Apakah Anda (Merasa) Bermanfaat?

Tadi sore, saya berada di sebuah café dekat tempat tinggal saya. Saya biasa membeli makanan di sana karena tempatnya cenderung dekat. Ketika itu, saya sedang iseng menonton tayangan yang ditampilkan pada layar kaca yang disediakan café tersebut, sembari menunggu pesanan saya selesai disiapkan oleh sang pramusaji.

 

Tayangan yang sedang saya tonton itu sebenarnya adalah tayangan yang paling saya tidak sukai, namun ya sudahlah, toh saya tidak punya hak untuk mengganti saluran televisi. Ditambah handphone saya yang sudah keburu mati, sepertinya mencoba menikmati suguhan infotainment untuk beberapa menit di sore yang mendung ini tidak begitu masalah.

 

Akhirnya suguhan sore itu berakhir pula. Ditutu oleh sapaan lugas yang khas oleh sang presenter. Namun ada satu hal yang membuat saya mengernyitkan dahi dalam-dalam mendengar kalimat penutupnya. Kira-kira seperti ini, “Semoga acara yang kami tayangkan bermanfaat untuk Anda. Saksikan kembali acara XXX setiap hari pukul…” dan seterusnya, saya tidak ingat lagi lantaran kalimat yang presenter seksi itu katakan sontak membuat mata saya berputar ke kiri atas. Berpikir.

 

Apa yang kamu pikirkan? Adakah keanehan yang presenter tersebut katakan?

 

Bagi saya, seorang yang seringnya tidak ‘mampu’ menikmati tayangan semacam infotainment sudah mengukir keras bahwa tayangan tersebut tidak bermanfaat bagi saya. Saya tidak alih-alih menafikkan bahwa masih ada sebagian orang yang merasakan manfaat dari menikmati tayangan semacam itu. Atulah, gak masalah, karena bukan itu poin saya kali ini.

 

Hampir setiap hari kita berada di luar rumah, berinteraksi dengan makhluk Allah Swt lainnya, dengan level-level interaksi yang berbeda pula. Berbagai kegiatan pun menjadikan kita memiliki peran-peran tertentu dengan pola komunikasi dan intensitas yang berbeda. Di rumah sebagai warga kosan atau anak, kakak, adik. Di kampus, sebagai mahasiswa, pelajar, peneliti, ketua X, bendahara Y, kepala divisi Z, atau semacamnya. Di jalan, sebagai masyarakat awam dan pengguna jalan. Di angkot, sebagai penumpang. Di pasar sebagai pembeli, dan masih banyak peran-peran kita lainnya.

 

Pertanyaannya adalah, apakah keberadaan kita dalam peran-peran tersebut memiliki kebermanfaatan? Sudahkah lingkungan kita merasakan bahwa diri ini bukan hanya figuran dalam kesehariannya? Atau, kamu sudah merasa pontang-panting ‘berkorban’ dan merasa bermanfaat, namun pada kenyataannya, lingkungan tidak merasakan adanya kebermanfaatan kita? Hati-hati, jangan terlalu husnudzhan dengan diri sendiri. Singkatnya, jangan kepedean plus kege’eran, sists and bros!

 

Mengkhawatirkan, jika kita merasa lelah dengan kebermanfaatan-kebermanfaatan yang kita usahakan. Bisa jadi, hati ini tidak ikhlash melakukannya hingga kontak hati dengan para life-mates sering gangguan, alias error dan hasilnya adalah nol besar. Tidak ada kebermanfaatan yang dirasakan oleh rekan-rekan kita, kawan! Mari kita bertanya kembali pada diri, “Siapakah aku di mata teman-temanku?”

 

Sesampainya di kamar nan nyaman ini, bertataplah wajah saya dengan wajah Baby (nama netbook lucu saya ini :P). Ada  kesempatan untuk mencari-cari sedikit ilmu mengenai ciri atau tanda orang yang bermanfaat via Ustadz Google. Sayangnya saya tidak menemukannya, mungkin ikhtiar tidak maksimal. Namun pencarian memang saya hentikan ketika menemukan sebuah artikel yang cukup menarik dari bundle Manajemen Qalbu dari AA Gym.

 

Di dalamnya, beliau memaparkan bahwa menurut Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab disapa Cak Nun, manusia dapat digolongkan menjadi lima tingkatan berdasarkan kebermanfaatannya. Semoga dari sini kita dapat mengevaluasi di manakan keberadaan level kebermanfaatan diri ini.

 

1.       Manusia Wajib

Ditandai dengan keberadaan yang sangat dirindukan, sangat bermanfaat, bahkan perilakunya membuat hati orang-orang di sekitarnya tercuri. Tanda-tanda yang nampak darinya antara lain: dia seorang pemalu yang jarang mengganggu orang lain sehingga orang lain aman darinya; perilaku lebih banyak kebaikannya; ucapan senantiasa terpelihara, hemat bicara sehingga ia lebih banyak berbuat dari pada hanya berbicara; ia tidak suka mencampuri yang bukan urusannya; adalah suatu kenikmatan tatkala ia mampu berbuat kebaikan; hari-hari tak lepas dari menjaga silaturrahim; sikap penuh wibawa dan penyabar; selalu berterima kasih, gemar bersyukur; penyantun, lemah lembut; mampu mengendalikan diri; penuh kasih sayang, berwajah cerah dan ramah yang menjadi sejuk; serta mencintai dan membenci karena Allah.

