Resume Buku Kebebasan Wanita Jilid IV (Abdul Halim Abu Syuqqah)

Hlm. 17-18 tentang Makna Hijab

v  Mengapa penulis tidak menggunakan istilah hijab?

  1. Bertentangan dengan makna “Hijab” dalam Alquranul Karim

Dalil à A’raaf: 44-46, Shaad: 31-32, Fushshilat: 5, Asy Syura: 51, Al ‘Isra’: 45, Maryam 16-17, Al Ahzab: 53.

Ayat-ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa “hijab” adalah sesuatu yang menghalangi antara kedua pihak hingga yang satu tidak dapat melihat yang lain sama sekali.

  1. Bertentangan dengan makna “Hijab” dalam As Sunnah

 

Hlm. 25-26 tentang Perbedaan Hijab dan Libas

v  Hijab adalah penghalang antara laki-laki dan wanita untuk saling melihat. Oleh karena itu Allah berfirman, “Yang demikian itu lebih menyucikan hati kamu dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)

v  Libas (pakaian, busana) adalah yang biasa dipakai kaum wanita –meskipun sampai menutup wajahnya– masih memungkinkan wanita memandang laki-laki.

v  Hijab itu dikhususkan bagi istri-istri Nabi, sedangkan libas tidak ada pengkhususan. Berlaku untuk semua tanpa terkecuali. Apabila istri-istri Nabi hendak keluar untuk suatu keperluan, mereka mengenakan libas syar’i namun yang demikian itu tidak dinamakan hijab.

v  Peraturan hijab sebagai adab untuk istri-istri Nabi adalah untuk menjaga dan membedakan istri-istri Nabi saw dari wanita-wanita yang lain, sbg persiapan bagi mereka untuk menghindari kesenangan duniawi dan untuk hidup menyendiri karena mereka tidak boleh kawin lagi setelah wafatnya Rasulullah saw. Hal ini sbg penerapan firman Allah pada ujung ayat hijab, Al Ahzab ayat 53.

 

Hlm. 27-33 tentang Tujuan Syariat Pakaian Wanita

v  Tujuan syariat:

  1. Menutup aurat dan menjaga jangan terjadi fitnah

–          Fitnah kepada wanita lebih besar dari laki-laki

–          Perbedaan lapangan kerja (kewajiban) pokok antara wanita dengan laki-laki

  1. Membedakannya dari wanita lain dan sebagai penghormatan bagi wanita muslimah tersebut

–          Tingkat ketaatan dan penjagaan serta pemeliharaan diri

–          Tingkatan hukuman

v  Dalam Islam, memuliakan dan menghormati muslimah yang merdeka dan membedakannya dari budak merupakan metode pembedaan yang bagus karena tidak didasarkan pada bermegah-megahan pangkat, kedudukan (status sosial), harta (status ekonomi), dan kekuasaan, melainkan dengan tindakan mulia, yaitu ketaatan dan penjagaan serta pemeliharaan diri dari keburukan.

v  Tubuh wanita secara umum mengandung fitnah, dan di samping itu kita melihat syariat menetapkan tiga tingkatan menutup tubuh bagi wanita mukmin:

  1. Tingkatan pertama, khusus bagi Ummul Mukminin (istri-istri Nabi Saw). Mereka harus menutup diri dari pandangan laki-laki kecuali ketika sedang keluar rumah. Dalil: Al Ahzab: 53.
  2. Tingkatan kedua, bagi wanita mukmin yang merdeka. Mereka harus menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya. Dalil: QS. An Nur: 31.
  3. Tingkatan ketiga, bagi wanita budak yang beriman. Mereka berhak (dan kadang-kadang harus) membuka kepalanya dan sebagian anggota tubuhnya (sebagian lengan dan betis bagian bawah). Imam Malik berkata mengenai wanita budak yang melakukan shalat dengan tidak mengenakan kain penutup kepala, “Itu adalah sunnahnya…”

Umar Ra apabila melihat wanita budak memakai kerudung, dia memukulnya seraya berkata, “Apakah engkau hendak menyerupai wanita merdeka, wahai wanita bodoh!”

Pengingkaran Umar Ra ini adalah thdp keserupaan identitas wanita budak dengan wanita merdeka mengenai pakaian luar, sedang wanita-wanita budak itu pada umumnya suka bertindak sembrono atau kurang menjaga dirinya terhadap hal-hal yang terlarang. Apabila keserupaan lahiriyah (bukan batiniyah) ini terjadi, maka hilanglah ciri khusus wanita-wanita merdeka yang tinggi kedudukannya karena menjaga diri dari hal-hal yang terlarang; dan keserupaan lahiriyah ini tak diragukan lagi dapat menimbulkan dampak negatif bagi wanita-wanita merdeka itu. Dalil: Al Ahzab: 59.

v  Masing-masing tingkat penutupan aurat (dengan tingkat kemuliaan kedudukannya) memiliki tingkat hukuman (sanksi) tersendiri jika yang bersangkutan melakukan perbuatan keji (pelanggaran). Ummahatul mukminin yang tingkat penutupan aurat dan kemuliaannya paling tinggi, hukumannya dua kali lipat hukuman wanita merdeka (yang bukan istri Nabi Saw). Sedang wanita merdeka yang tingkat kemuliaannya sedang (tengah-tengah), hukumannya dua kali lipat hukuman wanita budak yang tingkatannya paling rendah. Dalil: Al Ahzab: 30. “Apabila mereka (wanita budak) mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami.”

Hlm. 34-35 tentang Pakaian: Antara Simbol dan Esensi

v  Pakaian dalam bentuk dan warnanya adalah simbol, tetapi hakekatnya menggambarkan suatu esensi karena pakaian yang dipilih oleh wanita atau pria harus memenuhi fungsinya. Pertama, utk menutup tubuh. Kedua, berlindung dari panas dan dingin. Ketiga, agar tampil bagus. Begitulah fungsi pakaian pada umumnya. Akan tetapi muslimah harus melengkapinya dengan pakaian taqwa, “Dan pakaian taqwa itulah yang lebih baik” (QS. Al A’raf: 26), dan dicelup dengan pemeliharaan dan penjagaan diri, “Celupan Allah, dan siapakah yang lebih baik celupannya selain Allah?” (QS. Al Baqarah: 138).

Hlm. 39 tentang Syarat Pakaian Wanita

v  Apabila di hadapan laki-laki bukan mahram, maka pakaian wanita itu harus memenuhi lima syarat berikut, yaitu:

  1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah, tangan, (dan kaki)
  2. Sederhana dalam menghiasi pakaian, wajah, tangan, (dan kaki)
  3. Pakaian dan perhiasan itu harus yang dikenal oleh masyarakat Islam
  4. Harus berbeda dengan pakaian laki-laki
  5. Harus berbeda dengan pakaian wanita kafir

< />

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s