi beserta perlengkapan perang lainnya, dan dua truk sisanya diisi para mujahid. Beberapa wanita berada di truk bahan pangan dan obat-obatan. Zaid mengendarai salah satu truk berisi para mujahid. Saat Zaid masuk ke kursi kemudi, Yusuf diam-diam mengantarkan Farhan ke atas truk dari belakang. Lalu Yusuf masuk ke kursi di sebelah kursi kemudi bersama Zaid.
Saat itu, matahari sedang di atas kepala. Mereka telah berjalan cukup jauh, sudah melewati luar batas Tripoli. Truk Zaid berada paling belakang. Dan tiba-tiba mesin truk mati.
“Maadzaa waqo’a yaa akhi?” tanya Yusuf pada Zaid.
“Entahlah,” jawab Zaid mengangkat kedua bahunya sambil terus mencoba menyalakan mesin, tapi tidak menyala juga.
“Aneh. Padahal semalam kita telah melakukan pengecekan mesin, dan semuanya baik-baik saja,” ungkap Yusuf seraya mengeluarkan handy-talky dari kantong celananya.
“Katakan saja pada mereka kita baik-baik saja. Aku akan turun mengecek mesin. Kau beritahukan keadaan kita pada mereka yang di belakang lalu tunggu di dalam truk saja setelah itu. Biar mesin truk ini aku yang urus,” perintah Zaid.
Sekitar 15 menit setelah itu, Zaid kembali ke kursi kemudinya. Kemudian menyalakan mesin. Berhasil, mesin telah menyala. Tapi rombongan yang lain pasti sudah jauh sekali di depan. Lalu truk Zaid berjalan lagi. Yusuf melanjutkan tilawahnya, tanpa melihat Qur’an dan menutup matanya.
Setelah satu juz ia baca, ia membuka matanya. “Yaa Zaid, apa kau yakin dengan jalan ini?” gelisah Yusuf saat melihat sekeliling yang sepertinya bukan jalan yang seharusnya mereka lewati.
“Tenang saja. Aku mengambil rute pendek, aku takut kita tertinggal terlalu jauh.”
“Hmm… Baiklah.” Yusuf masih tak yakin.
Tak lama kemudian. “HEI ZAID! LIHAT APA YANG KAU LAKUKAN? KITA SALAH JALAN!!” Yusuf panik saat menyadari truk mereka benar berjalan di jalan yang salah. Sekarang di hadapan mereka, berjajar puluhan tank dan mobil Zionis Israel serta ratusan tentara yang siap menembaki mereka. Truk mereka berhenti saat mobil-mobil Zionis itu maju mengepung truk mereka.
Seorang berkumis dari mereka yang membawa pengeras suara berkata, “Turunlah kalian semua sialan dari truk itu! Atau aku akan menembaki kalian satu persatu!!”
“Turunlah, dan buka truk dibelakang,” perintah Zaid. Wajahnya datar.
“Tapi…”
“Lakukan saja, tidak ada pilihan! Kita tidak membawa senjata apapun,” potong Zaid sambil mematikan mesin truk.
Yusuf turun dari truk dan membuka bagian belakang truk. Mujahidin di belakang truk itu kaget atas apa yang terjadi. Tapi mereka masih bersemangat. Teriakan-teriakan itu masih ada. Diantara mereka saling menguatkan,
“Ayo saudaraku, kita masih di jalan Allah,” kata lelaki yang satu.
“Tenang saja, innallaha ma’ana. Harus mati saat ini pun, kita semua telah siap. ALLAHU AKBAR!” teriak lelaki bercadar yang lain.
Kepanikan Yusuf memudar seketika melihat saudara-saudaranya masih bersemangat. Sampai ia melihat wajah Farhan diantara mujahidin yang turun dari truk. Farhan tak sedikit pun menunjukkan ketakutan. Malah ia tersenyum.
Ia mendekat pada Yusuf lalu berkata, “saatnya aku menepati janjiku.”
Yusuf tersenyum, lalu membantunya turun dari truk.
Dor! Dor! Dor! Si Kumis yang dari tadi berteriak kali ini menembaki udara dengan pistolnya tiga kali.
“Jangan banyak bicara! Yang masih berbicara, akan ditembak! Cepat berkumpul di depan truk busuk kalian. Jongkok, dan semua tangan di atas kepala. SEKARANG!!”
Farhan melemparkan pandangan ke sekitar kerumunan mujahidin Palestina, mencari obyek yang ingin ia lindungi. Tapi tak ditemukannya. Digumamkannya kata-kata itu, “aku tidak akan membiarkanmu terluka, aku akan melindungimu.” Ia terus mengulang-ulang janjinya. Ia ikut jongkok dan menaruh tangan-tangan kecilnya di atas kepala. Matanya masih seliweran, dimanakah kakak? Ia ingin melindungi kakaknya di detik-detik yang mungkin menjadi detik-detik terakhir para mujahidin itu. Inilah saatnya. Aku akan menepati janjiku, Kak… Dahinya mengeryit, rahangnya mengeras.
Tetapi, tiba-tiba Yusuf berdiri. Ia berteriak dan menunjuk ke arah barisan Zionis, “KEPARAT KAU ZAID!! PENGKHIANAT KAU, BRENGSEK!!!”
Dor! Dor! Dor! Puluhan timah panas menembusi badan Yusuf. Ia syahid seketika. Farhan kaget mendengar kata-kata Yusuf. Dilihatnya arah telunjuk Yusuf tadi menunjuk. Ia melihat Si Kumis, sedang menepuk-nepuk pundak seseorang dan berbicara cukup akrab. Seseorang yang amat sangat ia kenal. Seseorang yang melarangnya ikut berperang hari ini. Orang itu adalah kakaknya sendiri, Zaid. Mata Farhan memerah. Air mukanya berubah drastis. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Napasnya terengah-engah. Teringat malam saat Zaid marah kepadanya, teringat segala masa lalunya bersama Zaid sejak pertama kali ia bertemu.
Dengan segenap keberanian, Ia berdiri, “HEI ZAID!! AKU TIDAK SUDI MENJADI ADIKMU!!!!”
Zaid serta merta membalikkan badannya. Ia mendengar suara yang sangat familiar dari sumber suara itu. Ia kaget setengah mati, itu Farhan! Tapi di saat yang sama, Dor! Dor! Dor! Dor! Jari-jari tentara Zionis itu gatal menarik pelatuknya. Lima detik kemudian, Farhan tergeletak sama seperti Yusuf. Ia syahid. Ruhnya terbang menuju langit, ia disambut hangat oleh kakak kandungnya, Khalid. Sedang Zaid terpaku.
SELESAI
Bandung, 9 Januari 2010
20.04 WIB
Warnet Laa Tahzan