Cepatlah Datang, Saya Bosan Menunggumu. (kado utk seorang teman)

“Salam ‘aleykum.”

“Wa’alaykissalaam. Allah razı olsun, yaa Hamiid.”

Selepas mereka memelukku, aku pun beranjak menuju ruang tunggu bandara. Agak berat meninggalkan Alexandria di saat riset yang harus dilakukan sedang menumpuk, tapi toh aku melakukan ini karena keperluan perkembangan riset kami. Sekarang aku telah berada di dalam badan pesawat dan segera kembali ke tanah air. Bukan karena ini jadwal pulang ke tanah air, tetapi hasil riset laboratorium kami telah berhasil melahirkan sebuah terobosan yang mendunia. Tinggal menunggu kesempatan mendapat nobel. Pasti bisa.

Bertahun-tahun kami mengembangkan teknologi wiring dan instrumentasinya dengan menggunakan bahan-bahan organik sebagai bahan dasar. Sehingga buangan, atau limbahnya dapat di-recycle, lebih cepat diurai dan tentunya ramah lingkungan. Oleh karena itu, perusahaan pembangkit energi dan automasi yang telah menghubungiku berani membayar mahal atas kerja keras kami ini.

“Tung tung tung tung. Good afternoon ladies and gentlemen, in thirty minutes ahead we are going to land in Soekarno Hatta international airport. Please keep tighten your seatbelt. Thank you. Tung tung tung tung.” Begitu yang aku dengar.

“Hmm… Jakarta.” Aku tersenyum sambil menjulurkan pandangan ke luar jendela. Sudah setahun lebih aku tidak pulang karena pekerjaan di beberapa laboratorium riset adjoinku di Alexandria, Tokyo, dan Meksiko. Akhirnya di Cengkareng juga pesawat yang kutumpangi mendarat. Senangnya.

Keluar dari bandara aku langsung berangkat ke Bali. Bukan karena ingin berlibur, tapi perusahaan yang akan aku datangi berada Kepulauan Flores. Tepatnya di pinggiran perairan Celah Flores, perbatasan dengan Timor Timur. Tentunya aku telah mengatur jadwal agar aku bisa tenang menghadapi pelanggan, karena ini bukan bisnis biasa. Malam ini akan kuhabiskan dengan beristirahat dan menyujudkan diriku di tanah Kuta agar transaksi lancar dan memuaskan. Besok pagi-pagi aku akan ke Flores dengan jalur laut.

***

“PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS LAUT (PLTPL)”

“PT. BINTANG BERSINAR”

Begitu tulisan besar yang berada di hadapanku saat ini. Pagar utama perusahaan ini sangat besar, tinggi dan terlihat sangat kokoh. Aku beranjak ke pojok pagar. Ada sebuah tombol dan semacam speaker dengan tiga garis horizontal. “Standar lah,” pikirku. “Pencet tombol, panggil satpam, memperkenalkan diri dan dia akan segera membuka pagar.” Begitu kutekan tombol itu…

Tit tit tit… Sebuah cahaya laser berwarna biru dari salah satu garis horizontal tadi seperti men-scanku dari atas kepala hingga dada. Tiga detik kemudian lampu hijau menyala, kemudian mengeluarkan suara, “Hamida Amalia”. Seketika salah satu bagian pintu pagar selebar dua meter terbuka. Begitu masuk, aku langsung di sambut oleh dua orang satpam yang sangat ramah dan rapih.

“Silakan Ibu, handphone dan benda logam lainnya dilepas dan tasnya bisa diletakkan disini.”

Wow. Aku masih terdiam. Satpam itu menunjukkan tempat dimana aku harus menaruh tasku. Aku tahu tas itu akan di-scan, tapi entah mengapa sekarang aku merasa seperti sedang di bandar udara New York karena dihadapanku telah ada sebuah alat pendeteksi logam dan tentu saja aku melewatinya dengan aman. Yaiyalah, memang aku bawa apa heh? Akhirnya aku keluar dari tempat itu, entahlah apa namanya. Mungkin pos satpam, mungkin juga bukan. Dan entah bagaimana pula satpam itu telah tahu keperluanku dan segera mengantarkanku ke ruangan kepala bidang Riset dan Pengembangan perusahaan pembangkit listrik ini sampai ke depan pintu ruangan. Benar-benar pelayanan yang mengesankan.

“Ada juga ya yang seperti ini di Indonesia. Boleh juga perkembangan Negara ini,” gumamku.

