Mobil Baru

Tok! Tok! Tok! “Permisi?!”

Aku segera melangkah menuju sumber suara. Lalu sambil merapikan jilbab, aku membuka pintu. Kulihat seorang pria berpakaian rapi seperti salesman dengan sebuah map berisi berkas-berkas di tangannya. Aku memperhatikannya sesaat, ia tersenyum.

”Permisi, Mbak.” tanyanya. ”Benar ini rumah bapak Widjaja Kartosoewirjo?”

”Mmm, benar. Ada apa ya, Mas?”

”Saya dari dealer Toyota ingin mengantarkan kiriman.”

Dahiku berubah menjadi beberapa lipatan. Lalu kutengok ke luar pagar, sebuah pick-up besar sedang menggendong sedan baru yang masih sangat mengkilap.

”Ayah beli mobil baru? Buat apa?” aku membatin.

Kemudian suara dari dalam rumah membuatku tersontak. ”Wah, wah… Kenapa masih di luar, Mas? Silakan masuk, silakan masuk.” Ayah tiba-tiba muncul kemudian menyeringai, mempersilakan tamu yang sedari tadi membingungkanku itu duduk. Ayah mengenakan kaos oblong coklat muda bergambar gajah, bertuliskan ’Thailand’ dan celana pendek. Perut buncit Ayah agak tertutupi dengan kaos berukuran XXL itu. ”Buatkan minuman untuk tamu kita, Layla,” perintahnya.

Aku yang berdiri mematung dan masih agak bingung di dekat pintu segera bergegas ke dapur untuk membuatkan mas-mas tadi segelas teh hangat, dan Ayah mulai berbincang-bincang dengannya. Setelah menaruh gelas di ruang tamu, aku segera ke kamar. Dari dalam kamar, aku bisa mendengar suara tawa Ayah yang terdengar girang. Girang sekali.

***

”Ha ha ha… Ya, baiklah. Terima kasih banyak, ya Pak. Selamat malam,” Ayah menutup telepon.

Aku sedang duduk-duduk di ruang tengah dengan adik laki-lakiku satu-satunya. Seperti biasa, aku membantunya belajar sambil menyelesaikan membaca buku karangan Amr Khaled di tanganku.

”Ayah yakin mau menerima mobil itu?” Ibu keluar dari kamar dan langsung membuka pembicaraan.

”Lha ya iya tho, Bu. Masa mobil sebagus dan semahal itu ditolak. Ada-ada saja ibu ini,” jawab Ayah sekenanya sambil mengutak-atik Blackberry Bold-nya.

”Bukan begitu, Yah. Maksud ibu…”

”Ah sudahlah, Bu. Yang penting kan keluarga kita bisa hidup nyaman dan tercukupi. Iya tho? Lagipula, hadiah ini sudah dimasukkan ke anggaran negara dan disahkan. Jadi, ibu tidak usah berpikir macam-macam,” sela Ayah memandang ibu tegas.

Aku yang sedari tadi menahan geram mendengar cengkrama Ayah dan Ibu pun tak bisa membendung kekesalanku. ”Ayah. Kenapa sih Ayah seperti ini? Ayah tahu kan negara kita mengalami banyak kesulitan?! Bisa-bisanya Ayah menerima mobil baru itu tanpa memikirkan nasib rakyat!” Nada bicaraku mulai meninggi.

Rupanya Ayah tak mau kalah, ”Layla! Sopan sekali kamu bicara pada Ayah. Tahu apa kamu soal negara, heh? Ayah bekerja ini buat kamu, ibumu, juga Bagas,” terangnya sambil menunjuk-nunjuk kami bertiga. ”Percuma Ayah membiayaimu kuliah hanya untuk melawan Ayah!”

Aku berdiri, ”Layla sudah besar, Ayah. Sudah mahasiwa, dan tidak buta soal pemerintahan. Layla sangat berterimakasih kepada Ayah yang telah membiayai kuliah Layla. Hanya saja, Layla ingin Ayah membiayainya dengan nafkah yang halal, agar ilmu dan segala yang kami dapat dari Ayah menjadi berkah, bukan bencana!” aku tahu aku harus segera berlari menuju kamar sebelum tangisku pecah. Aku bisa melihat wajah Ayah yang menahan amarah karena tersinggung perkataanku.

