Delayed Gratification

Kita tahu betul bahwa ketika kita meminta, jawaban Tuhan ada tiga macam: “Ya silakan”, “Ini lebih baik”, dan “Tunggu.” Mengapa Tuhan harus memberi pilihan tunggu? Mengapa pilihan jawaban-Nya “Tidak” saja sekalian?! Buat apa menyediakan kata “Tunggu”??

 

Beberapa pekan lalu saya membaca sebuah artikel tentang delayed gratification. Sebuah artikel tentang salah satu teknik parenting di Prancis. Sebenarnya bukan teknik juga, karena mereka (orang di dalam artikel) mengaku bahwa orang-orang Prancis ya melakukan hal tersebut begitu saja tanpa harus dipersiapkan. Sama halnya dengan orang Batak yang kebanyakan berbicara dengan suara berdesibel tinggi, itu bukan suatu hal yang direncanakan apalagi dipaksakan.

 

The Marshmallow Test. Saya pikir banyak yang pernah dengar. Sebuah tes psikologi menarik yang ditujukan pada anak-anak. Sekitar tahun 1960-an Walter Mischel, seorang pakar psikologi, melakukan uji coba dengan menjadikan 653 (enam ratus lima puluh tiga, saya hanya ingin memastikan bahwa saya tidak salah ketik) anak-anak usia 4-5 tahun sebagai objeknya.

 

http://drdeborahserani.blogspot.com/2009/09/marshmallow-test.html

 

Begini cara kerjanya. Anak dibawa masuk ke dalam ruangan, kemudian ia diminta untuk duduk di depan meja yang di atasnya diletakkan sebuah marshmallow dengan manisnya. Aturan mainnya hanya satu dan sederhana, si anak tidak boleh mengambil marshmallow tersebut hingga 15 menit. Jika ia berhasil, maka si anak akan mendapat hadiah satu marshmallow lagi. Sedangkan jika ia gagal, maka ia hanya akan mendapatkan satu marshmallow itu saja. Kemudian sang penguji meninggalkan ruangan tersebut.

 

Ternyata! Dari 653 anak yang diuji, jumlah anak yang berhasil untuk tidak menyentuh marshmallow tersebut selama 15 menit adalah tiga orang. Ya, hanya tiga orang. Anak-anak lainnya tidak mampu menahan diri mereka, dan tingkatannya pun berbeda-beda.  Ada yang langsung meraup marshmallow tersebut seketika sang penguji keluar ruangan, ada yang mampu menahan diri selama lima menit, sepuluh menit, dan lainnya.

 

Dua puluh tahun berselang. Mischel kemudian mendata kembali anak-anak yang dulu pernah mengikuti The Marshmallow Test-nya. Hasilnya adalah semakin lama anak-anak mampu menahan diri untuk tidak mengambil marshmallow tersebut, semakin tinggi pula daya konsentrasi dan logikanya. Dalam hal persahabatan, mereka pun relatif mampu menjaga hubungan dan bertahan di bawah tekanan. They don’t crack under pressure.Sangat menarik!

 

Ketika Walter Mischel memutar ulang video The Marshmallow Test miliknya, ia mendapati bahwa anak-anak yang mampu menahan diri agak lama memiliki kemampuan dalam menghibur diri mereka. Untuk mengalihkan perhatiannya dari marshmallow, ada yang bernyanyi-nyanyi sendiri, ada yang memainkan jari-jemari, atau apapun hal yang dapat mengalihkan perhatian mereka dari si marshmallow. Delaying gratification, suatu hal yang membuat anak-anak di Prancis lebih kalem dan tenang ketimbang anak-anak di Amerika. Budaya ini melekat amat kuat dalam keseharian mereka.

 

Mari kembali ketika Tuhan mengatakan, “Tunggu” pada kita. Dia sedang mengajarkan kita tentang delayed gratification. Bukan hanya tentang menunggu, namun tentang ketegaran, kemampuan menahan diri, self-soothing, dan sebagainya. Dengan segala macam alasan semisal “waktunya belum tepat” atau “diri kita belum pantas” terhadap apa yang kita citakan itu, sesungguhnya kita sedang belajar untuk menenangkan diri sendiri, menahan agar kontrol masih dalam genggaman. Dengan satu catatan, proses pengusahaan cita tersebut masih dan akan terus berlanjut.

 

Saya pikir ada baiknya kita sudah khatam dalam pikiran tentang tiga kalimat ini: “Mintalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan,” [QS Al Mu’min: 60], “Maka bersabarlah kamu dengan kesabaran yang baik,” [QS Al Ma’aarij: 5] dan “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat,” [QS Al Baqarah: 45]. Ayat-ayat ini menguatkan sekaligus menenangkan. Ajaibnya, di saat yang sama ayat-ayat ini mampu membuat kita merasa lemah dan tak berdaya, dengan menyadari bahwa Tuhan seluruh alam sedang memainkan konspirasi-Nya dan kita hanya bisa melakukan satu hal, yakni bertahan.

 

Dalam konstelasi jagad raya yang telah Ia desain sedemikian rupa indahnya, sayapun yakin tak satupun akan Ia biarkan hal menjadi sia-sia. Mungkin kita melihat kerusakan di depan mata kita, namun pada saat itu saya pikir Allaah sedang membedakan. Ya, bagaimana mungkin kita tahu bagaimana itu kebenaran tanpa kesalahan? Bagaimana kita tahu sesuatu tersebut adalah kebaikan tanpa kemungkaran? Dan seterusnya. Di sini, Allaah sedang menyetting agar manusia membaca dan terus mempelajari kehidupannya.

 

Begitu pula ketika cita-cita besarku, cita-cita besarmu, atau cita-cita besar kita semua bersama belum kunjung tiba, mungkin Allaah ingin menaikkan level kita dalam konteksdelayed gratification. Bahwa setiap hal itu ada harganya. Bahwa setiap barang mahal yang kita dapat adalah sulit meraihnya, dan bahwa setiap barang murah yang kita miliki adalah tanpa peluh sebesar zarrah pun. Jika memang hal ini kita temui berbeda, tak lain hal tersebut adalah karena kasih sayang-Nya semata.

 

Lebih dari itu, delayed gratification adalah sebuah seni. Seni menikmati karunia di tingkat terbaiknya, di saat tertepatnya, dalam keadaan terbenarnya, dan seterusnya. Delayed gratification menjadikan makanan lebih lezat ketika memasuki perut yang lapar atau juga membuat tidur lebih nyenyak ketika selimut malam menyergap lelah raga. Seni ini tentang mengolah rasa, tentang penyembuhan diri, agar tak terjerat nafsu semu dan bisik-bisik ketidaksabaran.

