Curhatan Seorang Demonstran

Tidak seperti biasanya, fajar ini alarm tidak perlu repot-repot membangunkanku. Tiba-tiba saja aku terbangun dan dengan setengah sadar melangkah ke kamar mandi. Semalam aku tertidur begitu saja saat hampir tengah malam karena kelelahan. Sepanjang sore yang cerah kemarin, kami mengadakan mimbar bebas di kampus. Mimbar bebas adalah acara kami untuk memberi pencerdasan dalam bentuk tulisan dan gambar propaganda kepada massa kampus, serta ada beberapa mahasiswa berorasi tentang isu yang diangkat. Akhir-akhir ini kami sedang menggaungkan isu Evaluasi Delapan Tahun Pemerintahan SBY sebagai Bapak Negara Indonesia.

 

Rally sholat dalam rangka curhat pada-Nya alhamdulillah masih bisa kunikmati meski sudah memasukiinjury time. Sholat ‘isya, sholat rawatib, kemudian tahajjud, yang ditutup dengan witir kujalani begitu tenang, hingga adzan dari masjid terdekat memecah hening. Ah, suara yang kemarin… Mana suara yang biasanya ya? Dua hari ini muadzinnya bukan bapak muadzin yang biasanya. Aku tepikan sedikit ke-kepo-anku, “Semoga beliau baik-baik saja,” batinku. Kemudian aku bangkit lagi, menunaikan sholat fajar dan shubuh. Setelah itu berdoa untuk keberkahan agenda besar hari ini, semoga Engkau menerimanya sebagai pemberat amal di akhirat kelak, yaa Allah… Kuakhiri aktivitas pagi ini dengan sarapan ‘sehat’ tilawah satu juz. Segala puji bagi Tuhan seluruh alam, Ia jadikan pagi ini begitu nikmat untukku. Baiklah, sekarang sudah pukul 5.10, mari bersiap!

 

“Waktu menunjukkan pukul 6.15.” Begitu bunyi pesan singkat yang dikirimkan oleh pak Menteri Kebijakan Nasional Kabinet KM-ITB, Yorga.

 

“Maaf saya masih di simpang. Eh, jadinya saya naik travel aja nih?” balasku.

 

“Iyaa, punteun ya kaaak,” jawab Yorga.

 

Sesampainya di meeting point, yaitu menara kubus di depan kampus Ganeca pukul 6.20, aku belum melihat siapapun. Ya ampun, aku kira aku telat. Singkat cerita, peserta aksi dari kampus ITB hari ini sebelas orang. Jadi, delapan orang bisa muat di mobil sedangkan sisanya naik travel. Para perempuan yang jumlahnya hanya sepasang, yaitu aku dan Nifa bersama Deputi Jaringan kementerian yang kerap disapa Wicak menemani kami naik travel, dan pergilah kami ke pool travel pukul tujuh.

 

“Halo. Iya, Kak?”

 

“Halo, Wicak. Belum dibayar kan travelnya? Saya barusan di-BBM sama si Andro nih. Unpad nawarin buat barengan, soalnya di bisnya masih banyak seat kosong.” Aku menelepon Wicak yang sedang bertransaksi di dalam pool, sedangkan aku masih menunggu soto ayam di pangkuanku ini agar sedikit dingin sebelum bisa melahapnya, di luar pool.

 

“Wah, ini udah di depan mas-masnya, Kak, mau bayar. Gimana yah? Saya sih mau aja bareng Unpad, biar gak keluar duit juga, haha.”

 

“Yaudah cancel aja gapapa, kan kita pelanggan, hehe,” jawabku sekenanya.

 

Segera setelah aku menyelesaikan sarapan, kami bertiga bergerak dari pool travel di daerah Dipati Ukur menuju Pasteur. Setelah menunggu sekitar satu jam yang diselingi sholat dhuha di Pasteur, akhirnya bis pun datang. Kami disambut hangat oleh Juhe, Hanny, Andro, Lukmawan–para pejabat BEM Unpad– dan siap meluncur ke Jakarta bersama peserta aksi Universitas Padjadjaran lainnya. Istana Negara, here we really come!