 

Jika saja manusia berakhlak mulia ini tak ada, maka siapapun akan merasa kehilangan. Akan terasa ada sesuatu yg kosong di rongga qalbu ini. Manusia wajib ada pasti penuh manfaat dan kalau tak ada siapapun akan merasa kehilangan. Tandanya kebanyakan? Itu artinya insya Allah Swt banyak peluang menjadi manusia wajib. Semakin full-specification, semakin dirindukan pula ia. Insya Allah.

 

2.       Manusia Sunnah

Keberadaannya bermanfaat, namun kalaupun ia tak ada, tak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan. Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amal belum dari lubuk hati yg paling dalam atau ikhlas karena Allah Swt. Begitulah, hati akan tersentuh oleh hati pula. Seperti hal kalau kita berjumpa dengan orang yang berhati tulus, perilakunya benar-benar akan meresap masuk ke rongga qalbu siapapun.

 

3.       Manusia Mubah

Keberadaan dan ketidakberadaannya tak berpengaruh. Di kelas, kuliah atau bolos sama saja. Seorang pemuda yang ketika tidak berada di rumah/kost, keadaannya berantakan. Namun ketika ia pulangpun keadaan tetap berantakan. Inilah ciri manusia mubah. Ada dan tiada tak membawa manfaat dan tak juga membawa mudharat.

 

4.       Manusia Makruh

Keberadaannya justru membawa mudharat dan kalau dia tak ada, tak berpengaruh. Jika ia datang ke suatu tempat, maka orang lain akan merasa bosan atau tak senang. Misal ada seorang anak yang jika ia pulang ke rumah, maka keadaan rumah menjadi tidak nyaman. Namun jika ia tak pulang, suasana malah menjadi aman tentram. Ibu yang makruh diharapkan anak-anak untuk segera pergi arisan daripada berada di rumah. Sedangkan pekerja yang makruh kehadiran di tempat kerja hanya melakukan hal yang sia-sia daripada bersungguh-sungguh menunaikan tugas kerja.

 

5.       Manusia Haram

Terakhir adalah manusia haram. Keberadaannya malah dianggap menjadi musibah sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Jika saja dia pergi kuliah, suasana kelas menjadi tidak kondusif dan dosen menjadi enggan mengajar. Jika dia menghampiri teman-teman yang sedang ASIK bercerita dan bercanda, seketika ia datang, obrolan menjadi tidak nyaman dan sedikit demi sedikit orang-orang di tempat tersebut akan berpindah.

 

Begitu pula terhadap lingkungan kita harus punya akhlak tersendiri. Seperti pada binatang, kalau tidak perlu, maka tidak perlu kita menyakitinya. Ada riwayat seorang ibu ahli ibadah tapi Allah Swt malah mencap sebagai ahli neraka. Mengapa? Ternyata karena si ibu ahli ibadah ini pernah mengurung kucing dalam sebuah tempat sehingga si kucing tak mendapatkan jalan keluar utk mencari makan padahal oleh si ibu tidak pula diberi makan sampai akhir kucing itu mati. Walau si ibu ini ahli ibadah, tapi Allah Swt melaknatnya karena akhlak pada makhluk tidak baik.

 

Kadang aneh ketika kita duduk di taman nan hijau entah sadar atau tidak, kita mencabuti rumput atau daun-daunan yang ada tanpa alasan yang jelas. Padahal rumput, daun, dan tumbuh-tumbuhan yang ada di alam semesta ini semua sedang bertasbih kepada-Nya. Yang paling baik adalah jangan sampai ada makhluk apapun di lingkungan kita yang tersakiti.

 

Mari kita bersama-sama merenungi kembali makna diri dalam kehidupan. Sudahkan orang lain merasa nyaman dengan diri kita? Sudahkah diri ini merefleksikan akhlak-akhlak Islami yang begitu indahnya? Ketika bercermin, alangkah baiknya jika tak hanya memperhatikan wajah, namun pandanglah akhlak dan perbuatan yang kita lakukan oleh si pemilik wajah tersebut. Sayangnya, jarang ada manusia yang berani jujur kepada dirinya. Sebaliknya, ia sering merasa pintar, padahal bodoh. Merasa kaya, padahal miskin. Atau merasa terhormat, padahal hina. Padahal untuk berakhlak mulia kepada manusia, hendaklah dimulai dengan berlaku jujur kepada diri sendiri.

 

Tulisan ini hanya sedikit dari hikmah yang tercecer di alam semesta ini. Semoga kita menjadi manusia yang peka terhadap segala kelemahan dan diberi kekuatan serta kemauan oleh-Nya dalam usaha perbaikan diri. Terus berusaha melakukan yang terbaik kepada Allah Swt dan makhluk lain, agar diberi gelar oleh Allah Swt sebagai makhluk yang bermanfaat. Insya Allah. Wallahu a’lam.🙂

“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaat bagi orang lain.” (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s