 

Maka nikmatilah waktu-waktu menunggu dengan membaca detik-detik yang menjalar pelan ataupun yang terburu, dan reguklah hikmah yang menggantung rendah ataupun yang terbalut malu-malu.

About life, growth, and be a better person…

Yes, we have challenges in life. So does everybody. Life is changing and changing. You have to keep speeding up to chase your developments and goals. No excuse for being constant. Even the Earth never stops turning around, right? Le temps qui compte est toujours compte, the time that counts is always count. It’s a race between YOU and the TIME.

In our ways to obtain developments, things are often not going the way we wish. It happens really often. Because what? Because it’s life, c’est la vie. And do you know that actually, the growth point is here: in how we react to the surroundings. In life, our action is below 10%, and the rest is reaction. So, it is important to understand that your growth is not really about your goals, but more to how to achieve them. It’s the process. And how to make things work with the process? It depends on your goals, for sure. Thus, the STRONGEST people are not the smartest, nor the quickest, nor the nicest, but they are people who can ADAPT WELL to any kind of changings.

Sometimes we got problem regarding to the environment’s changing. Well, but let me remind you that a problem is NOT a problem, unless you put it as a problem indeed. Then you maybe will ask, “what should I do when I’m facing something that POTENTIALLY can be a problem?” Yes, good question. Then my answer is, “to find more information and evidence.” See things from different angles, in different situation and condition. The easiest way is to talk to people, to get more perspective and insight. We never know where the hidayah will come from. Also you should have special time to think, a contemplation. Of course you can always pray and ask for direction to Allaah. Here my point is, you have to understand that problem is just something that we HAVE NOT REVEALED YET. Keep trying to find more, before you get confused or even get lost. We call something is a problem because we don’t know yet the answer, right? Because we are lack of information and so evidence.

The other important thing is to distinguish the needs and the desires. It is usual when you have a lot of things you really crave to know or do. It’s normal, because we’re human. But as a human, we have constraints as well. Either it is time, energy, focus, or anything. That is why we need to sort our priorities, which one is the need and which one is the desire. Unfortunately, you can’t grab it all. I have to say that you can’t get all of you needs and desires. Trust me. What you will get are only partially things, or even nothing at all. Define what you are good at, explore it to the maximum, and reach the top. There’s nothing wrong with a politician who doesn’t know how to derive the polynomial equations, and vice versa. But I’m not saying that you don’t NEED things you are not DESIRED at. You can’t keep avoiding your sight or hearing of them. For instance, an engineer or a scientist who doesn’t have any DESIRE to politics, may NEED to know about politics in certain condition.

The last one is: me and them (societies you are affiliated with; could be your family, friends, organization, or company). Here, the first keyword is INTEREST. You and your world have your own interests. They and their world also have their own interests. It is a good news when both interests can work in synergy. We have nothing to discuss with it, because I know you can handle that. But how if both are running in different ways? The requirement is to get to know both interests, why you want to go the A street and why they want to go the B street. When you have this situation, you have to consider both. Sure. Why? Because we don’t live this world alone. Because we need them, and so they need us. Try to understand. If you can’t, at least try to respect. First thing first is to communicate, the proper and the right way. A lot of people failed in this communicating thing. It’s a must to have an effective discussion, to have comprehensive understanding. For example when you’re doing your final assignment (TA), you have to discuss with your partner or your lecturers. Open your mind to what they have in mind, and make your points clear so that they can understand your thoughts. Communication is important, unless you are one of the X-men mutant who can read minds.

After the things are clear, the second keypoint is BENEFIT. Every human wants benefit, who doesn’t? The best men are people with immense benefit, Rasulullaah told us. Please consider which of your actions can obtain immense benefit. Not only the quantity, but also the quality. Give much, and you will get much. Still, it depends on the situation. There are dependent and independent variables. Your mission is to control the dependent variables, so that they can suit the independent variables. You named it, you know it better. Make your plan, and be consistent to it. Let me tell you that perhaps it will count failure, but it is not important. What’s important is the try-and-try-again. Along with defining the interests and benefits, the third keypoint is VALUE. Definitely. The third one is actually the main point. Those interests or benefits will be NOTHING without the right value. The value can be based on Islam or ethical values in life. It’s the spirit of your actions, so you must have and stick on it. Oh yes, one additional thing. If you want to go fast, go alone. If you want to go big, go together. Just keep these words as bonus.

To make it clearer, let’s take a very simple example. Maybe one of you will ask, “why should teh Ratna write this in English?” Ok. Let’s start. (1) Do you think it’s a PROBLEM? Never ever mention a problem too early. You will count it as a problem if you can’t translate or understand this writing in a whole. So why don’t you go to Google Translate or dictionary or ask people to understand this writing? After you understand, will you still put it as a problem? No. (2) Do you NEED this writing in English? Or do you DESIRE this writing in Indonesian? English has been a worldwide language. You will be a mom who will teach your kids or/and you will be a professional who will interact with your international colleagues. Perhaps you don’t desire, but anyway you need it. At least if you want to know what this writing is all about. (3) Do you have any INTEREST to read it in English? If you don’t, I will communicate it that I have my interest to write it in English. Maybe to enhance my ability or I feel more comfortable this way. Can you accept or just respect to it? If yes, it’s okay. If no, you can close this page. Hey, I’am not joking. Quit is an option and sometimes can be a good option within right considerations. Next, do you get the benefit of reading it in English? If yes, alhamdulillaah. If no, you should think again. And the last, what’s the value of this English writing? My value is only one, learning. Does it opposite yours? Everyone is growing by learning. I hope you’re still a human.

Well, it’s just a sharing. I can be wrong and you may have different thoughts anyway. You can correct me as well. It’s always okay.

What is A Green Building?

Apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar green building atau bangunan hijau? Asosiasi bangunan hijau sebagai bangunan sehat, ramah lingkungan, dan hemat energi adalah beberapa jawaban yang kerap muncul. Namun, hal yang lebih penting untuk dipahami, yang menjadi akar dari poin-poin di atas, adalah konsep darigreen itu sendiri, yakni keberlanjutan atau sustainability.

 

Konsep Bangunan Hijau

Kita sudah cukup familiar dengan istilah pemanasan global, climate change, dan sebagainya. Istilah-istilah ini digunakan untuk menggambarkan fenomena yang berakumulasi dan kemudian melahirkan perubahan-perubahan yang cukup signifikan. Green House Gases (GHG) yang dalam hal ini menjadi kambing hitam pun sebenarnya diakibatkan oleh konsumsi manusia dari sistem-sistem pembakaran maupun refrigerasi yang digunakan sehari-hari. Pertumbuhan populasi, perkembangan pembangunan, dan gaya hidup manusia yang menyertainya menuntut Bumi “bekerja lebih keras”.