”Layla…” panggilan ibu tak kuhiraukan.

Mungkin keplegmatisan ibu tidak cukup untuk merubah Ayah yang semakin aneh akhir-akhir ini. Tepatnya setelah beliau diangkat menjadi salah satu menteri di kabinet Indonesia Terbaru season II tersebut. Ini bukan kali pertama aku berdebat dengan Ayah. Beberapa bulan yang lalu pun aku berdebat dengannya soal cincin yang juga hadiah dari the number one. Mungkin barangnya kecil, tapi menurutku itu masalah besar. Aku kesal melihat tingkah Ayah yang semakin meninggalkan keidealisannya. Padahal dulu saat beliau masih menjadi calon anggota DPR, beliau menyatakan janji-janji yang akan menyejahterakan rakyatnya apabila terpilih. Tapi buktinya? Aku kecewa dengan Ayah!

***

Paginya, sambil melintasi halaman rumah, aku melihat Toyota Royal Crown dengan dua digit nomor pada platnya. Kemudian aku menoleh ke arah Toyota Camry kami yang baru berusia lima tahun, kondisinya masih terbilang baik. Aku tidak habis pikir, mengapa the number one negara ini malah memberikan fasilitas yang berlebihan untuk para bawahannya. Padahal, pemimpin adalah pelayan. Masa pelayan gonta-ganti mobil? Ckckck…

”Ayo, Gas. Kita berangkat ke Puncaaaak…!” kata Ayah sambil menurunkan Bagas dari punggungnya menuju mobil baru kami. Sebenarnya aku malas harus ikut ke puncak, apalagi perdebatan antara aku dan Ayah masih meninggalkan suasana yang kurang nyaman. Ditambah lagi dengan Ayah mengendarai mobil yang aku tak tahu halal-haramnya. Tapi karena kata Ayah ini undangan walimah dari keluarga the number two Indonesia, tidak sopan kalau ada keluarga yang tidak ikut. Lagipula, mendatangi walimah hukumnya menjadi wajib apabila kita diundang.

”Layla, sudah kau masukkan payung ke dalam mobil?” panggil ibu.

”Iya. Sudah, Bu.” aku mengangguk. Memang sedang musim hujan beberapa bulan ini. Ibu terlihat cantik mengenakan jaket tebal abu-abu yang beliau beli saat kami berwisata ke Shanghai tahun lalu.

Kami sudah masuk ke daerah Cisarua, Bogor. Kabut tipis yang menghalangi pandangan mulai menebal. Mengikis kemampuan melihat mata kami semua. Selingan hujan gerimis mewarnai perjalanan kami. Bagas yang duduk bersamaku di kursi belakang tertidur pulas. Perjalanan jauh rupanya cukup melelahkan baginya. Ibu sesekali memperingatkan Ayah untuk mengurangi kecepatan mobil kami. Saking tebalnya kabut disini, Ayah harus menyalakan lampu depan mobil dan berjalan sekitar 30 km/jam.

Tiba-tiba… BRUK!! Bagas terbangun. Hantaman dari arah belakang cukup membuat Ayah mengeluarkan sumpah serapahnya. Ayah berniat menepikan mobil dan menuntut ganti rugi kepada mobil yang menabrak kami. Tetapi, mengingat kabut tebal yang tidak nyaman, membuat Ayah mengurungkan niatnya. Lagipula Ayah pasti juga berpikir, Ia sedang mengendarai mobil yang platnya diawali dengan dua huruf sakti dan apakah beliau harus meminta ganti rugi kepada orang biasa yang menabraknya? Sungguh tidak elegan.

