Kisah Semut Hijau

Alkisah, di sebuah pedalaman hutan belantara terdapat kerajaan kecil nan makmur sejahtera. Kerajaan tersebut adalah kerajaan semut. Kerajaan yang aman dan damai. Meski semut memiliki berbagai macam jenis dan kelas, mereka tetap hidup dalam tentram dan kehidupan sosial yang menyenangkan. Beberapa kabilah besar di dalam kerajaan itu antara lain semut merah, semut hitam, dan semut hijau. Dari total 90.000 jiwa semut, 60.000 merupakan dari ketiga kabilah ini.

.

Sejak dipersatukannya seluruh semut di hutan tersebut, kerajaan semut dikepalai oleh kepala kabilah semut hijau. Pemimpin di kerajaan itu dipilih dari semut hijau karena semut hijau terkenal memiliki tubuh yang kuat, giat bekerja, ramah, gemar berbagi, dan tidak sombong. Dari kelas semut putih hingga semut hitam, maupun kabilah yang sedikit maupun yang banyak, memilih semut hijau untuk memajukan kepala kabilahnya sebagai pemimpin kerajaan. Maka hingga saat itu pun semut hijau masih menjadi pemimpin tercinta di kerajaannya setelah turun temurun memimpin.

.

Hingga sampai suatu pergiliran kekuasaan semut. Kerajaan ini pun kembali dipimpin oleh semut hijau. Sayang, di awal pemerintahannya, terjadilah fitnah. Sekelompok oknum semut tertentu telah memainkan suatu mainstream publik dan menyebabkan kegoyahan pada titik-titik vital kesejahteraan rakyat. Konspirasi ini berimplikasi pada adanya suatu kesimpulan mengenai ketidakmampuan sang raja baru mengemban amanahnya sebagai pemimpin masyarakat semut. Akibatnya, kekuatan rakyat terkumpul untuk melakukan kudeta terhadap raja.

.

“Turunkan Raja!”
“Turunkan Raja!”

.
Kepala kabilah semut merah dan semut hitam yang tidak lepas dari dampak konspirasi keji oknum tersembunyi tersebut ikut mengambil tindakan. Dua kabilah terbesar lainnya kini menjadi oposisi, maka kabilah semut hijau layaknya musuh bersama.
.

“Raja semut hijau memang harus segera diturunkan.” Tegas kepala kabilah semut merah.
.

“Tapi, ini terlalu terburu-buru, kawan. Lagipula baru kali ini hal seperti ini terjadi. Bagaimana jika kita beri Raja semut hijau kesempatan?” tukas kepala kabilah semut hitam.
.

“Tidak! Tidak ada waktu lagi. Kita tidak boleh membiarkan Raja pembangkang itu terus membiarkan rakyat dalam keadaan seperti ini.” Nada suaranya meninggi. “Aku dan kabilahku akan tetap melawan Raja.” Putusnya.
.

Kepada kabilah semut hitam diam, ia menunduk. Berpikir. Memang sulit, tapi tak ada pilihan lain. Keadaan kerajaan kita sedang kacau balau, seperti Indonesia. Hanya bedanya, di Indonesia yang menjadi pengacau adalah Raja dan antek-anteknya.
.

Bagi kabilah semut hijau sudah tak ada lagi kawan, yang tersisa hanya lawan. Berbagai cara telah dilakukan kabilah semut hijau untuk mendamaikan kerajaannya dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Seperti yang biasa mereka lakukan. Sayangnya kali ini berbeda, kekacauan yang terjadi telah melewati ambang batas. Rakyat sudah tidak mau lagi mendengarkan perkataan raja, maupun para pendamai.
.

Semakin hangat kericuhan kerajaan berlangsung. Pada klimaksnya, kerajaan semut terpecah menjadi dua blok. Yang pertama adalah blok semut hijau, dan yang kedua adalah blok non semut hijau. Memang, tidak benar-benar seratus persen penduduk kerajaan semut yang selain dari kabilah semut hitam dan semut merah masuk ke dalam blok non semut hijau. Ada beberapa semut yang masih percaya bahwa ini merupakan suatu fitnah belaka. Dan merasa dengan berada di kabilah ini adalah suatu hal yang lebih baik.
.

Jumlah kabilah semut hijau adalah sekitar 18.000, dan pendukung lainnya sekitar sembilan ribu semut. Jauh berbanding dengan jumlah oposisi yang mendekati dua pertiga kerajaan. Namun dengan track record yang dimiliki oleh kabilah semut hijau, masih sangat mungkin bertahan bahkan sampai kabilah oposisi mencetuskan bendera perang. Dan benarlah perkiraan blok semut hijau, dua hari setelah perpecahan terjadi, kabilah oposisi menyatakan perang. Masing-masing mengatur strateginya.
.

“Kita bangun benteng setinggi pohon!”
“Kita buat baju perang terkuat!”
“Kita bangun base jaga di sini, dan di sana.”
.

