Beku

Kala malam acuhkan pagi

Kala hujan tak hiraukan mentari

Kala mata enggan kedipan

Ada apakah gerangan?

 

Sayup-sayup kudengar

Rindu mengais sepi

Sunyi yang berpeti batu

Haus untaian gelombang denyut nadi

 

Dag dig dug

Hilang

Kemana?

Kurayu ia kembali

Enggan mengiris bayangan, kilahnya

Malaikat berpesan, api telah kelu

Baiknya kau pinjam tangisan fakir

 

Dilema

Antara tak benar

Dan tak salah

Lalu tenggelam

Merajut kepolosan

 

Sakit

Ah tidak, hanya tegang

Perasaan ini tak sempat mengerling

Apalagi mengernyit

Diksi telah wafat

Bersama sepasang daun merah jambu

Yang berdesak

Kaku untuk bertolak

Dan hanya beku yang dihadiahkan

Oleh malam kepada siang

Siang kepada malam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s