Perkembangan pembangunan ini dapat ditinjau salah satunya dengan memantau ecological footprint rate. Saat ini, kita—tentu saja– memiliki satu buah Bumi. Namun, laju aktivitas manusia dalam memberdayakan Bumi telah melebihi kapasitas Bumi tersebut tumbuh, yakni 1,4 Bumi di tahun 2011. Negara yang memilikiecological footprint rate tertinggi adalah United States, dengan rate aktivitas manusia yang membutuhkan hingga 5 Bumi.

Parameter lain untuk memahami dampak perkembangan manusia dan pembangunan adalah dari urban age rate, yakni persentase yang menunjukkan jumlah manusia yang menempati daerah urban (perkotaan) tertentu. Di Indonesia, angka urban age pada tahun 1990 masih berada pada angka 10%, yang kemudian meningkat hingga angka 50% di tahun 2008, dan diprediksi akan mencapai angka 75% pada tahun 2050. Angka ini bukan hanya menunjukkan akibat perpindahan manusia dari desa ke kota, namun juga akibat perubahan karakteristik desa yang bertransformasi sehingga memiliki karakter-karakter kota.

Tidak mungkin bagi kita untuk memiliki wilayah dengan fungsi yang tidak seimbang. Kita tahu bahwa karakteristik desa maupun kota adalah sesuai dengan fungsinya. Maka, apabila ketidakseimbangan ini kian memuncak, akan ada fungsi desa yang lenyap, begitupun dampak dari kehidupan perkotaan yang berlebih. Konsep berpikir jangka panjang mengenai fenomena-fenomena yang berakumulasi inilah yang menjadi dasar konsep green, yakni keberlanjutan atau sustainability.

Jadi mari kita luruskan pemahaman yang diversif mengenai green. Ketika kamu mendengar kata green, yang terbayang kini mestinya adalah suatu keberlanjutan atau sustainability dari obyek tersebut, baik terhadap objek itu sendiri maupun terhadap lingkungannya. Manusia sudah selayaknya sadar bahwa kita harus meninggalkan Bumi dalam keadaan layak huni untuk keturunan kita. Sehingga satu-satunya cara untuk melakukannya adalah dengan menjaga Bumi dari kemampuannya untuk terus hidup, tumbuh, serta mencukupi kebutuhan dan perkembangan generasi-generasi saat ini dan mendatang (sustainable).

Sertifikasi Bangunan Hijau

Memahami konsep yang menjadi dasar pemikiran maupun perilaku green adalah penting, untuk menghilangkan paradoks maupun multitafsir mengenai aktivitas-aktivitas yang berembel-embel green. Oleh karenanya, 77 negara di dunia kini telah memiliki Konsil Bangunan Hijau-nya masing-masing. Sebagai contoh di Indonesia konsil itu bernama Green Building Council Indonesia (GCBI) yang berfungsi sebagai badan yang berhak mengeluarkan sertifikasi bangunan hijau sesuai rating tools yang telah disusun a la Indonesia.

Tiap-tiap negara memiliki rating tools yang berbeda-beda dengan nama yang berbeda-beda pula. Di Indonesia, rating tools itu bernama Greenship, bernama LEED di United States, bernama Green Mark di Singapura, bernama BREEAM di United Kingdom, bernama CASBEE di Jepang, dan sebagainya. Meski standar-standar teknisnya kebanyakan mengacu pada standar nasional di negara itu sendiri ataupun standar internasional seperti ASHRAE, ANSI, atau IESNA. Konsil-konsil ini tergabung dalam World Green Building Council untuk terus mengembangkan penelitian, juga membumikan konsep green building. Masing-masing negara hanya diperbolehkan memiliki satu konsil bangunan hijau ini.

 

 

 

 

 

 

 

Sertifikasi dilakukan berdasarkan jenis bangunan, ada bangunan baru, bangunan eksisting, ruang interior,data centre, exhibition hall, dan sebagainya. Adapun sertifikasi ini dapat diraih dalam level-level yang berbeda dan bertahan dalam jangka waktu tiga tahun untuk Greenship. Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa bangunan yang telah disertifikasi sebagai bangunan hijau, baik dalam tahap design recognitionmaupun final assessment, antara lain: Menara BCA, PT Dahana, Gedung Menteri Kementerian PU, dan Rasuna Tower.

Implementasi Bangunan Hijau di Indonesia

Kini dan nanti, tren bangunan hijau masih dan diprediksi akan terus meningkat. Berbagai developer maupun pemilik gedung melakukan sertifikasi dengan tujuan efisiensi energi dan air, meningkatkan kualitas kesehatan dan kenyamanan, hingga pemasaran bangunan. Kesadaran tentang kesehatan bangunan mestinya menjadi perhatian karena manusia menghabiskan sebagian besar waktu yang mereka miliki dalam bangunan. Mau tidak mau, kampanye maupun regulasi untuk meningkatkan kesadaran ini sangat dibutuhkan dalam menyosialisasikan dan menaikkan demand bangunan hijau.

Pengeluaran awal (capital expenditure) bangunan hijau memang lebih tinggi ketimbang bangunan pada umumnya, namun memiliki pengeluaran operasional (operational expenditure) yang relatif amat rendah. Hal ini yang masih menjadi pertimbangan pemilik bangunan dalam melakukan sertifikasi. Belum lagi biaya sertifikasi itu sendiri yang tidak murah. Rata-rata waktu Return on Investment (RoI) yang dibutuhkan untuk menyamai bangunan biasa adalah 8,5 tahun. Oleh karenanya, investasi ini mesti dihitung dengan benar dan disertai strategi implementasi yang smart agar berjalan efektif dan efisien. Di sinilah peran utama green teamdalam menjalankan proyek bangunan hijau.

RoI selama 8,5 tahun ini tidak terjadi di negara-negara lain yang mematok harga listrik tidak serendah Indonesia. Salah satu belanja operasional bangunan terbesar adalah energi listrik. Jika harga listrik masih murah, maka hal ini dapat menjadi suatu hambatan bagi implementasi bangunan hijau ataupun energi terbarukan seperti yang terjadi kini. Sebagai informasi, harga listrik yang dibebankan pada pelanggan PLN adalah Rp 1000/kWh. Padahal PLN membutuhkan biaya sekitar Rp 1200/kWh untuk menghasilkan listrik di pulau Jawa-Sumatera, dan Rp 2200-2300/kWh di luar kedua pulau tersebut.

