Individualisme Kostan

Tak jarang kita temui banyak penduduk kostan, mahasiswa terutama, yang beberapa kali ditemukan berpindah-pindah tempat tinggal. Apa pasal? Salah satunya ialah individualisme. Dengan dalih bahwa partner kostannya tidak ramah dan kurang peduli, maka seseorang akan mencap bahwa kostan tersebut individualis.

Mari kita perhatikan bagaimana seseorang sampai men-judge kostan tersebut individualis. Indivialisme adalah suatu sikap tidak mempedulikan orang lain dalam konteks bersosialisasi. Dengan kata lain, dapat dikatakan orang tersebut tidak melakukan sosialisasi kepada masyarakat kostannya. Ya, mungkin ia sesekali melakukan interaksi, secukupnya. Ia tidak meluangkan waktu lebih untuk melakukan sesuatu pada partner di kostannya.

Satu poin penting yang telah saya sebutkan. Waktu. Seseorang yang individualis, atau mencap kostannya sendiri individualis adalah ketika tidak ada waktu terluang untuknya. Implikasinya, tidak ada interaksi. Kecuali secara kebetulan, waktu yang mereka gunakan adalah untuk suatu pekerjaan yang sama. Misalnya kebetulan sama-sama sedang mencuci pakaian atau sedang memasak. Atau juga sedang di kamar mandi. Terkadang interaksi dapat terjadi di sini. Tapi tentu saja, interaksi ini belumlah cukup untuk membina sebuah hubungan yang mendalam yang mampu melahirkan suatu bentuk kepedulian yang lebih satu dengan yang lain.

Setiap orang memiliki kuota-kuota waktu tertentu yang ia miliki untuk melakukan berbagai aktivitas kehidupan. Salah satunya bersosialisasi. Dan tentunya sosialisasi hanyalah salah satu dari sekian kegiatan yang menjadi aktivitas atau rutinitas seseorang. Maka, hanya sebagian pula bagi seseorang melakukan kegiatan sosialisasi. Maksudnya, kuota waktu yang dimilikinya dalam satu hari salah satunya akan habis untuk bersosialisasi. Nah, akibat dari dimensi kehidupan yang amat luas bagi seorang manusia, kebutuhan bersosialisasi seringnya tidak terpenuhi pada seluruh dimensinya. Sehingga, kita dapati bahwa seseorang akan dapat menokoh di salah satu atau beberapa tempat saja. Sebuah keniscayaan bahwa seseorang tersebut tidak bisa melakukan sosialisasi secara total di segala tempat. Kecuali orang tersebut memang memiliki dimensi kehidupan yang sempit.

Dari sinilah saya menyimpulkan bahwa terkadang bukan karena seseorang tersebut adalah seseorang yang asosial sehingga kemudian ia merasa bahwa tempat tinggalnya terlalu individualis. Melainkan memang kuota waktunya untuk bersosialiasi di kostan sudah tidak tersisa lagi. Akibatnya, ia memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang lain.

Solusi yang saya berikan bagi keadaan seperti ini, yakni ketika anda merasa kostan atau tempat tinggal anda individualis, adalah segeralah berpindah ke tempat tinggal yang masyarakatnya dapat anda temui di tempat lain. Sehingga anda telah melakukan sosialisasi dengan mereka di tempat lain tersebut, dan bonusnya anda tidak perlu banyak waktu untuk meluangkan diri bersosialisasi dengan partner kostan anda di dalam lingkarang tempat tinggal anda. Selamat mencoba. Semoga berhasil!🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s