Tok tok tok! Aku mengetuk pintu ruangan yang ada pelang bertuliskan:

MUHAMMAD MADZKURI, S.T., M.T., Ph.D.
Kepala Bidang Riset dan Pengambangan

Begitu Pak Kuri membukakan pintu dan mengucapkan salam, mempersilakan saya masuk serta duduk, beliau langsung merapihkan kertas-kertas di mejanya. Aku melihat sekeliling. Hmm, tadinya aku pikir ada lift khusus untuk masuk ke ruangan seorang kepala bidang perusahaan maju seperti ini, ternyata mereka mendapatkan fasilitas yang sesuai; ruangan yang nyaman dan rapih, tapi tidak berlebihan. Mungkin memang seharusnya begini eksekutif kalangan atas memperlakukan dirinya.

“Maaf bu Hamida, Ibu Direktur sedang menunggu anda di ruangannya. Entah mengapa kali ini beliau ingin bertemu langsung dengan inventor, tapi beliau tidak mengatakan apapun selain meminta tolong kepada saya agar segera mengantarkan anda menuju ruangan beliau begitu anda tiba,” terangnya ramah.

Saya tersenyum. “Oh begitu… Nggak apa-apa, Pak. Saya senang bisa bertemu langsung dengan Direktur perusahaan ini.” Bahkan kalau perlu, bapak tidak perlu repot-repot mengantar saya, kataku dalam hati.

Kami berjalan menuju lantai empat gedung ini. Dan anda tahu dengan apa? Tangga. Tadinya aku pikir satpam tadi mengantar lewat tangga karena memang ruangan pak Kuri berada di lantai satu.

“Kenapa kita tidak naik lift, Pak? Memangnya ada berapa lantai gedung ini?” tanyaku.

“Di gedung ini ada empat lantai, Bu, dan memang di gedung ini tidak dibangun lift. Semua gedung di perusahaan ini tidak memiliki lift kecuali jika banyaknya lima lantai atau lebih. Sejak awal memang didesain seperti ini, sesuai dengan keinginan ibu Direktur.”

Baiklah, aku terima saja. Untungnya aku sering berolahraga, jogging setiap pagi selama di Alexandria. Di sana memang banyak taman-taman kota, makanya aku berminat lari. Tidak terasa kami sudah berada di lantai empat. Hanya ada satu ruangan utama di lantai ini, yaitu untuk Direktur perusahaan. Tata ruang tidak berbeda jauh dengan lantai-lantai sebelumnya, tetapi di sini memang sedikit lebih sepi. Seorang sekretaris menyambut kami di depan ruangan.

“Permisi mbak Gloria, ada tamu penting,” tegur pak Kuri sambil tersenyum.

“Oh iya Pak, Bu Direktur telah menunggu Bu Hamida di ruangannya sejak tadi. Silakan, Bu,” jawab si sekretaris tak kalah ramah. Aku tersenyum, lalu meneruskan langkah menuju pintu.

Ditunggu sejak tadi? Hmm, memang barang temuanku membuat semua orang ingin segera bertemu aku. Narsis dikit nggak apa-apa dong. Hehehe…

“Ini Bu ruangannya. Boleh saya tinggal sekarang?” ucap sang kepala bidang Riset dan Pengembangan mengarahkan tangannya ke arah depan kami.

“Oh tentu, tentu saja. Terima kasih telah mengantarkan saya sampai di sini. Senang bekerjasama dengan anda,” kataku sambil mengatupkan kedua tanganku di depan dada.

“Sama-sama. Maaf tidak bisa mengantarkan hingga ke ruangan, ini juga perintah bu Direktur. Saya permisi,” sepeninggal beliau juga mengatupkan kedua tangannya lalu membelakangiku.

Aku mengernyitkan dahi. Perintah? Direktur yang aneh… Yah, siapapun dia, yang penting berani membeli penemuanku dengan harga tinggi, oke aja. Apalagi pertama kali diaplikasikan di negeri tercinta. Lengkaplah sudah. Aku tersenyum lagi. Menarik napas, lalu menghembuskannya. Sedikit merapihkan pakaian setelah itu segera berbalik badan dan melanjutkan langkah. Aku menyusuri menuju sebuah pintu kayu berwarna krem dengan sebuah pelang nama serta jabatan di depan pintu ruangan, persis seperti di depan ruangan pak Kuri tadi. Setelah dekat… Aaaaarrgghh… Betapa kagetnya aku mendapati nama orang yang tergantung di pelang tersebut!!!:

RATNA NATALIANI, S.T., M.H.
Direktur Utama

“Awas lo ye…”

Bandung, 23 April 2010, 11.32 pm

Happy milad yg ke-20, Saudariku! Barakallahu laki. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s