 

Pukul dua belas kami sampai di Istana Negara, peserta aksi yang merupakan mahasiswa dari kampus-kampus yang tergabung dalam aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia atau BEM-SI dari berbagai penjuru negeri telah memadati jalanan di hadapan Istana Negara. Masya Allah, pemandangan ini… Tak sengaja, tersungging senyum kemenangan, entah kemenangan apa yang sedang kurasa. Mungkin, kemenangan karena kami telah menang atas ego diri, sehingga hari ini kami dimampukan oleh-Nya untuk mendahulukan urusan rakyat jelata atas urusan pribadi.

 

“Datang dari Baraaat, datang dari Timuuur. Maaahasiswaaaa! Datang dari Baraaat, datang dari Timuuur. Maaahasiswaaaa!” Sajak indah nan bersemangat itu menggema menyambut kami yang berjalan berbaris dari Monumen Nasional mendekati Istana Negara, bak tentara yang siap mengepung tempat persembunyian musuh. Lengkap dengan atribut aksi, siap untuk ‘berperang’.

 

Rupanya agenda besar hari ini belum lama dimulai. Di luar istana, teman-teman berorasi dan saling memantik semangat, tentunya ditemani barisan aparat berseragam coklat dan beberapa rekan media. Sementara para presiden mahasiswa BEM-SI sedang bernegosiasi untuk dapat menemui presiden negara kita, Susilo Bambang Yudhoyono. Aku dan Nifa masuk ke dalam barisan putri. Kami menyimak kalimat demi kalimat para orator, menyanyikan lagu-lagu perjuangan tercinta, sambil sesekali mengepalkan tangan meninju angkasa sembari berseru lantang, “Hidup mahasiswa! Hidup rakyat tertindas Indonesia!”

 

Massa aksi semakin ramai, berdatangan pula kawan-kawan kami dari Sumatera dan tuan rumah, Jakarta. Di TKP sendiri, kampus-kampus yang sudah datang merupakan perwakilan dari daerah Semarang, Bali, Jakarta, Bogor, Bandung, Depok, dan lain-lain. Kami masih menunggu kepastian apakah presiden SBY atau wakilnya Boediono bisa hadir menemui kami atau tidak untuk sedikit menenangkan hati kami. Di bawah matahari terik dan panas Jakarta yang menyengat, kami masih semangat menyuarakan keadilan. Ini bukan tentang seberapa banyak jumlah kita kawan, melainkan seberapa besar tekad kita memperjuangkan kebenaran!

 

Plak! Setapak tangan menepuk punggungku dengan amat tak manusiawi ketika aku sedang mengambil posisi sebagai border barisan putri. Border adalah lapis terluar yang erat untuk menjaga pasukan aksi di dalamnya. Aku pun menoleh. Berpikir, “Siapa sih ini cowo pake neplak segala, gak tau ya bersentuhan bukan mahram itu haram?!”

 

“Woy Na’, lo mau bantu jadi yang ngendorse polisi itu gak?” Tanyanya separuh berteriak sambil menunjuk barisan polisi yang berjaga di hadapan barisan mahasiswa terdepan, para pemegang panji.

 

“Respatiiiii!” Buset dah ini perempuan. Tangan boleh mungil, tapi neplak kayak kuli! “Hah? Emang ngapain tuh?”

 

“Iya, ntar kan barisan putra yang megang panji dibuka. Nah, putrinya maju. Lo bagian yang ngedorong-dorong polisi paling depan ya?!” Sang koordinator lapangan putri nan tegas ini menjelaskan dengan bantuan visualisasi kedua tangannya untuk membuatku lebih mudah mengerti maksudnya.

 

“Hmm, boleh-boleh,” sambil mencerna. Sebenarnya aku masih agak bingung, karena biasanya kalau aksi, cukup jadi peserta barisan. Jadi orator pun masih sekali-kali.

 

Adegan itu pun dimulai. Respati, aku, dan lima putri lainnya mengondisikan barisan peserta putri agar bertukar dengan barisan pemegang panji. Dan seperti yang diinstruksikan oleh korlap putri, aku berjaga di antara polisi dan barisan putri. Wow baiklah, ini toh maksudnya.

 

“Oke, siap ya putri. Saya hitung satu, dua, tiga, barisan maju empat langkah! Satu. Dua. Tiga!” Instruksi telah dilambungkan. Massa putri pun melangkah maju dan menekan posisiku yang langsung berhimpit dengan polisi yang badannya besar-besar.