Dalam hati aku sedikit menyadari bahwa mungkin saja memang mobil ini tidak diberkahi. Aku penasaran melihat wajah Ayah saat mendapati bagian belakang mobil kami yang penyok parah atau lampu belakang yang pecah. Sebenarnya aku ingin tertawa, tapi aku tahu Ayah pasti akan semakin tersinggung apabila mendengarnya, dan akan semakin murka padaku. Aku diam saja mendengar Ayah yang belum berhenti mengungkapkan kekesalannya kepada ibu di kursi sebelahnya.

Kami hampir sampai. Aku membangunkan Bagas, lalu melihat-lihat keindahan alam sekitar. Subhanallah, indah sekali ciptaan-Mu. Daerah ini masih hijau dan asri dengan deretan villa-villa yang terbuat dari bambu. Di kejauhan, ada beberapa surau besar yang indah, dikelilingi oleh hijaunya rumput segar yang disinari matahari hangat ala Puncak. Membuat hati yang memandang menjadi sejuk seketika.

Ayah memarkirkan mobil dideretan mobil-mobil yang serupa dengan mobil Ayah. Acara walimah ini cukup mewah. Dari dalam mobil aku bisa melihat isi acara ini adalah orang-orang berjas dan berdasi. Para ibu mengenakan kebaya modern dengan tas-tas tangan bermerk yang aku yakin harganya tak mati tujuh digit. Seseorang menghampiri mobil kami. Ayah segera turun dari mobil disusul anggota keluarga yang lain langsung menuju pria itu, melupakan bagian belakang mobil yang entah bagaimana lagi rupanya.

”Apa kabar pak Widjaja?” sapa pria itu.

”Baik. Baik, pak Sudiro,” jawab Ayah langsung menerima jabatan tangannya.

Mereka bercengkrama, mengenalkan ibu, aku, dan Bagas. Kami mengikuti langkah mereka. Masih tak jauh dari parkiran mobil, kami menuju segerombolan bapak-bapak yang sedang bercerita seru sekali. Kira-kira apa ya yang sedang mereka bicarakan? Harga minyak dunia? Kurs rupiah? Penjajahan di Palestina mungkin? Atau malah pertandingan sepak bola semalam? Entahlah.

Kami berjalan mendekat.

”Wah, benar itu pak, saya juga gitu tadi waktu di jalan. Kesal sekali,” kata bapak berhidung bulat, menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Bemper saya malah penyok, kelihatannya kerusakannya serius,” tambah bapak berdasi garis-garis diagonal hitam-oranye.

”Punya saya lebih parah lagi pak, spion nu kanan sampai lepas, euy,” sahut bapak berkacamata bercerita lebih heboh dengan bahasa Sundanya yang masih kental.

Ayah datang dan menimpali, ”Seru amat nih, pada ngomongin apa?” Ayah menepuk-nepuk bapak yang agak gemuk disebelahnya, terkekeh kecil.

”Itu pak Widjaja, liat aja mobil kami penyok semua gara-gara kabut tebal saat di perjalanan. Duh Gusti, padahal mobilnya baru dua hari,” respon bapak yang lain lagi seraya mengarahkan tangan kanannya ke arah parkiran, membuat kami sekeluarga langsung memalingkan wajah searah tangannya.

Mengesankan! Tujuh dari duabelas mobil yang terparkir disitu rupanya telah mengalami pengalaman yang berbeda. Termasuk mobil Ayah. Ada yang lampu belakang pecah, spion kanan patah, bemper penyok, plat mobil lepas, hingga goresan-goresan yang entah bagaimana bisa ada disitu, benar-benar membuatku geli. Yaa Allah, Engkau Mahaadil, tapi aku yakin, masih banyak keadilan-keadilan lain yang akan Engkau tunjukkan kepada kami.

Aku tertawa kecil sambil menutupi deretan gigi-gigiku. Ayah melirik. Aku berusaha tenang dan mengalihkan pandangan.

Bandung, 20 Januari 2010

5 thoughts on “Mobil Baru

    • hehe.. ntahlah mbak..
      doakan sadja. =D

      ada lagi, cerpen yang di page sendiri..
      judulnya “Aku kan penuhi janjiku, kak..”
      kalo sempet dibaca ya.. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s