Derivasi Penghasil Korupsi

“Indonesia merupakan negara terkorup di dunia.” Begitu salah satu headline sebuah berita dari sebuah situs surat kabar terkemuka di Indonesia. Bisa dikatakan, hal yang pertama kali terbayang oleh orang-orang ketika mendengar kata Indonesia adalah budaya korupsi. Di samping teringat akan gugusan pulau-pulau beserta keberagaman masyarakatnya. Miris sekali mengetahui bahwa korupsi di negara ini telah menjadi budaya. Mulai dari kalangan pemerintah, pedagang, pekerja, penegak hukum, pelajar, hingga bahkan rakyat awam pun hampir pernah korupsi walau dalam konteks kehidupan sehari-hari dan di lingkungan sekitar mereka. Lebih parah lagi, hal-hal tersebut telah menjadi suatu kebiasaan dan dimaklumi.

Bagaimana rakyat awam berkorupsi dalam kehidupan sehari-hari? Sering sekali kita melihatnya. Sedikit mengingatkan, bahwa korupsi dapat dinyatakan dengan aktivitas mengambil hak orang lain yang dapat menimbulkan kerugian. Mungkin seperti itu garis besarnya. Jadi, untuk kegiatan sehari-hari, contoh kecilnya dapat kita lihat dari para pengendara -terutama jalur two-ways– mengendara di daerah jalur sebelahnya. Terkadang hanya untuk beberapa detik, kadang bisa sepanjang perjalanan. Contoh lain adalah pengajar yang terlambat masuk kelas, sehingga waktu belajar berkurang. Padahal, para pelajar telah membayar sejumlah biaya dengan salah satu timbal balik yakni waktu beserta akomodasi pengajar untuk mendapatkan ilmu baru setiap hari belajar. Dapat saya simpulkan, kebiasaan telat orang-orang Indonesia bisa juga tergolong korupsi, selama dapat merugikan orang lain.

Untuk mahasiswa, pernahkah anda bolos lalu titip absen? Pernahkah anda mencontek saat ujian? Atau, pernahkah anda menggunakan uang buku kuliah atau uang semester misalnya, untuk membeli barang yang bukan-bukan? Contoh lain untuk game online mungkin? Bisa ya, bisa juga tidak. Bagi yang menjawab ya, maka berhati-hatilah. Bahwa negara ini akan mendapat pasokan seorang calon koruptor baru. Karena di dalam dirimu telah tertanam bibit-bibit ketidakjujuran dan ketidakpedulian terhadap orang-orang di sekitarmu. Bibit-bibit para pelanggar dan calon perampas hak orang lain. Inilah yang saya sebut dengan derivasi penghasil korupsi, yaitu ketidakjujuran dan ketidakpedulian.

Bisa dikatakan masalah ini klise dan sudah ada sejak zaman Soekarno kuliah dulu. Anehnya, kenapa masalah ini tak terselesaikan juga? Padahal sudah banyak contoh yang terjadi dan kerugian triliunan rupiah tiap tahun di negeri ini akibat tikus-tikus birokrasi. Jawabannya yakni kejujuran dan kepedulian. Tiada kesejahteraan tanpa kejujuran. Akan tenang hidup ini bila tinggal dalam masyarakat yang jujur. Setiap hari terasa aman dan nyaman. Tidak perlu mengkhawatirkan ini dan itu. Dan ketika kita memiliki kesulitan, hidup ini akan lebih indah jika dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dengan keadaan kita.

Dalam lingkup apapun, kejujuran adalah hal utama. Begitu pula dengan kejujuran yang lahir dari kepedulian antarsesama. Hubungan antarmanusia menjadi lebih damai, tidak ada kecurigaan ataupun kesenjangan. Semua merasa setiap orang adalah penting, dan kepentingan orang lain pun menjadi penting untuk kita, sehingga tercipta keramah-tamahan. Saya yakin, setiap orang menyukai kejujuran, dan tidak suka dibohongi. Lalu, mengapa harus menipu orang lain dan merugikannya jika kita tidak mau diberikan hal yang sama? Sebenarnya masalah ini sederhana, hanya saja bisa dikatakan pada masa sekarang ini hampir tidak banyak orang yang bisa dijadikan contoh, dan orang itu riil, dalam konteks hidup di sekitar lingkungan tersebut. Bukan khayalan semata.

Apabila anda mengaku orang yang menyadari bahwa ketidakjujuran dan ketidakpedulian sebagai salah dua akar permasalahan masalah di negara kita saat ini yakni korupsi, secara personal maupun global, jadilah kita orang-orang yang patut ditiru itu. Bukan tergiur akan kesenangan semata akibat kebohongan yang kita buat-buat. Karena setelah kebohongan, akan ada kebohongan lainnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Itulah mengapa berbohong itu bisa mengakar di dalam diri seseorang, karena pada hakikatnya, berbohong itu tidak bisa sekali. Sekali anda berbohong, maka untuk seterusnya akan berbohong.

Oleh karena itu, mari kita sebarkan kebiasaan berkata dan berperilaku jujur dan tidak merugikan orang lain demi kepentingan pribadi. Karena ketika kita berbuat jujur, kita sendiri pun akan merasakan manfaatnya. Entah itu penghargaan dari manusia ataukah dari Allah SWT. Atau minimal ketenangan hati. Yang pasti, saya bisa meyakinkan satu hal. Bahwa anda tidak akan pernah merasa rugi dengan perkataan maupun perbuatan jujur yang anda katakan atau lakukan. Percayalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s