Singkat cerita, tembok-tembok tinggi telah dibangun oleh masing-masing kubu. Pada pohon-pohon pun telah dibuat base camp jaga agar dapat menyenter dari ketinggian, jika ada penyelinap yang berniat mengacaukan kabilah dari dalam. Masing-masing kabilah juga telah menyiapkan baju perang dan peralatan-peralatan perangnya. Berbagai bahan makanan pun diatur sedemikian rupa supaya bisa memenuhi kebutuhan selama peperangan.
.

Ukuran tubuh semut hijau memang relatif lebih besar dibanding rata-rata ukuran semut lainnya. Semut hijau dapat disetarakan dengan tiga ekor semut sedang lainnya. Di kabilah semut hijau, pembagian wilayah perang dilakukan. Raja secara langsung mengepalai peperangan sebagai panglima. Raja membagi kekuatan secara adil. Total kekuatan mereka adalah sekitar 27.000 pasukan.
.

“2.000 pasukan bertugas membangun benteng dan mengurus pasokan makanan, sedang 25.000 lainnya akan disebar ke seluruh wilayah panas agar mendapat pertahanan yang cukup imbang.” Ketuk palu oleh Raja.
Memang harus begitu. Jumlah mereka jauh lebih banyak dibanding pasukan lawan. Sebesar apapun ukuran tubuh atau sesinergis apapun mereka bekerja, mereka tetap butuh pasukan di tempat-tempat vital tertentu. Jangan sampai titik tersebut dibiarkan lemah, apalagi kosong.
.

Keesokan harinya, di kala fajar, kabilah non semut hijau mulai menyerang di berbagai titik. Pasukan yang menyerang tidak sebanyak jumlah yang dimilikinya. Dia menggunakan taktik yang berbeda. Hanya dalam beberapa saat pertempuran memanas dan memorak-porandakan pertahanan semut hijau. Ternyata strategi yang telah diputuskan Raja pada malam sebelumnya tak dilakukan. Dari 25.000 pasukan yang atur berperang, hanya lima ribu yang turun dan benar-benar beraksi.
.

Di dalam benteng semut hijau
.

“Mengapa kau ada di sini?” Tanya seekor semut hijau yang mengurus makanan kepada sekelompok pasukannya yang berada di sekitar benteng. . “Bukannya kalian seharusnya menjaga titik (7,4)?” lanjutnya.

.

“K..k..kami…kami tidak ingin berperang.” Jawab salah seorang di antara mereka.
.

“Ya, kami ingin tetap hidup. Biarkan kami di sini. Lagipula, teman-teman yang lain adalah pasukan-pasukan yang tangguh. Kami akan keluar ketika akan dibutuhkan saja.” Timpal seorang yang lain lahi.
.

Benteng semut hijau sangat ramai. Sekitar 20.000 semut bertahan di dalamnya, dengan berbagai alasan. Ada yang tidak siap berperang, tidak mau, lebih nyaman di dalam benteng, ingin membantu pasukan penjaga benteng, dan sebagainya. Dan pembelaan mereka relatif sama, para pejuang yang telah dikirim berperang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Ditambah lagi ternyata tidak banyak pasukan kabilah non semut hijau yang memerangi.
.

Berita ini sampai ke telinga Raja. Marahlah Raja. Saat itu pasukan semut hijau sudah dipukul telak. Lima ribu pasukan hampir lenyap semua. Raja memerintahkan agar menambah semua pasukan yang ada di benteng untuk turun berperang. Tiba-tiba pasukan musuh datang berbondong-bondong dari berbagai penjuru. Namun masih juga, para semut hijau yang kuat dan baik tersebut hanya keluar sebagian. Lima ribu pasukan keluar lagi. Tak perlu menunggu lama, dipukul mundur lagi. Turun lagi lima ribu, dipukul lagi.
.

Hal ini terjadi secara berulang hingga pasukan semut hijau berhasil dipukul mundur dengan telak. Benteng dirobohkan, puing-puing berserakan. Seluruh kabilah semut hijau mati. Termasuk sang Raja. Kebenaran pun tak pernah terungkap bahwa Raja tidak bersalah. Dan akhirnya, habislah pertempuran.
Namun setelah itupun, pertikaian tak jua berakhir. Oknum keji masih eksis. Mereka pun merekayasa dan menjadikan kabilah semut merah dan hitam berebut kuasa.
.

“Sudah cukup tragedi perang saudara dengan semut hijau. Muak aku denganmu, Merah.” Ucap kepala kabilah semut hitam yang terkenal penyabar.
.

“Tragedi dengan semut hijau bukan salah kita, tapi salah mereka.”
.

Menghindari debat kusir, dengan cepat kepala kabilah semut hitam memutuskan, “Biarkan aku dan rakyatku berhijrah. Biarkan kami memiliki kehidupan sendiri seperti dahulu. Biarkan kami memutuskan apa yang ingin kami lakukan.” Ia lalu meninggalkan kepala kabilah semut merah berdiri termangu. Segalanya pun terberai.
.

Begitulah, semut hijau telah binasa. Padahal ia adalah sebaik-baiknya semut yang pernah diciptakan. Sayang, di saat tertentu mereka tidak menunjukkan bahwa mereka adalah semut terbaik. Mereka malah menjadi pengecut dan merusak strategi serta keadilan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s