Filosofi Air dalam Bejana

Ketika kita melihat air yang kotor dalam sebuah bejana (dalam hal ini mari kita bayangkan sebuah bejana yang besar dan tinggi) hanya ada dua cara untuk membersihkannya. Pertama, terus menerus diberikan aliran air bersih ke dalamnya, hingga kotoran keluar. Atau yang kedua, membuang air yang ada di dalamnya lalu mengisinya dengan air yang bersih.

Cara pertama akan berhasil apabila bejana kecil dengan debit air yang amat besar. Karena kita sudah menyepakati bejana kita besar, maka jalan yang tersisa adalah memberikan debit air yang amat besar. Dan apabila memberikan debit yang kecil, bukan saja menghabiskan waktu yang lama, namun juga memberikan waktu untuk kotoran tadi mengendap lagi sebelum sampai di bibir bejana.

Hmm, ada masalah lain rupanya. Yaitu bagaimana tipe kotoran yang mengotori air kotor tersebut. Apakah mudah dihilangkan, ataukah ia telah menempel sampai didasar, yang debit maupun kecepatan air yang besar pun tidak mampu membersihkannya. Mungkin mampu membersihkannya, tapi juga tak mampu mengeluarkannya. Dengan konsekuensi, apabila bejana ini terus-menerus diberi debit air sebesar ini, bukan tidak mungkin akan merusak si bejana. Paling tidak lapisan bagian dalamnya.

Cara kedua sepertinya tidak perlu banyak bahasan. Kita tinggal membuang air kotor dalam bejana itu, lalu mengisinya dengan air bersih yang baru. Jika ada kotoran yang menempel, kita dengan mudah membersihkannya dalam keadaan kosong.

Sekarang, mari kita hubungkan dengan kehidupan manusia dengan mengimplikasikan bejana tersebut sebagai ruhiyah kita, hati kita.

Cara pertama. Ketika hati ini kotor, entah mengapa terkadang asupan “gizi” yang masuk, tidak sepenuhnya kita terima. Ada yang tersimpan, ada juga yang terbuang. Lebih parah lagi kalau asupan yang masuk tidak meninggalkan bekas apapun di hati kita. Istilah engineering-nya, negligible alias dapat diabaikan. Sehingga usaha-usaha yang kita lakukan demi membersihkan hati ini adalah sia-sia, ketika biang kotoran yang ada di hati ini tidak kita buang sampai hati kita mendekati benar-benar bersih.

Itulah yang terjadi pada proses pembersihan yang pertama. Memang, kita tidak memberikan usaha yang banyak, yaitu hanya dengan menunggu dan berharap air yang masuk bisa menggantikan air yang kotor. Hasilnya, kotoran tidak hilang dan asupan “gizi” terbuang. Upaya kita menunggu pun jadi tak berguna. Lslu, bagaimana dengan debit yang amat besar? Ya, cara ini bisa menghasilkan “gizi” yang tersisa lebih banyak memang, tapi ketika kita diberi asupan terus menerus dalam jumlah besar, ada titik dimana kita menjadi saturated (jenuh). Bahkan pada tingkat yang lebih tinggi, ada titik dimana kita akan fatigue (lelah), dan dalam ilmu fisika, fatigue adalah titik dimana sebuah material itu akan patah karena sifat elastisitas yang terbatas. Begitu pula dengan hati manusia, ada titik-titik dimana kita jenuh dan fatigue. Sebagian kecil bisa mengatakan, mungkin saja dengan asupan yang besar kita bisa membersihkan hati kita. Namun permasalahannya adalah, dimanakah titik saturasi kita? Dan kapankah hati ini akan merasa lelah? Titik-titik inilah yang harus kita kenali, dan tentu saja kita harus berupaya agar titik-titik ini mencapai nilai tak hingga, dimana kita memiliki kekuatan iman yang lebih untuk tetap bisa menerima asupan-asupan yang ada. Jangan lupa, ketika kita jenuh dan lelah, satu-satunya tempat kita mengadu dan meminta kekuatan baru hanyalah Allahu Yaa Qawiyy (Allah Yang Maha Kuat).

Cara kedua. Simpel? Tidak. Inilah cara yang terdengar mudah tapi sebenarnya tidak. Mudahkah kamu membersihkan hatimu sampai limit mendekati benar-benar bersih begitu saja? Atau bahkan, adakah kamu memiliki keinginan untuk membersihkan hatimu? Terlebih lagi ketika kotoran-kotoran itu tidak lagi bisa kamu rasakan atau kamu sadari?

Dibandingkan dengan cara pertama, cara kedua akan menghabiskan tenaga yang lebih untuk membuang kotoran yang ada. Memang berat, tapi insya Allah selalu ada jalan untuk kita lebih kuat. Pertama, jika kamu tak mampu untuk mengeluarkan kotoran itu sendiri, maka minta bantuanlah kepada teman-temanmu agar pekerjaan menjadi lebih ringan. Kedua, kuatkanlah azzam (tekad) dan selalu perbaharui niat yang akan membuatmu lebih bersemangat. Ketiga, mintalah kepada Allah untuk memberimu (dan teman-teman) bahu yang kuat untuk menopang kesulitan, bukannya meminta agar kesulitanmu berkurang dengan sendirinya.

Ibaratnya, untuk mengeluarkan air maupun membersihkan kotoran yang ada dalam bejana tadi, tanyalah kepada pabrik yang memproduksinya, bagaimana cara yang paling tepat untuk mengeluarkan air kotor atau membersihkan kotoran menempel ini agar upaya-upaya yang telah kami lakukan bisa mencapai hasil. Maka sang produsen akan memiliki cara tepat untuk mengeluarkan air plus kotoran dalam bejana itu, karena mereka tahu struktur dan seluk beluk terkecil serta material pembentuk bejana tersebut. Hati manusia adalah dalam, bahkan samudera luas pun masih bisa diukur, tetapi hati kita? Tak ada yang tahu kecuali Allahu Yaa ‘Aliim (Allah Yang Maha Mengetahui). Maka dari itu, ketika kita mengalami stagnansi dan telah berupaya maksimal, kembalikanlah permasalahan itu kepada Allah semata. Niscaya Dia akan memberikan solusi yang paling tepat, karena Dia-lah yang paling tahu seluk beluk hati kita, sebagaimana pun kita menyembunyikannya.

Kesimpulannya, kedua cara untuk membersihkan hati di atas bisa kita aplikasikan. Masing-masing cara memiliki resiko dan ketentuan tersendiri, dan keduanya pasti berujung pada Allahu Yaa Muqtadir (Allah Yang Maha Memegang Kekuasaan). Yang pasti, tetaplah berusaha mencapai kebersihan hati dan ruhiyah itu. Niscaya Allah akan membalas kita dengan sebaik-baiknya balasan. Serta jangan mudah putus asa, jadilah kita insan-insan Allah yang tegar. Allahu Akbar!!

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabuut: 2)

Allahu ‘alam bish showab.

2 Januari 2010, pkl 10.06 WIB
Di kamar (mau belajar Matrek I )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s