Kesimpulan

Konsep green telah akrab dengan masyarakat dan bangunan hijau sendiri akan berkembang seiring waktu serta diprediksi akan menjamur di masa mendatang. Kesadaran akan bangunan hijau meningkatkan permintaan (demand) masyarakat pada developer maupun penggiat bangunan hijau untuk terus mengembangkan bidang ini. Dengan pembangunan yang kian meningkat, pemerintah mesti menunjukkan dukungannya dalam bentuk regulasi, baik berupa reward maupun punishment yang tegas. Perpaduan antara implementasi dan penjagaan pembangunan dalam koridor sustainability ini akan melahirkan kenyamanan dan kebaikan bagi masyarakat. Sehingga pada gilirannya, akan tercipta suatu lingkup manfaat yang makin lama makin besar. Keberadaan green building akan meluas menjadi green district, green city, bahkan green nation, dan secara menyeluruh menciptakan green atau sustainable living; menjaga Bumi agar layak huni bagi anak-cucu kita kelak.

“We do not inherit the earth from our ancestor. And we do not buy it from our parents. But we borrow it from our children.” – Antoine de Saint-Exupery

*tulisan ini juga dipublish di: http://wp.forumindonesiamuda.org/2014/01/bangunan-hijau-untuk-anak-cucu/

From Krypton To Earth

Udah pada nonton Man of Steel alias Superman terbaru? Well, sebenarnya saya ga inget cerita film-film Superman yang sebelumnya dan apakah mereka sekuensial. Tapi film ini cukup bagus dan inspiring. It’s recommended to watch. Ga bermaksud spoiler buat yang belum nonton, hehe.. Just please let me share something about this.😉

(http://ggjournal.com/2013/06/10/monday-briefing-man-of-steel-and-atlantis/)

Di film Superman yang terbaru, Kal-El (nama Krypton Clark Kent) merupakan seorang keturunan murni ras Krypton yang kita tahu merupakan ras yang wow. Kal-El “diinjeksikan” lagi oleh Ayah dan Ibunya dengan kekuatan Codex yang merupakan kumpulan sel-sel keturunan Krypton yang membuatnya makin kuat lagi. Simply, Kal-El adalah seorang yang amat sakti mandraguna sejak lahir dan dapat dipastikan pula ia akan menjadi seorang dewasa yang kuat.

Nyatanya, ketika Kal-El bayi terpaksa dilayarkan ke Bumi dan dibesarkan oleh orang tua barunya, ia menjadi seorang yang sangat lemah. Saat bayi, ia tak bisa bernapas dengan normal. Setiap malam ia kesulitan bernapas dan seperti enggan hidup. Begitu pula ketika Kal-El beranjak remaja, ia tidak mampu menguasai dirinya sehingga kekuatannya seketika adalah kelemahannya. Ini pun mengakibatkan bullying berkepanjangan dari teman-teman sekolahnya.

Beruntung, Clark Kent memiliki seorang Ayah dan Ibu di Bumi yang amat bijaksana. Terutama, mengajarkannya untuk bersabar, fokus pada tujuan, dan mengatur kekuatan yang berlebihan dalam dirinya. Bertahun-tahun upayanya untuk menjadi makhluk Bumi begitu payah. Bahkan seorang superpower bernama Kal-El butuh 31 tahun untuk benar-benar menguasai dirinya.

Setelah ia mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menghantui sepanjang hidupnya, ia sadar bahwa ia benar-benar bisa mengarahkan dirinya. Hingga Kal-El dewasa pun dapat menstabilkan kekuatannya. Dalam film tersebut, kita dapat melihat adegan Superman yang belajar terbang! Terbang dengan stabil dan mampu diarahkannya. Hmm, even a Superman learns to fly…

Secara sederhana, saya pikir ada benang merah yang menarik dari rangkaian cerita di atas. Bisa jadi kita amat superpower di suatu area, namun kita ternyata bisa tidak berdaya sama sekali jika tidak di area tersebut. Hal yang menarik adalah ketidakberdayaan itu terjadi bukan karena kekuatan kita yang menjadi tidak ada, tapi hal-hal lain di area tersebut yang membuat kita lumpuh.

Let say selama ini kamu di kampus adalah seorang yang dikenal, disegani, dan mungkin powerful. Setelah lulus, episode kehidupan baru dimulai. Masuklah kepada scene-scene yang amat baru, bahkan tidak terduga. Akankah kamu tetap dapat berlenggak-lenggok seperti saat kamu di kampus? Di saat keadaan begitu nyaman, segalanya under control, berani idealis, bahkan berteriak memaki mereka –orang ataupun sistem– yang menurutmu tidak berjalan semestinya.

Lalu saya kembali menatap diri dan bertanya, “Kamu harus keluar Bumi sekarang. Kesempatanmu untuk berlatih lebih keras dan menghajar monster-monster di luar angkasa sudah menunggu untuk diambil. Memang Bumi memerlukanmu, tapi yakinlah bahwa kekuatanmu terlalu besar untuk hanya menaklukkan monster-monster Bumi. Siapkah kamu terbang dan berpindah ke planet antah-berantah?”

I just faced this kind of situation and I was totally scared. For God sake, I’m not lying. Then I took a walk to throw this stress away, for an hour. A lot of worries were haunting my mind. A plenty of what-ifs did stuck in this head. Finally I got better with a question of, “what is the thing that obviously scared me now?” Yes, you’re right. There is none. Because all I need is to adapt, and to get to know what I do not know now. That simple. Because when I know about my new planet, I think no need to worry then.

As we watched in the movie, Clark Kent dibantu oleh kedua orang tuanya yang superbijak untuk mempelajari Bumi, serta menghadapi manusia-manusia di dalamnya. Mengenal Bumi dan perilakunya, kemudian menyesuaikan segalanya dengan apa yang dimiliki Clark. Dilengkapi oleh kehadiran Lois Lane yang membuat Clark semakin percaya diri karena kepercayaan yang diberi oleh orang-orang terdekatnya dan tahu benar kemampuannya. Akhirnya, khatamlah cerita Superman ini ketika ia mampu menguasai dirinya, mengoptimalkan kekuatannya, hingga berhasil menumbangkan musuhnya.

 

Sebuah pertanyaan tertinggal: Masa sih seorang Superman pernah takut dan khawatir terhadap dirinya? Bukankah dia superpower?

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allaah,” kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak (pula) bersedih hati.” (QS. Al Ahqoof [46]: 13)

 

Alhamdulillaah… Beberapa waktu lalu saya mendapat taushiyah dari seorang teman yang ia dapat dari seorang ustadz tentang sebuah kalimat yang tersemat dalam ayat di atas. Pun dalam ayat lain yang mengandung kalimat serupa. Al Khouf, seperti yang kita tahu sebagai ‘ketakutan’ atau ‘kekhawatiran’, sebenarnya ada dua jenis.

