Menjaga Jama’ah Adalah Tugas Jama’ah

Di setiap jama’ah pastilah ada pemimpin, mas’ul dan mas’ulah. Begitu pun, pasti ada yang dipimpin. Dalam suatu jama’ah, ukhuwah menjadi hal yang amat penting dalam menjaga keistiqamahan. Bahkan bagi saya, ukhuwah lebih dibutuhkan dari pada militansi kader dalam jama’ah tersebut.

Da’wah adalah tugas setiap manusia, adalah kewajiban setiap insan, adalah pewujudan ketaatannya kepada Ilahnya. Sayang, da’wah bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Apalagi jika sendirian. Dibutuhkan rekan, atau partner sevisi dalam menjalankannya. Dibutuhkan perkumpulan untuk mengeksistensikannya. Dibutuhkan jama’ah untuk mempersatukan dan menguatkannya. Sehingga, ada istilah akrab yang biasa kita sebut dengan ‘amal jama’i.

Sejak dulu, Rasulullah shallallaahu alayhi wassallam mengajarkan kepada kita tentang bekerja bersama-sama. Tidaklah beliau mengajak istri-istri, sahabat-sahabat, dan orang-orang terpercayanya jikalau beliau mampu mengemban amanah da’wah itu sendiri. Begitu pun yang dilakukan Musa kepada Harun. Berda’wah bersama, mengusung kebenaran, dan menyebarkannya.

Namun ketika jama’ah itu terguncang, terjadi konflik di dalamnya, terlebih jika kehancuran telah mengambanginya, siapakah yang harus bertanggungjawab? Mas’ul dan mas’ulah kah? Atau para koordinator dan penanggungjawabnya? Dan ketika kamu ingin lari berbalik dan berlepas tangan, pernahkah kamu kembali bertanya pada diri sendiri: “Apakah kemenangan da’wah hanya mimpi besar mas’ul? Mimpi besar penanggungjawab? Ataukah mimpi besar bersama, yang juga mimpi besarku?”

Nahnu du’aat qabla kulli syai’in. Kita adalah da’i sebelum manjadi yang lain. Manusia harus mengajak kepada kebaikan sebelum melakukan hal lain. Siapakah orang pertama yang harus kita ajak? Tentulah diri kita sendiri. Menjadi da’i adalah kewajiban, dan setiap kewajiban adalah amanah. Kemudian sempurnakanlah dengan mengingat bahwa setiap amanah akan diminta pertanggungjawabannya.

Ukhti wa akhi fillah, sungguh, kemenangan yang pasti kita dapati itu merupakan mimpi besar bersama. Dan untuk mewujudkannya, kita harus berupaya bersama, bertanggungjawab bersama. Jika kamu tidak suka berada di sini, katakanlah, jangan membuat kami berprasangka. Mungkin yang akan kamu katakan adalah kebenaran yang tidak kami sadari. Atau, jika kamu suka berada di sini, kuatkanlah dirimu, kuatkanlah aku, dan kuatkanlah kita semua. Ingatkanlah jama’ah tentang kemenangan itu, dan tentang tanggungjawab itu.

Tanggungjawab besar ini bukan hanya milikmu, namun juga milikku, dan milik kita semua. Mungkin kita pernah jatuh, namun kesempatan untuk bangkit kembali adalah tak terhingga. Kita selalu memiliki kesempatan untuk merekonstruksi kembali bangunan mimpi kita yang sempat hancur. Selalu, kawan! Tak ada kata terlambat. Oleh karena itu, mari kita menyatukan kekuatan kembali demi lahirnya suatu kekuatan baru yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Yaa Muqallibal quluub, tsabbit quluubana ‘alaa diinika.

 

So Let’s Do It All Together!😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s