 

Instruksi ini diberikan dua kali dan formasi barisan dikembalikan seperti semula. Para putri di dalamborder putra, sedangkan putra pemegang panji berjajar lagi menjadi pasukan terdepan. Sesaat setelah intruksi dorongan diberikan, salah seorang polisi berusaha setengah bercanda kepadaku dan beberapa peserta putri di dekatku.

 

“Hati-hati lho kalian dorong-dorongan, ntar ketabrak mobil,” cengirnya.

 

Eh? Polisi yang aneh. “Yah, kan kalo kita dorong bapak, yang ada juga bapak yang ketabrak duluan, hehehe…,” sambarku, disambut jawaban serupa dari para peserta aksi putri di dekatku. Waduh,speechless ya pak? Peace ah. Si pak polisi pun melengos.

 

Orator silih berganti. Mulai dari yang penuh konten, mirip stand-up comedy, jargon, curhat, hingga orasi dengan lagu Noah, semua macam orasi ada! Perwakilan putri diminta orasi. Aku dan Respati saling melirik dan memberi kode semacam “maju lo sana,” meski moderator meminta perwakilan dari UNNES dan tak ada yang maju. Aku yang merasa makin akrab dengan benda bernama pengeras suara atau toa ini, sebenarnya ingin mengambil kesempatan beraspirasi dan menebar semangat tersebut. Namun kemudian aku berpikir kembali dan mengurungkan niat. Yaa Allah, jangan sampai ini hanyasyahawatul kalam atau nafsu syahwat untuk berbicara di depan publik. Lagipula, kemarin aku sudah orasi di mimbar bebas kampus. Teman-teman UNNES lebih jarang aksi di Jakarta, sebaiknya mereka ambil kesempatan itu. Ini hanya kekhawatiran terhadap hal kecil yang berpotensi menjadi penyakit hati, riya’. Mungkin sepele, tapi berbahaya. Aku sering melihat orang-orang seperti itu. Jaga kami, Allah…

 

Akhirnya sekitar pukul 16, para presiden mahasiswa yang sempat bolak-balik Istana Negara menyampaikan hasil negosiasi mereka pada kami. Diwakili oleh Tanri, presiden mahasiswa universitas koordinator pusat BEM-SI, dia menyatakan bahwa bapak Presiden RI sedang tidak di tempat. Seruan “huuu” langsung menyeruak di udara. “Tuntutan dan hasil kajian sudah disampaikan ke pejabat Istana. Kita lihat saja kawan-kawan, apakah akan ada jawaban atau tidak. Jika tidak, maka jangan salahkan kita jika kita aksi lagi di sini dengan massa yang lebih banyak! Apa kawan-kawan semua siap??”

 

“Siaaaapp!” Jawab massa aksi mantap secara bersamaan.

 

Acara pun memuncak ketika ratusan surat dari rakyat untuk SBY, instalasi tugu rakyat, dan karangan bunga tanda duka cita atas kondisi bangsa delapan tahun terakhir yang ingin kami titipkan untuk diberikan kepada pak SBY dan Boediono, tidak diterima oleh pihak Istana. Kami pun membakar ketiga benda ini bersamaan dengan dua buah ban bekas, tanda aspirasi kami ini begitu tidak berguna di mata pemerintah! Tanri kembali memimpin aksi untuk membacakan poin-poin tuntutan kami yang berjudul “Mendobrak kebuntuan! SBY sudahlah…” sebagai agenda penutup aksi massa hari ini.

 

 

Sayangnya, baru sampai pada tuntutan kedua, salah satu border putra terputus dan menjadi titik lemah yang serta merta mendapat serangan para aparat berseragam coklat tersebut. Polisi menerabas masuk barisan kami dan mematikan api yang merupakan poros barisan, dengan CO2. Hal yang mengesalkan adalah ada oknum polisi yang dengan sengaja menyemprotkan CO2 ke arah barisan putra. Super menjijikan!!

 

Fatal. Penerabasan dilengkapi oleh tameng-tameng yang baru mereka hadirkan tepat di depan barisan putri dan hal ini mengakibatkan barisan kami lemah, panik dan barisan mulai kacau. Akhirnya aksi menjadi ricuh. Barisan putri langsung dievakuasi ke gedung RRI. Ada yang bilang, sebenarnya kita sudah sepakat dengan polisi bahwa aparat tidak akan menyerang mahasiswa hingga closing statement, namun karena putri berhambur keluar barisan, polisi jadi memanfaatkan keadaan ricuh ini dan mulai mengejar pentolan-pentolan aksi. Kabar burung juga bersuara bahwa ada miskomando di internal pihak kepolisian. Benar-benar sedih dan kecewa! Padahal kami sama sekali tidak menyerang, tapi empat orang dari kami dihadiahi bogem mentah dan diamankan. Aku menebak bonus gebuk masih tersedia di Polsek untuk Rendi, Farid, Udin, dan Irul.