Pertama, ketakutan yang datang dari diri sendiri. Misalnya ketika kita masih kecil dan sedang berada dalam pelukan ibu malam hari di rumah, seketika listrik padam. Pasti saat itu si anak kecil akan amat ketakutan, padahal sudah jelas tidak ada hal membahayakan atau yang membuat kita takut. Ditambah, dalam pelukan ibu. Ini ketakutan yang berasal dari dalam diri sendiri.

Kedua, ketakutan yang sumbernya dari luar diri kita. Misalnya ketika melihat seekor kecoa terbang di dekat kita, pasti kita (atau mungkin saya dan beberapa orang sejenis) akan ketakutan setengah mati. Atau ketakutan-ketakutan lain yang sumbernya jelas. Ketakutan yang kedua ini adalah ketakutan yang berasal dari luar diri kita.

Nah, yang Allaah jamin hilang dalam potongan ayat di atas adalah ketakutan yang kedua. Ketakutan dari luar diri kita. Jadi, wajar ketika kita merasa takut dalam suatu situasi dan mungkin dalam keadaan ruhiyah yang baik sekalipun. Well, even a Superman was. Hal yang perlu kita kenali adalah sumber ketakutan tersebut. Periksa betul dari mana datangnya, sehingga kita bisa men-treatment dengan benar. Kita akan segera menjawab ketakutan tersebut dengan fokus pada kekuatan dan mengarahkan kekuatan tersebut.

 

Sebuah kutipan inspiratif dari Amelia Mignonette Thermopolis Renaldi, the Princess of Genovia (film Princess Diaries), “Courage is not the absence of fear, but rather the judgment that something is more important than fear. The brave may not live forever, but the cautious do not live at all.” Yes, there is something more. Kata seorang teman, that something more is kemaslahatan yang besar, luas, dan panjang untuk ummat. Mintalah petunjuk kepada Allaah, then break your limit!

Thus my dear friends, keluar dari planet Kampus yang nyaman ini adalah keniscayaan. When we’re about to face a new planet, it may scared us. So I was. Jika alasan ketakutan itu jelas, maka solusikanlah segera dengan jelas juga. Sedangkan ketika ketakutan kita ga jelas dan terasa tak tersolusikan, curigailah sebenarnya alasan ketakutan itu sebenarnya ga pernah valid. Karena ketakutan itu kita yang mengada-adakan. Berhentilah berkata what if, mulailah segalanya dengan I believe.

Semoga ketakutan apapun itu akan segera hilang tersedot black hole dengan sebuah mantra: “don’t act like you don’t have Allaah.” It usually works. And thanks to Warner Bros for making this movie anyway. Wallaahu a’lam.

Mantan Orang Sholeh

“Duh gimana dong, gue udah gak sholeh lagi nih…”

Well, kalimat ini beberapa kali saya dengar dari teman-teman yang sudah lulus, bahkan saya sendiri pernah sempat mengatakannya. Awalnya karena mengikuti jalan cerita sang penutur alur, kalimat ini terdengar pas-pas saja dengan fakta. Namun ketika saya sedikit memikirkan kalimat ini lebih dalam, berusaha memandirikan kalimat tersebut dan membreakdown sekenanya, saya pikir kalimat ini agak… Mmm entahlah, mungkin kamu bisa bantu saya mendefinisikannya.

Dulu, ketika di kampus, kehidupan seperti lapangan yang dipenuhi ranjau amanah. Geser kiri dikit, amanah. Guling-guling kanan banyak, amanah. Koprol ke depan, eh amanah juga.

Dulu, ketika di kampus, mau rapat? Salman. Syuro? Salman. Janjian makan? Sekitar salman. Mau bayar utang? Depan tempat sepatu salman juga.

Dulu, ketika di kampus, jam enam pagi ngapain ke kampus? Syuro. Sebelum makan siang mau kemana? Ngementor. Weekend sibuk apa? Liqo dan tatsqif. Libur panjang ada apa? Dauroh.

 

Kini?

Gue sibuk, weekday kerja, weekend capek. Akhirnya, tilawah menipis.

Gue ada survei keluar kota, pulangnya pasti capek beut. Akhirnya, jarang QL.

Gue besok meeting sama klien di Ibukota, berangkat mesti pagi-pagi banget. Akhirnya, dhuha pun lost.

…dan-se-ba-gai-nya.

 

Imam Hasan Al Banna mengatakan, “Adapun tingkatan amal yang dituntut dari seorang al akh yang tulus adalah perbaikan diri sendiri, sehingga ia menjadi orang yang kuat fisiknya, kokoh akhlaknya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupan, selamat aqidahnya, benar ibadahnya, pejuang bagi dirinya sendiri, penuh perhatian akan waktunya, rapi urusannya, dan bermanfaat bagi orang lain. Itu semua harus dimiliki oleh masing-masing al akh.”

Ya kawan, beberapa dari kita mulai merasa bahwa the life has changed significantly. Hal yang biasa kita lakukan di kampus, hampir gak dilakukan lagi. Bahkan kalau bisa, “eh deka, jangan deket-deket gue dong…!”

Lupa atau ingat, sadar ataupun tidak, nahnu du’aat qobla kulli syai’in. Bagi Allaah, kita tetaplah agen-agen-Nya yang siap menyebarkan kebenaran dan kebaikan. No matter how you doin’ now. Kuliah, riset, kerja, freelance, NGO, LSM, dan lainnya, kita masih da’i dan akan tetap selalu menjadi seorang da’i hingga pertanggungjawaban kita sebagai da’i di hadapan-Nya lunas nas nas nas!

Memang bukan berarti harus da’wah di kampus, atau harus syuro di Salman untuk menganggap diri ini masih sholeh. Saya pikir, standar sholeh di lingkungan aktivitas baru sangat mungkin berbeda, levelnya beda, tantangannya beda. Dan di lingkungan baru itu, kita tetaplah da’i, hey!

Harus kita sadari, da’wah ini akan tetap melaju, bahkan semakin kencang menuju kepada kejayaan Islam, dengan atau tanpa kita. Ya, dengan atau TANPA KITA, semakin hari Islam semakin dekat dengan kejayaan yang telah Allaah janjikan. Justru, kitalah yang membutuhkan da’wah.

Jadi logikanya, kita boleh berpikir kalau diri kita “udah gak sholeh lagi”, tapi “udah bukan da’i lagi” itu gak akan pernah terjadi. Dan seorang da’i merupakan teladan bagi (da’i) yang lain. Dapatkah seorang yang tidak baik (tidak sholeh) dijadikan teladan? Maka, yuk bareng-bareng berusaha untuk tetap sholeh bahkan lebih sholeh untuk menjadi da’i yang berkualitas. Da’wah memang bukan segalanya, namun segala bisa menjadi tak berguna apabila kita tidak niatkan untuk berda’wah.

