Ekspresi Mikro Mahasiswa

Image

Micro Expression

Ditemukan pada tahun 1966 oleh Haggard dan Isaacs, kemudian Paul Ekman mengembangkan penelitian ini pada tahun 1990-an. Micro expression terjadi akibat pergerakan otot-otot wajah dan akan menunjukkan tujuh ekspresi (disgust, anger, fear, sadness, happiness, surprise, contempt) yang akan muncul ketika seseorang dalam keadaan “bertaruh,” lose or gain something. Dan sifatnya universal, artinya ekspresi mikro setiap manusia di seluruh dunia adalah sama, karena otak kita tidak mampu memunculkan ekspresi palsu dalam keadaan tersebut dan dalam waktu yang amat singkat. Micro expression terjadi secepat 1/25 detik.

Istilah micro expression merupakan suatu hal yang baru bagi saya, tapi mungkin tidak bagi kalian yang bergelut dalam bidang ilmu Psikologi. Atau mungkin juga tidak bagi kalian yang sudah sejak bertahun-tahun lalu menonton film serial “Lie to Me.” Ya, dari film ini saya mulai mengenal istilah ekspresi mikro. Ahli mikro ekspresi dalam film ini secara singkat difungsikan untuk mengetahui apakah seseorang sedang berbohong atau tidak. Jadi, keahlian ini dapat membantu penanganan kasus-kasus kriminal masyarakat maupun yang sifatnya “dapur” pemerintah.

 

Ekpresi Bangsa Kita

Bangsa ini lahir dari berbagai ekspresi. Ekspresi keoptimisan yang membawa keberanian serta, hingga mampu menjemput takdir kemerdekaannya. Peluh bersimbah pada ekspresi-ekspresi kegeraman yang tak tertampung dan tidak hanya bertahan pada 1/25 detik pertama, namun juga 350 tahun setelahnya. Kita dapat lihat, sejarah mengekspresikan semangat kebangkitan negara ini dalam lukisan kesusah-payahan. Hingga negara ini lahir, sejarah masih setia menggoreskan ekspresi kebanggaan. Kebanggaan yang diraih dari sungai keringat dan darah para pahlawan.

Namun kini, ekspresi itu berangsur sirna. Kebanggaan pun luntur jadi sengsara. Sunggingan bibir Pertiwi yang dulu menantang langit kini berbelok meratap tanah. Kekacauan masih terjadi di berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pedagang yang tak jujur dengan timbangannya hingga instrumen birokrasi yang pura-pura sedang tidak merampas kekayaan negara. Segala bentuk kebobrokan yang terjadi jika dapat kita imajinasikan, mungkin ekspresi negara ini sedang sedih dan menangis. Lebih dari itu ia juga marah, serta jijik kepada oknum yang berkhianat kepada dirinya. Begitu ekspresifnya negara ini atas keadaannya, menunjukkan bahwa kezaliman yang ia terima kini menuju klimaks signifikansi. Dan sebagai anak Pertiwi, bagaimanakah ekspresi kita saat ini?

 

Wajah-wajah Mahasiswa

Saat ini saya berada pada tingkat akhir perkuliahan, tidak sedikit dari teman seangkatan saya ada yang telah mencicipi toga kampus. Sebagian dari mereka ada yang sedang menunggu panggilan atau menyiapkan diri sebagai elemen penggerak kegiatan ekonomi  negara (atau mungkin hanya perusahaan tertentu), di saat saya masih “asyik” mengganti profile picture dengan gambar-gambar propaganda atau menulis harapan tentang negara yang lebih indah, bangsa yang lebih bermanfaat.

Di antara mereka masih ada yang bertanya dan diskusi terkait substansi isu yang sedang diangkat, memberi semangat, atau bahkan menyampaikan ide-ide perubahan. Sebagian agak mengejutkan sebenarnya, tapi hal seperti ini sudah biasa sebenarnya. Namun agak berbeda rasanya jika disampaikan oleh mereka yang tingkat akhir atau yang telah memiliki selisih titel dari kami-kami yang belum bertitel.

Sayangnya, aku harus mendefinisikan segala itu hanya sebatas micro expression. Respon-respon itu tidak lebih dari standar akan keberadaan sesuatu. Maaf sekali aku mencium bau pesimisme yang sangat kentara dari sebagian mereka. Dulunya aku pikir, mahasiswa yang selalu berkelit untuk bergerak itu sulit memilih lantaran prioritas lain. Namun yang kini terlihat malah orang-orang yang berekspresi seperti tidak mengenal Pertiwi, padahal bangsa ini telah sebegitu ekspresifnya. Seperti tidak pernah ada yang dipertaruhkan, bahkan untuk kata sefamiliar “nasionalisme.”

Saya senang pernah menjadi bagian pergerakan kampus ini, tapi belum tentu kita bisa lebih baik dari mereka yang sulit bergerak. Semoga idealisme tetap terjaga.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s