Ash Shabr (1)

Semakin tinggi pohon, maka semakin besar pula terpaan yang dihadapinya. Semakin tegas angin yang menampar rantingnya. Semakin beringas pula badai yang melantakkan julangnya.

Ia mencoba bertahan, dan bertahan. Ia kerahkan segala ikatan akar pada tanah ia berpijak. Tak seperti biasanya. Angin dan badai ini layaknya murka tuhannya pada para pembangkang. Kekhawatiran menyelimuti tubuhnya. Segera ia hapuskan lamunan itu. “Tidak! Ini ujian tuhan atas akarku, batangku, dahan, ranting, dan buahku.”

“Ya, tuhanku ingin melihat. Sejauh apa aku dapat bertahan.” Tegasnya dalam hati.

Satu, dua buahnya berjatuhan.

Sepuluh, dua puluh daunnya berguguran.

“Badai apa ini, tuhan? Mengapa buah dan daunku bergelimpangan? Murkakah Engkau padaku?” Ia mulai merintih.

Sekali lagi, ia sangat tertekan. Sempat ia kehabisan akal menahan ketegarannya. Sempat ia menangis sejadinya, meluapkan ketakutannya. Akan kebenaran bila, ini benar murka tuhannya.

Saat ini badai masih merambah ke setiap jaringan tubuhnya. Air dan angin menelusup pori. Mereka terlihat menyerangnya dari segala sudut. Bahkan bukan saja dari luar, namun juga dari dalam. Kegigihan badai yang mendekapnya, seakan jujur berkata, “Membunuhmu bukanlah hal yang sukar.” Tetapi pohon tak ingin mendengarnya. Ia yakin bahwa ia takkan menyerah. Dengan percaya diri ia menanggapi badai, “Lihatlah siapa yang akan menyerah pada keadaan. Tunggulah saat kita mendapati siapa yang lebih bersabar di antara kita. Aku, karena tuhankukah. Atau kamu.”

Masih. Hingga kini pohon masih berupaya untuk dapat terus bertahan. Ia sadar sekali, badai ini tak seperti biasanya. Badai ini sangat kuat dan serangannya dari segala penjuru. Atau mungkin ia hanya lupa bahwa sebelumnya pernah datang, suatu badai yang lebih dahsyat, yang telah ia lewati. Terpaannya jauh melebihi dari badai ini.

Namun bagaimanapun badai menghantamnya, ia hanya butuh percaya kepada tuhannya. Inna ma’al ‘usri yusra. Maka, kini ia masih bersabar. Dan ia ingin terus bersabar. Ia pun berdoa kepada tuhannya, “Yaa Rabbiy. Engkau Yang Maha Sabar.. Kau yang menyuruh kami untuk bersabar.. Dan Engkau pula mencintai hamba-hamba-Mu yang bersabar.. maka berikan aku kesabaran dari-Mu, Yaa Shabur.. agar aku termasuk orang-orang yang Kaucintai.. Aamiiin..”

2 thoughts on “Ash Shabr (1)

    • jazaakillaah.. boleh aja sih.. tapi sebenarnya tulisannya belum selesai.. masih menggantung, apakah pohon akhirnya dapat terus bertahan ataukah tumbang? ^^

      tapi gapapa kok kalau mau dishare juga. manfaatkan saja isi blog ini apapun yang bisa dimanfaatkan,ukhtiy..🙂
      salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s