Selayang Pandang Kalimantan Timur

Indonesia memiliki beragam suku dan budaya. Salah satunya adalah di Kalimantan Timur. Dahulu, provinsi ini mayoritas dihuni oleh penduduk asli yakni suku Dayak, Kutai, dan Banjar. Masing-masingnya pun memiliki berbagai macam suku, bahasa, seni, adat, budaya, dan lain-lain.

Kalimantan Timur sebagai wilayah administrasi dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956 dengan Gubernurnya yang pertama adalah APT Pranoto. Sebelumnya Kalimantan Timur merupakan salah satu karesidenan dari Provinsi Kalimantan. Sesuai dengan aspirasi rakyat, sejak tahun 1956 wilayahnya dimekarkan menjadi tiga Provinsi, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.

Daerah-daerah Tingkat II di dalam wilayah Kalimantan Timur, dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 27 Tahun 1959, Tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Tahun 1955 No.9). Lembaran Negara No.72 Tahun 1959 terdiri atas:

  1. Kotamadya Samarinda, dengan Kota Samarinda sebagai ibukotanya dan sekaligus sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Timur.
  2. Kotamadya Balikpapan, dengan kota Balikpapan sebagai ibukotanya dan merupakan pintu gerbang Kalimantan Timur.
  1. Kabupaten Kutai, dengan ibukotanya Tenggarong
  2. Kabupaten Pasir, dengan ibukotanya Tanah Grogot.
  3. Kabupaten Berau, dengan ibukotanya Tanjung Redeb.
  4. Kabupaten Bulungan, dengan ibukotanya Tanjung Selor.

Hingga saat pembentukan kota dan kabupaten baru, serta berbagai kebijakan yang ditetapkan, akhirnya Kalimantan Timur mencapai suatu kestabilan pemekaran daerah. Pada kebijakan terakhir yakni perubahan nama Kabupaten Pasir menjadi Kabupaten Paser berdasarkan PP No. 49 Tahun 2007, provinsi yang luasnya mencapai sekitar satu setengah kali Pulau Jawa dan Madura tersebut ditetapkan memiliki empat kota dan sepuluh kabupaten, yakni:

No. Kabupaten / Kota Ibukota

1

Kabupaten Berau

Tanjung Redeb

2

Kabupaten Bulungan Tanjung Selor

3

Kabupaten Kutai Barat Sendawar

4

Kabupaten Kutai Kartanegara Tenggarong

5

Kabupaten Kutai Timur Sangatta

6

Kabupaten Malinau Malinau

7

Kabupaten Nunukan Nunukan

8

Kabupaten Paser Tanah Grogot

9

Kabupaten Penajam Paser Utara

Penajam

10

Kabupaten Tana Tidung Tideng Pale

11

Kota Balikpapan

12

Kota Bontang

13

Kota Samarinda

14

Kota Tarakan

Kalimantan Timur memiliki beberapa tujuan pariwisata yang menarik seperti kepulauan Derawan di Berau, Taman Nasional Kayan Mentarang dan Pantai Batu Lamampu di Nunukan, peternakan buaya di Balikpapan, peternakan rusa di Penajam, Kampung Dayak Pampang di Samarinda, Pantai Amal di Kota Tarakan, Pulau Kumala di Tenggarong, dan lain-lain. Di Kalimantan Timur kira-kira tumbuh sekitar 1000-189.000 jenis tumbuhan antara lain anggrek hitam yang harga per bunganya dapat mencapai 100.000-500.000 rupiah. Namun ada kendala dalam menuju tempat-tempat di atas yaitu transportasi. Banyak bagian di provinsi ini masih tidak memiliki jalan aspal, jadi banyak orang berpergian dengan perahu dan pesawat terbang dan tak heran jika di Kalimantan Timur memiliki banyak bandara perintis. Selain itu, akan ada rencana pembuatan Highway Balikpapan-Samarinda-Bontang-Sangatta demi memperlancar perekonomian.

Provinsi ini juga sangat terkenal kaya akan sumber daya alam dan mineralnya, misal: hutan, minyak, batu bara, dan gas alam. Seiring perkembangan dan kemajuan pembangunan, maka pesatlah industri-industri raksasa di Kalimantan Timur. Misalnya LNG Badak, PT Pupuk Kaltim Bontang, PT KPC, dan berbagai perusahaan pertambangan serta perusahaan perkayuan (perhutanan). Keberadaan perusahaan-perusahaan dan industri-industri ini memperluas lapangan kerja yang ada. Sehingga, sangat menarik bagi para pendatang untuk mencari nafkah di provinsi terluas kedua di Indonesia ini.

Sayangnya, perkembangan dan kemajuan pembangunan tersebut terpusat di daerah perkotaan. Dan parahnya hal ini terjadi secara intensif. Lama kelamaan menyebabkan kesenjangan antara daerah kabupaten dan perkotaan. Antara lain perkembangan teknologi dan globalisasi yang semakin sulit untuk dikejar oleh masyarakat di daerah kabupaten dan pedesaan. Dampak buruk lain dari kesenjangan ini adalah terperangkapnya kesenian dan kebudayaan yang dimiliki oleh penduduk asli tersebut. Kelestarian kesenian dan kebudayaan itu lambat laun akan mati jika tidak mampu mengimbangi peningkatan dan pertumbuhan jumlah pendatang. Anomali jika para pendatang ikut melestarikan kesenian dan kebudayaan yang ada.

Oleh karena itu, para pendatang yang berdomisili di provinsi ini harus dapat menyadari pula dampak negatif keberadaannya. Pelestarian kesenian dan kebudayaan Indonesia adalah tanggungjawab kita bersama. Jika mengingat peribahasa “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” maka melestarikan kebudayaan Kalimantan Timur menjadi tanggungjawab kita. Putra-putri daerah maupun para pendatang. Jadi, apa yang sudah kita lakukan untuk melestarikan tanah Kalimantan Timur kita, kawan?

One thought on “Selayang Pandang Kalimantan Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s