Suatu saat nanti, jika kita bertemu kembali sebagai seorang engineer, saintis, entrepreneur, politikus, dosen, dan sebagainya… Sebenarnya saat itu saya sedang bertemu dengan seorang da’i yang berkecimpung sebagai seorang engineer, saintis, entrepreneur, politikus, dosen, dan sebagainya pula. Maka, jagalah status da’i-mu selagi mengejar status-status baru lainnya. Status-status itu tidak saling mengganti, namun saling melengkapi.

 

Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus, maka setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh akan menyesali dirinya karena ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah. – Komitmen Da’i Sejati, Muhammad Abduh

 

Status mahasiswa boleh hilang, tapi status da’i kita bawa mati, kawan!

 

*tulisan ini juga dipublish di Islampos: http://www.islampos.com/lagi-lagi-mantan-orang-sholeh-70070/

Mengenang Wafa

Kami membereskan perlengkapan pribadi dan medis kami masing-masing yang akan kami bawa serta menuju Jalur Gaza. Satu persatu bawaan kami masukkan ke dalam sebuah mobil van berwarna putih. Di bagian samping van itu bertuliskan sebuah nama organisasi tempat kami berafiliasi, Bulan Sabit Merah Indonesia.

Pagi ini terasa seperti pagi-pagi biasanya, meski sebenarnya panggilan pagi ini tergolong panggilan darurat. Mungkin batas stres kami sudah terlalu kabur—karena sehari-hari kejadian mengerikan berlangsung tepat di depan mata kami dan juga dalam sepekan ini ada beberapa panggilan darurat—sehingga kami tak mampu lagi membedakan keadaan sangat genting atau cukup genting. Hal yang pasti adalah segera bergerak sesigap-sigapnya.

“Dimas kenapa ngelamun? Kamu sehat? Lihat Vina, gak?” tanyaku pada salah satu anggota tim cepat tanggap kami.

“Mmm, aku gak apa-apa Gi. Kayaknya dia lagi di barak deh, tadi aku lihat dia jalan cepat gitu ke arah sana,” Dimas menjelaskan dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah barak pengungsi.

“Ah, lagi…” pikirku. Aku melempar senyum pada Dimas, “Oke, aku panggil Vina dulu ya, terus kita langsung berangkat.”

Kutelusuri jalan selebar empat manusia yang menjadi jalan utama kamp tempat kami menetap sementara di dekat Ramallah, tepatnya di kamp Al-Amari. Aku mencari-cari sesosok gadis muda sahabat sejak SMA, sekitar delapan tahun silam. Sedikit lagi aku sampai pada barak keluarga yang kutuju, namun seorang gadis berjilbab ungu muda cerah telah dulu berlari kecil ke arahku.

Ia benar-benar hampir menabrakku. “Hei Gi, ada apa? Yuk yuk berangkat!” Tangan kirinya menepuk pundakku. Ia mencoba tersenyum sambil mengatur napas.

Aku memiringkan kepalaku sedikit untuk melihat pandangan di belakang punggung Vina. Sebegitu cepat pula responnya untuk menggeser tubuhnya dan memamerkan senyum lebarnya padaku, “Giyaaa, gak ada apa-apa kaliii. Tadi aku cuma mengantar jus buah ke keluarga Idris. Hehehe…” Gadis koleris yang ceria ini berhasil memutar tubuhku dan kami pun bergerak menuju van, kami sama-sama tahu harus segera berangkat.

Vina, Aku, Rico, Dimas, dan Syihan sudah lengkap dengan jubah putih dokter kami dan masuk ke dalam van. Kami mengecek ulang semua barang-barang. Vina adalah ketua kelompok aksi cepat tanggap Bulan Sabit Merah Indonesia. Seorang gadis yang sangat bersemangat dan mampu menjaga kewarasan kami ketika banyak sekali tekanan yang kami dapatkan baik dari pasien kami, para pejuang atau mujahid, ataupun dari kondisi lapangan yang begitu sulit diprediksi.

“Akhir-akhir ini aku sering melihatmu mengunjungi keluarga Idris. Ada apa sih? Kok gak pernah cerita-cerita?” Tanyaku sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada, pura-pura merajuk agar ia mau membagi isi kepalanya.

Ia tertawa kecil. “Haha. Gak ada apa-apa kok… Beberapa hari yang lalu, waktu aku mengunjungi barak-barak pengungsi, aku terjebak dalam obrolan dengan keluarga Idris. Kami mengobrol tentang anak perempuan keluarga Idris yang meninggal tujuh tahun lalu.”

“Oh… Innalillaahi wa inna ilayhi raaji’uun… Memangnya ada apa dengan anak perempuannya?” Aku menjadi sedikit ingin tahu.

“Ia sama seperti kita dulu, seorang perempuan relawan medis Palestina. Ia benar-benar seseorang yang sangat menginspirasi…”

“Hmm, apakah ia meninggal saat perang berlangsung?” Rasa ingin tahuku dijawab singkat oleh Vina dengan sebuah anggukan kecil dan pandangan yang agak menerawang. “Menjadi relawan seperti ini memang beresiko, bahkan nyawa. Kita harus berhati-hati dan menjaga diri baik-baik,” Aku melanjutkan. “Kamu juga ya, Vin!” Ia hanya tersenyum.

Perjalanan pagi itu diselingi hujan deras yang membuat seisi van kami cukup hening, masing-masing kami sibuk dengan ayat-ayat-Nya. Ada yang hanyut dalam indah bacaan Al Qur’an, sedangkan sebagian lain mengulang hapalannya karena tidak ingin kalah dengan jumlah hapalan Al Qur’an anak-anak Palestina.

“Sepuluh menit lagi,” Syihan mengingatkan Vina yang berada di hadapannya, bahwa perjalanan van pagi ini akan segera berakhir.

Bismillahirrahmaanirrahiim. Saudara-saudaraku, Giya, Syihan, Rico, dan Dimas.” Ia memandangi kami satu persatu, berusaha mengalirkan energi positif dalam dirinya menuju kami. “Hari ini, sekali lagi kita akan memberikan seluruh jiwa raga kepada ummat. Tidak ada yang mampu mengganti keikhlasan kita, selain Allah di surga-Nya kelak. Hidup ini hanyalah sebuah tempat singgah dengan tujuan membedakan manusia yang banyak amalnya dengan yang tidak. Kemudian dengan segera, manusia-manusia itu akan kembali kepada Allah. Benar-benar dengan segera.”

Vina menggenggam tanganku erat. Entah apa yang baru saja keluar dari mulut ketua kelompok kami, namun pada titik ini aku merasa sangat sedih. Rico merangkul Dimas dan Syihan di kanan dan kirinya. Menepuk-nepuk pundak satu sama lain, saling melempar senyum dan saling menguatkan.

