Ayah

Sesak…

Ketika guratan masa lalu dibongkar

Dipreteli satu persatu

Mengingatkan pada satu-dua potret durja

Hingga sendi hati ini kian kelu

 

Namun ketika dia, dia, dan dia mampu berkisah

Lalu bersedu sedan karena sesal

Akan pengkhianatan kepada ayahnya dahulu kala,

Aku yang di sini hanya bisa meraup diam

Diam yang kini berhasil menyesaki dada

Seperti mendesak jantung untuk sejenak beristirahat

Dari berdetak, yang telah jadi kebiasaannya

 

Maaf Ayah…

Memori tentangmu raib

Lenyap dibuang senja

Kenangan indah terselip di antara halaman buram

Dan hampir tak kutemui

Hanya teriakan itu, tangisan itu, sumpah serapah itu…

Yang masih lekat dalam ingatan

Yang pula telah terampuni sejak lama

Yang kini berganti jadi semburat rindu

Yang ingin dilunasi dengan kebahagiaan hakiki

 

Jikalau dunia ini mungkin tak sudi bersaksi

Maka kupastikan akhirat kan terbebelalak

Akan bukti kasihku yang belum sempat terucap

Padanya yang kini entah rimbanya

 

Namun apabila Tuhan mengizinkan sang jagat raya

Untuk memberiku ruang dan kesempatan

Maka takkan habis sajakku ‘tuk bernyanyi

Takkan lemah tekadku ‘tuk realisasi

Takkan mau kuberhenti melompat dan berlari

Meski sayatan perih harus terbuka lagi dan lagi…

Insya Allah aku rela

Demi kerinduanku yang belum terobati…

One thought on “Ayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s