Jungle War

Malam itu di tengah sebuah hutan belantara…

“Kera, zebra, buaya, kalian berjaga di pintu masuk timur sungai Gimusi. Ular dan badak, siap siaga di selatan, pinggiran Majim.” Sang Raja Hutan mengatur napas. Sambil terus memutar otaknya, mengatur strategi agar daerah kekuasaan dan tempat tinggal rakyatnya tidak diserang. Nanar matanya menghipnotis rakyatnya untuk bisa berjaga lebih ketat dari biasanya.

Sekarang matanya tertuju pada 3 ekor hyena. “Kalian, jaga hutan selatan Seyisa denganku. Aku akan menyusul setelah menyelesaikan beberapa hal disini. Terakhir kalian elang, gajah dan jerapah, berjaga-jagalah di dataran Ukame. Walau disana tenang, tetapi datarannya sungguh luas dan beragam. Tetaplah siap dengan penjagaan terbaikmu!”

Semangat itu berkobar di setiap pasang mata prajurit hutan. Kabar yang dibawa oleh pasukan kus-kus beberapa hari lalu, memporak-porandakan suasana, menyatukan kami agar lebih kuat di sektor jagaan masing-masing. Mereka pernah melihat sebuah ancaman di sekitar Hutan Seyisa. Sang Singa belum tau seperti apa musuh yang akan menerjang pintu selatan kerajaannya. Selama ini masyarakatnya tenteram dan damai. Hingga pada suatu hari ia harus mengumpulkan semua prajurit terbaiknya dalam barisan yang rapi. Memberi peringatan terhadap bahaya, entah apa, yang akan merusak negerinya.

Barisan-barisan itu segera bergerak.

“Tunggu!” kata Sang Raja Hutan. “Aku rasa para hyena perlu bantuan di sektor hutan selatan. Walaupun mereka prajurit yang kuat, tapi aku rasa mereka perlu bantuan. Kita harus siap menghadapi musuh dengan kekuatan maksimal. Kera, ikutlah dengan hyena. Aku yakin jika bersama, kita bisa lebih kuat.”

Para ketujuh kera diam, melirik satu sama lain.

“Baiklah kalau begitu, ketika kalian lihat matahari berada tepat di atas kepala kalian besok, maka kembalilah. Sekarang, saatnya bergerak!! RRAAUUMMM!!!” Singa itu mengaum sekuatnya, membangkitkan semangat para prajurit hutan.

Di tengah jalan menuju hutan Seyisa…

“Hendak kemana kalian para kera?” tanya hyena bingung mereka mulai menggelayuti pohon-pohon menjauh.. “Kami hendak ke sungai Gimusi.” “Hey, bukankah Raja telah memerintahkan agar kalian membantu kami di hutan Seyisa? Apa yang kalian lakukan? Kami sangat membutuhkan kalian.” “Tapi zebra dan buaya memerlukan kami untuk meneropong daerah sungai Gimusi, tidak mungkin kami meninggalkan mereka. Lagipula, kami yakin para hyena ditambah Singa dapat menjaga hutan selatan dengan baik.” Para kera tersenyum tulus memberi semangat, lalu berayun pergi. Para hyena terus berlari.. Menyesali perbuatan kera.

Hari mulai terang…

“Ayo kita kembali ke tengah hutan. Sepertinya musuh kita tidak menyerang sungai Gimusi,” kata ular pada kera. “Yah. kau benar. Hey buaya, mari segera kembali ke tengah hutan!”

Tak lama kemudian. Mereka telah berkumpul di tengah hutan. Matahari di atas ubun-ubun, tetapi tak satupun hyena atau Raja Hutan memperdengarkan aumannya. Semakin resah..

Matahari mulai turun…

Grusuk.. Grusuk.. Semuanya menoleh ke arah semak-semak yang bergerak. Seekor hyena dengan tubuh lunglai terus berusaha berjalan, walau akhirnya terjatuh… “Mereka menembus kami…” suaranya parau.

Seketika hening.

Sepertinya hyena itu sudah tak bernyawa lagi.

“Apa yang terjadi?” kata salah seekor gajah. “Apa yang harus kita lakukan sekarang???”

One thought on “Jungle War

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s