Kami disambut oleh beberapa rekan media yang sedang meliput kejadian yang pecah tadi pagi. Ketiga pria sigap mengeluarkan barang-barang dari van. Beberapa media sedang mewawancarai seorang pria yang langsung meminta izin untuk menemui kami.

Salam ‘aleykum warahmatullaah. This way, this way…” Pria ramah berperawakan Arab yang tingginya hampir mencapai dua meter itu langsung mendampingi kami menuju barak tempat para relawan medis lainnya menindaklanjuti mujahid-mujahid yang terkena luka tembak, serangan represif tentara Israel, ledakan bom dan rudal, serta luka-luka lainnya. Mereka antara enggan mati untuk terus berjuang bagi negara dan agamanya atau pasrah dijemput Izrail yang aku yakin sudah berkeliaran di sini sejak matahari terbit.

Pemandangan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari kami. Suara-suara yang kami dengar dari mulut ke mulut hanyalah nama Ilah mereka yang dibumbui dengan rintihan perih akibat menahan luka yang menganga. “Asyhadu allaa ilaaha… Illallaah… Wa asyhadu annaa… Muhammad… Rasulullaah…” Betapa mereka berada di antara keindahan dunia dan akhirat. Aku iri.

Vina menghampiriku yang sedang melihat sekilas keadaan barak pengungsi di Jalur Gaza ini. “Gi, Gi. Kumpul bentar yuk. Ada sedikit briefing dari koordinator relawan medis di bangunan tempat penyimpanan makanan, medis, dan lain-lain di sebelah…”

“Oh oke, Vin,” aku mengangguk.

“Tolong cari Rico ya, kasitau juga supaya kumpul di luar sekarang. Cuma sekitar sepuluh menit kok.” Ia tersenyum lembut sambil memegang kedua bahuku. Aku mulai mencari Rico dan sepertinya Vina lanjut menghampiri Syihan dan Dimas.

Dalam ruangan tersebut, layar televisi sedang menanyangkan gambar seorang lelaki yang menutupi hampir seluruh kepala dan wajahnya dengan kaffiyeh bermotif kotak merah-putih. Ia berbicara bahasa Arab sambil menyandang sebuah senapan Kalashnikov di tangan kiri dan Al-Qur’an yang didekapnya di depan dada dengan tangan kanan. Ia adalah salah seorang mujahid dari laskar yang memiliki misi bom syahid. Menyampaikan pesan terakhir memang seperti suatu ‘standar pelaksanaan’ yang menjadi rangkaian peledakan diri.

Kami memang sempat memperhatikan layar televisi, namun tak lama kemudian koordinator relawan medis datang dan briefing pun di mulai. Sekilas aku tak sengaja mendapati wajah Vina. Aku dapat merasakan wajahnya menjadi serius, matanya tak berkedip, dan rahangnya mengeras. Sayangnya, kami semua harus segera mengalihkan perhatian kepada bapak koordinator relawan medis yang menyambut kami pagi tadi.

Sejak setelah briefing hingga siang kami terus mendapat ‘suplai’ mujahid-mujahid yang cedera. Sesekali kami bergantian untuk sholat fardhu dan mengganjal perut kami dengan roti gandum dan susu. Siang ini memang sangat padat, tak hanya pikiran, namun juga hati kami lebih dipadati oleh kemuakan dan kemurkaan pada tentara laknatullaah itu.

Aku ingat salah satu pasienku adalah seorang anak kecil berumur sekitar tujuh tahun yang ditembak tepat di bahu kanan dan paha kirinya. Saksi mata yang menggendong badan mungil yang terkulai bersimbah darah itu kemari, bercerita bahwa hal itu terjadi beberapa detik setelah anak kecil ini melemparkan batu kerikil ke arah tentara yang berjaga di samping tank yang berpatroli mengacak-acak rumah dan keluarga warga sipil Palestina.

Adapula pasien Rico, seorang ibu yang melahirkan dalam keadaan sekarat akibat tertimpa puing-puing runtuhan bangunan. Entah bagaimana ceritanya, seorang ibu yang tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengejan, mampu melahirkan bayi yang sehat dengan begitu lancar. Meskipun pada akhirnya ibu itu tidak ditakdirkan untuk melihat bayinya. Maha Suci Engkau, yaa Allah…

Berbagai perlengkapan medis terus dikirimkan. Perlengkapan yang paling banyak kami habiskan antara lain: alkohol dan berbagai cairan desinfektan, kapas, serta kassa untuk membungkus luka. Aku merasa semakin hari, kemampuanku menjahit luka-luka lebar makin terasah. Begitu pula dengan kecermatanku mengeluarkan peluru yang tersesat di dalam daging. Lebih mendalam lagi, aku semakin sadar dan terinspirasi oleh mereka yang mewakafkan diri mereka untuk mendapatkan transaksi terbaik dengan Tuhannya.

“Serangan sudah mereda. Satu jam lagi sepertinya kita bisa kembali ke Al-Amari, tentunya setelah kita menemani dan menenangkan pasien, kemudian menceritakan keadaan mereka pada para relawan umum. Nanti biar relawan-relawan itu yang menemani dan membantu keperluan mereka, karena kita harus beristirahat untuk panggilan-panggilan medis lainnya besok. Ada pertanyaan?” Dimas selesai mengumumkan pada kami tentang keadaan sejauh ini. Kami hening. “Hmm… Ada yang lihat Vina?” Tanyanya kembali.

Kami melirik ke kanan dan kiri, bertanya satu sama lain. Segera kami berkeliling barak untuk menemukan ketua kelompok kami. Aku menghampiri petugas jaga, dengan bahasa Arab yang terbata dan diselingi dengan bahasa Inggris, aku memintanya untuk membantu kami mencari ketua tim dokter relawan medis Bulan Sabit Merah Indonesia.

“Vina…! Vinaaa…!!” Kami sahut menyahut memanggil nama Vina. Aku hampir menyerah, dan di sisi lain kami harus segera menemani para korban luka-luka serta menyosialisasikan keadaan kepada relawan umum, sehingga kami pun tak bisa fokus untuk menemukan Vina. “Semoga ia sedang tertidur di suatu tempat karena kelelahan,” bisikku tentang harapan aneh yang mau tak mau kuharapkan dari pada kemungkinan lain saat ini.

Hari mulai gelap. Ngiiing nguuung ngiiing nguuung. Suara sirene bersahutan. Ada apa ini?Tiga buah ambulans masuk ke daerah kamp pengungsian. “Vina!” batinku. Aku menghambur menuju arah suara sirene. Segera setelah diturunkan, aku memeriksa tubuh-tubuh yang sebagian harus tertumpuk karena telah menjadi mayat. Kabarnya sebuah bomsyahid telah meledak di perbatasan, menewaskan ratusan tentara laknat, namun juga warga yang berada di sekitar perbatasan. Selebihnya luka parah karena bom tersebut dicampur dengan paku-paku agak ledakannya lebih dahsyat.

