Surat Sahabat

Entah kenapa malam ini aku kangen banget sama seorang sahabatku yang jauh disana. Sudah lama gak kontak lagi memang. Tapi aku tetep kangen banget sama dia. Jujur aku lupa gimana kita bertemu, kenal, berteman, dekat dan seterusnya. Kalo kamu ingat kasitau ya. :) Aku gak tau sekarang gimana kabarnya, semoga baik-baik aja sekeluarga dan selalu mendapat lindungan dan rahmat, kebahagiaan, serta ketentraman dari Allah subhaanahu wa ta’ala. Aamiiin.

Aku merasa dia adalah sahabat yang paling tahu aku, luar dalam. Kami memiliki kebiasaan yang mirip, tapi sifat yang berbeda. Karena itu kami saling melengkapi. Aku kangen ngobrol-ngobrol dan main bareng dia. Walaupun aku tahu keadaan kami saat ini jauh berbeda dengan dulu. Waktu masih SMP… SMA apalagi karena makin kenal. Sekarang mungkin gak ya kita kayak dulu lagi? Ngobrol dan mengisi waktu dengan segala kesenangan dunia, yang gak ada habisnya. Seakan-akan tak pernah puas kita menjalaninya.

Saat-saat itu gak bakal aku lupain. Segala macam masalah yang ia timbulkan akibat apa yang dilakukannya. Begitu pula denganku saat itu. Bermacam masalah yang kuhasilkan akibat perbuatanku juga. Tapi satu hal yang tak pernah kurasakan. Itu adalah perasaan ditinggalkan. Sampai saat ini, entah bagaimanapun keadaannya, aku tahu ia mempedulikanku. Entah kehidupannya jauh lebih sulit mungkin daripada aku, ia tetap memberikan aku sepetak tempat di hatinya. Semoga ketidaksiapannmu tidak menjadikanmu merasa hidupmu sulit.

Ia semakin dewasa sekarang. Jauh daripada ia yang dahulu. Mungkin saat ini sudah melebihiku. Kehidupan telah mengajarinya banyak hal. Mungkin ia pernah gagal. Mungkin ia pernah menyesal. Mungkin ia pernah sedih, sakit, stress, atau apapun yang membuatnya tak nyaman. Tapi ia telah belajar. Aku harap ia benar-benar belajar dan semoga aku juga bisa mempelajari kehidupannya. Betapa tegarnya ia menjadi seorang wanita, seorang anak, seorang teman, dan seorang manusia biasa yang memiliki kesabaran, kekuatan, kemaluan, kelemahan, dan segala keterbatasan yang ada.

Aku sangat menyayangimu, sahabatku. Aku tak tahu apakah lebih dari aku menyayangi diriku sendiri atau tidak. Aku tak mau menggombal. Allah belum mengujiku soal ini. Atau mungkin sudah tapi aku tak sadar? Pernahkah? Bagaimana hasilnya? Tak pedulilah aku. Bagaimanapun hasilnya, yang aku tahu, aku tak pernah ingin meninggalkanmu atas apapun yang menimpamu. Yang membuatmu sedih dan menangis. Atau yang membuatmu ingin mati. Aku tahu aku tak mungkin bisa membayar segala kebaikan darimu selama ini. Tapi aku selalu berusaha menjadi sahabat yang baik, yang kau inginkan, walau tidak sering terjadi kontak fisik, maupun komunikasi rutin via apapun. Kuharap do’a dari hati yang tulus ikhlash, dari hati yang telah menyatu, bisa terus menjadi penyambung tali silaturahim yang tak akan pernah terputus, dan semoga Allah menguatkan pertalian ini. Aamiiin.

Aku menulis surat ini, saudariku. Untukmu, karena aku sangat ingin memelukmu saat ini. Aku ingin memeluk seseorang yang aku tak pernah merasa malu melakukan apapun di depannya. Seseorang yang telah menemaniku berpetualang di kehidupan yang memiliki banyak godaan dan rintangan tentunya. Terkadang ingin mengulang masa lalu, yang tak mungkin terjadi kembali. Masa lalu yang amat… Amat mengajari kita bahwa hidup itu tidak seperti ikan yang berenang di air yang mengalir tenang, melainkan di air dengan yang arus amat deras, menabrak bebatuan, kanan dan kiri. Bahkan tak jarang harus berenang lebih kencang lagi ketika ada predator yang siap memangsa kita – sebut saja masalah besar, antara hidup dan mati, atau antara terhormat dan terhina. Tapi, apakah yang akan kita lakukan jika kita diberi Allah sebuah kesempatan untuk mengulang masa lalu kita? Akankah kita menjalaninya dengan benar, memperbaiki segala kesalahan, dan menjauhi segala kebodohan?

Entahlah, tapi aku tak ingin memperbaiki masa lalu itu. Apapun yang terjadi di hidupku, yang kuinginkan ataupun enggan, yang seharusnya ataupun tidak, yang salah maupun benar… Telah membuatku lebih menghargai hidup ini. Dan akupun ingin kau juga telah menghargai hidupmu. Bahkan mungkin kau telah lebih dahulu melakukannya. Bisa jadi karena kehadiran wajah-wajah baru dalam hidupmu. Karunia yang amat berharga, lebih berharga dari diri sendiri.

Aku tidak menyangka kalau jalan hidup kita akan sebegini bedanya. Walau mungkin suatu hari aku juga akan melakukan hal-hal yang kau lakukan saat ini. Semua telah Allah tentukan agar kita bisa mengambil pelajaran. Semangat saudariku! Semoga Allah telah mencukupkan ujian-ujian kepada kita tentang betapa berharganya hidup yang telah Ia berikan. Karena kita telah mendapatkannya. Alhamdulillah. Hanya ini yang ingin kusampaikan, ketika mata tak bisa menatap, dan tangan tak mampu merangkul. Semoga sedikit banyak bisa mengobati kerinduanku kepada sahabat tersayang. Tetaplah menjadi orang yang kuat dan selalu berjalan lurus di atas agama-Nya. Yaa muqallibal quluub, tsabbit quluubana ‘alaa diinika. Anaa uhibbuki fillah. ^^

Bandung, 6 Juni 2010

10.23 PM

Especially for,

Karina Tri Saraswaty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.