Proyeksi Pembangunan Kota Balikpapan

6 September 2010. Impresi awal saya saat datang ke kota ini, disertai dengan perbincangan mengenai pembangunannya dengan “bos” saya –anak Balikpapan pasti ngerti yang saya maksud bos— adalah tidak begitu baik. Pasalnya, di beberapa titik di kota ini saya tak lagi merasakan Balikpapan yang lega, dan sebelumnya tidak pernah saya menemui kemacetan lalu lintas layaknya yang saya temui di Bandung atau Jakarta. Namun, itulah realita yang saya temui selama sekitar tujuh hari saya menapakkan kaki di bumi Borneo ini.

Pembangunan mall, hotel, perumahan, apartment, sport centre, dan berbagai renovasi disana-sini tidak membuat saya benar-benar senang. Sedikit banyak memang saya harus bangga bahwa perkembangan kota ini termasuk yang cukup pesat dan on its way untuk menyaingi kota-kota besar di pulau Jawa. Sayangnya, bagi saya sebagai seseorang yang minim pengetahuan tentang planologi ataupun ilmu ketatakotaan memandang fenomena ini sebagai suatu degradasi. Entah degradasi apa namanya. Di saat permasalahan bangsa ini yang antara lainnya adalah seputar pendidikan, kemiskinan, dan moral, pembangunan kota ini malah –menurut saya— cenderung mengasah bakat masyarakatnya agar semakin konsumtif dan bergaya hidup mewah. Di samping dampak positifnya yakni mampu menyerap sekian ribu pekerja usia efektif.

Sayangnya, saya sendiri tak mampu menghindarkan benak saya dari pertanyaan-pertanyaan semacam, “Mau dibawa kemana pembangunan kota ini?” atau “Akankah ia menjadi the next Bandung or Jakarta City?” atau pula “Apakah sektor-sektor pembangunan lainnya sudah cukup baik, hingga pembangunan seperti ini yang sedang digemborkan oleh pemerintah daerahnya? Bijakkah kebijakan ini, menurutmu?”

Tak ayal kemudian timbul berbagai model tatanan masa depan kota minyak ini di alam imajinasi saya, akibat melihat “atraksi-atraksi” mencengangkan selama sepekan terakhir. Imajinasi yang mana bukan proyeksi yang diharapkan dari sebuah kota yang –lagi-lagi bagi saya— memiliki starting point yang amat baik sebagai suatu contoh kota teladan di Indonesia, bahkan dunia. Tetapi tetap saja, imajinasi itu hanya sekedar kemungkinan. Hanya wacana. Bisa terjadi, bisa juga tidak. Sekali lagi saya tegaskan –terhadap diri saya terutama—, segala itu baru menjadi probabilitas. Tentunya kita sebagai masyarakat pun masih memiliki hak dan kewajiban untuk mengorientasikan kota ini agar menjadi jauh lebih baik dan lebih bijak.

Kawan, anggaplah ini suatu curahan hati seorang awam mengenai kekhawatirannya terhadap kota kelahirannya tercinta. Sayang saat ini kecintaannya belum mampu membuktikan hal riil apapun, kecuali seberkas kepedulian. Kalian pun pasti takkan rela jika suatu saat kota kita menjadi suatu kota dengan kepadatan penduduk tinggi, kemacetan lalu lintas di setiap persimpangan, polusi yang menumpuk, dan sebagainya. Hingga suatu saat kota ini menjadi masalah bangsa dan mulai harus ditinggalkan. Dan pada akhirnya akan muncul celotehan “Siapa suruh datang Balikpapan.”

4 thoughts on “Proyeksi Pembangunan Kota Balikpapan

  1. ikutan forum skyscrapercity.com aja na.. ada banyak forumer yang setia meng-update perkembangan kotanya, termasuk balikpapan..

    gw suka balikpapan jadi kayak waterfront city.. tapi perlu pantai publik juga tuh..

    • beuh.. ramenya kak skyscrapercity.. bingung liatnya.

      ntar lah awak main main lagi..

      suka ngapdet bekasi di sono kak? hehe

  2. Saya pernah ke balikpapan dan… tidak pingin keluar hotel kecuali malam hari…heu^^… rasanya panas sekali. Apalagi jika di dalam kendaraan umum.

    Saya suka sekali pantainya… subhanallah luas dan terasa sekali nikmat angin pantainya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s