Hey, Heartless! Yes, I am.

Well malam ini aku semakin sadar betapa dingin dan heartless-nya aku. Entah tokoh lain dalam cerita ini yang too heartfelt, tapi saya sangat tidak keberatan dituding sebagai manusia tak berperasaan dalam kasus ini. Hey, Heartless! Yes, I am.

Entah kecenderungan, given, self-made, ataupun environment-made character, tapi porsi berpikir saya didominasi oleh otak, ketimbang perasaan. Mungkin sebagai seorang wanita, saya anomali. Bukan berarti saya abnormal, tapi kebanyakan memang mungkin tidak seperti saya.

Saya suka berpikir logis dan memanfaatkan karunia Tuhan ini yang berupa akal. Bisa jadi karena itu saya suka catur dan membuat algoritma pemrograman. Bahkan nilai saya pada mata kuliah Sistem Logika dan Digital adalah A, di saat huruf itu jarang muncul.

Sejak kecil, teman-teman saya pun kebanyakan adalah laki-laki. Mungkin juga karena itu pola berpikir dan bersikap saya cenderung seperti mereka, logis. Dan bisa jadi di hadapan wanita, saya dinilai kurang peka seperti yang kebanyakan wanita tudingkan kepada kaum Adam.

Pembaca jangan berpikiran yang macem-macem. Please ya, saya hanya menyoalkan cara berpikir dan bersikap. Saya masih normal kok, masih tertarik dengan ikhwan dan tidak akan berpikir untuk menumbuhkan jenggot. I swear to God. *menyilangkan jari telunjuk dan tengah*

Kembali lagi, saya hanya curhat. Saya tidak ingin menganggap dominasi pola berpikir dan bersikap saya yang seperti ini adalah masalah. Walaupun tidak menafikkan bahwa salah satu faktor signifikan pembentuk pola ini adalah suatu masalah, sesuatu yang berjalan tidak sesuai harapan.

Suatu kehidupan, lingkungan yang memaksamu beradaptasi agar kau kuat. Ketika kau telah kuat dan menjadi sebuah sosok yang berbeda, kau dihadapkan kembali pada serpihan kehidupan lain yang lagi-lagi memaksamu untuk menjadi sosok berbeda lagi.

Haruskah fasa ini terus kuikuti? Seperti suatu loop yang dalam perjalanannya selalu membawa beban yang berbeda, kadang dengan satuan yang berbeda, nilai yang berbeda pula. Tak jarang, keadaan sekitarnya pun berubah. Karena aku tau, jika aku tak mau berubah maka aku akan tamat.

Namun, sampai kapan?

Hmm, dari pada aku bertanya sampai kapan, lebih baik aku mencari cara dan dorongan dari siapa pun yang bersedia membantuku terus mampu beradaptasi agar aku tak hanya mampu hidup di suatu negeri, namun juga di ribuan galaksi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s