Nggak ada, Gi…” Dimas tiba-tiba muncul di belakangku. Suaranya bergetar. Aku menoleh. Air mukanya kacau, ia mulai menangis deras.

Kedua alisku menyatu. Bingung. “Apa maksudmu, Dim? Aku gak ngerti…!”

Dimas memukul-mukul badan ambulans itu, menyesali sesuatu dalam sekali. Tapi apa???Akhirnya ia memilih pergi dari kerumunan dan masuk ke ruangan khusus relawan medis. Aku perlahan mengikutinya dari belakang.

Saat aku masuk ruangan, Dimas terduduk di salah satu sudut ruangan dan sudah bersama Syihan dan Rico seolah menenangkannya. Aku berjalan mendekati mereka. Masih dengan sangat perlahan. Benar-benar perlahan. Aku tak tahu harus bicara apa. Aku jongkok tepat di hadapan Dimas, agar tinggiku menyamai mereka yang sedang duduk. Sebenarnya aku sedih melihatnya setertekan itu.

Kedua mata Dimas yang dikawal oleh kacamata itu kini beradu dengan lantai. Ia mencoba berbicara… “Gi, Ric, Han… Ada salam dari Vina. Katanya kalau dia gak balik, tolong maafin semua kesalahan dia ya…” Kami semua menitikkan air mata. Aku yang tadinya jongkok, langsung beralaskan tanah. Aku merasa mulai terguncang.

Ia melanjutkan, “Sekitar tiga pekan lalu dia memintaku untuk mengantarkannya ke pelatihan peledakan diri, bom syahid.” Aku tahu napasku kini benar-benar tertahan. Sepertinya Allah sedang meliburkan tugas oksigen untuk memenuhi kebutuhan bernapas manusia selama beberapa detik saja. Namun sesaknya luar biasa. “Vina memintaku untuk merahasiakan hal ini. Awalnya aku sudah memintanya berpikir ulang, namun aku tak melihat kesedihan ataupun keraguan sedikitpun di wajahnya. Aku juga berpikir, tidak semudah itu diterima menjadi pasukan bom syahid. Seleksinya amat ketat dan persiapannya bukan main. Dari ratusan orang yang mendaftar, hanya beberapa puluh yang diterima. Setiap malam aku bersujud dan berdoa agar ia tidak diterima. Tak disangka, subuh tadi ia mendapat kabar gilirannya.”

Syihan yang kebapakan merangkul Dimas begitu erat, memijat bahunya agar lebih rileks. Rico pun bergegas mengambilkan segelas air putih untuk Dimas. Aku? Brakkk!

Pagi itu aku tidak ikut ke lapangan. Aku baru siuman tadi subuh dan inilah pagi terpilu yang pernah kurasakan. Vina bahkan tidak menceritakan apapun. Ia juga tidak meninggalkan sesuatu yang bisa kukenang. Meski aku tahu sekali, aku hanya akan menghancurkan rencananya—yang mungkin juga cita-citanya—jika ia menceritakannya padaku. Tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Aku berusaha sekuat tenaga mengangkat diri dari tempat tidur, berpakaian, dan mengenakan jilbabku, berjalan tertatih keluar barak relawan.

Assalaamu’alaykum, Mabrook,” sapaku pada penghuni barak.

“’Alaykumussalaam warahmatullaahi wa barakaatuh. Masuklah, Nak,” jawab perempuan renta itu menghampiri dan tersenyum, mempersilakanku masuk. Untungnya Mabrook Idris dapat berbicara bahasa Inggris, sehingga aku tak perlu memamerkan bahasa Arabku yang masih terputus-putus.

“Begini Mabrook… Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Apa itu, Nak?” Pandangan sendunya melekat pada wajahku.

“Siapakah anak perempuanmu, Mabrook? Aku pernah sekali mendengar kisahnya, seorang relawan medis yang sangat menginspirasi. Bolehkah aku mengetahuinya?”

Mabrook tersenyum. Ia berdiri dan mengambil sesuatu dari kotak tua kecil di antara tumpukan barang-barangnya. Ia duduk kembali kemudian menyodorkan sebuah kertas propaganda usang seukuran A4, bergambar seorang perempuan muda dengan ikat kepala bertuliskan ‘Allahu akbar’ dan kalimat-kalimat berbau perjuangan untuk mengapresiasi sangSyahidah. Aku menutup mulut dengan tanganku. Mengapa tak terpikirkan olehku??

Suaraku bergetar. “Wafa… Idris…?”

Mabrook mengangguk pelan.

Siapa tak kenal Wafa Idris? Beliaulah perempuan pertama yang menjadi pelaku bom syahid Palestina. Beliau meledakkan bom di pintu masuk sebuah toko sepatu di pusat kota Yerusalem tahun 2002 saat usianya masih dua puluhan. Sejak itu, banyak perempuan yang mewakafkan diri demi agama dan negaranya dengan jalan itu.

Mungkin sama seperti Wafa, Vina ingin mewakafkan dirinya secara total di jalan ini. Bukan berarti mungkin karena ia muak dan murka dengan keseharian yang ia dapati, melainkan karena Vina bergitu kuat, dan tentunya setiap orang memiliki keleluasaan serta ruang diskusi dengan Allah dalam menentukan pilihannya. Semoga Allah menerima amalmu, duhai Saudariku, Ar-Rahman sedang membukakan pintu langit seluas-luasnya untuk serta merta ditembus oleh para syuhada hingga ke jannah-Nya.

Pahlawan di Jalan Sunyi

Jangan pikir perjuangan itu buta dan tuli

Ia sendiri yang memilih dan memilah pejuangnya

Ia hanya akan membawa serta mereka yang kuat tekadnya dan lapang hatinya

Untuk menjemput takdir kejayaannya

 

Perjuangan meminta kesungguhan

Tak jarang ia menuntut seluruh jiwa ragamu.

Ikhlas adalah mata uang bersama perjuangan

Untuk menjadi pahlawan di jalan sunyi

 

Setapak demi setapak

Kerikil, batu, jalan becek, atau buntu…

Jalan naas inilah yang menjadi panggungku

Drama singkat para pemuda

Episode penuh metafora yang memeras peluh

Bahkan darah

 

Namun jalan ini pula yang disodorkan Tuhan

Ketika langkah berkawan sepi,

Jangankan sorai tepuk tangan

Bisik mungkin nihil

Tak perlu khawatir, sobat…

Memang ini cara-Nya menjaga kewarasan kita.