 

Sebagian dari kami ada yang panik karena teman kami ditangkap, sebagian lagi langsung berkumpul dengan teman sekampus masing-masing, sebagian lainnya masih bermain dengan polisi, dan berbagai adegan dramatis sebagai anak kericuhan yang baru saja pecah. Aku mencari-cari Nifa yang masih mahasiswa tingkat satu. Alhamdulillah ia aman di gedung RRI. Kami lalu berpelukan karena keadaan tengah mengkhawatirkan. Sambil menunggu kericuhan mereda dan anggota masing-masing kampus lengkap, kami mempersiapkan kepulangan. Aku, Nifa, dan Wicak bertukar tempat dengan Arbi, Faris, dan Yorga. Faris dan Yorga akan memastikan keadaan Anjar–presiden mahasiswa ITB– dan Wirana, baru akan pulang bersama bis Unpad. Sedangkan kami langsung naik ke mobil bersama Geni, Akrim, Zaki, dan Luthfi untuk segera pulang ke Bandung.

 

Sendi-sendi ini rasanya ingin lepas. Mengoordinasi lapangan ternyata bukan perkara santai. Membagi makanan dan minuman agar peserta aksi tetap bertenaga menjemur diri di atas aspal panas, adu dorong dengan polisi, berkeliling mengondisikan barisan, memastikan peserta tidak ada yang sakit, memberi mereka semangat, bahkan mengikatkan tali sepatu border yang sulit bergerak karena kedua tangannya mengait kuat dengan tangan border di kanan-kirinya. Benar-benar hari yang luar biasa!

 

Di tengah perjalanan, kami bertujuh rehat sholat dan makan. Ternyata lelah bukan milikku saja, tapi kita semua. Waktu menunjukkan pukul 20.30. Aku pikir setelah makan aku bisa tidur tenang di mobil dan mengembalikan kekuatan untuk kembali beraktivitas besok. Ternyata hidup ini memang sulit ditebak…

 

“Aduh, gantian dong. Capek nih,” ungkap Wicak, supir kepulangan malam ini.

 

“Saya sudah menunaikan kewajiban nyetir pas berangkat hehe,” Geni berkilah.

 

Akrim belum bisa menyetir. Nifa, Zaki, dan Luthfi masih tingkat satu. Sisanya?

 

“Errr… Yaudah sini aku supirin,” aku mengambil kunci yang dilelang Wicak.

 

Setengah perjalanan lagi nih ke Bandung. Jujur saja kawan, ini pertama kalinya aku menyetir di tol. Malam pula. Awalnya mereka agak was-was karena belum pernah lihat aku menyetir, lama-kelamaan semuanya tidur juga meninggalkan aku yang sendiri beradu dengan jalanan. Apalagi saat bayar tol, bahkan mungkin ada yang memaksa tidur begitu gerbang tol menampakkan diri. Awas kalian ya. Hmm, semangat Na’! Hahaha.

 

 

 

 

 

 

————————-*—————————-*————————*—————————-

 

 

Writing Competition ini merupakan salah satu rangkaian acara dari Indonesia Muslimah Fest bekerjasama dengan FLP Bandung. Ikuti lomba & Audisi lainnya seperti Lomba Menyanyi, Model Muslimah, Rancang Hijab dengan Hadiah Utama Tour Eropa, Asia dan Umroh juga Hadiah Ratusan Juta lainnya. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:

 

web              : www.festivalmuslimah.com

Twitter         : @MuslimahFest

Fb                 : www.facebook.com/FestivalMuslimah

 

sebenernya kriteria penilaiannya lebih ke kualitas penulisan, tp ada juga utk tulisan favorit berdasarkan jumlah like dan comment. so, di like, comment, and share yah di http://www.facebook.com/notes/ratna-nataliani/curhatan-seorang-demonstran/10151079556902694. berhubung aksi kemaren cukup perlu diingat, anggap aja saya lagi bikin notulennya ini hahaha😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s