Mantan Orang Sholeh

“Duh gimana dong, gue udah gak sholeh lagi nih…”

Well, kalimat ini beberapa kali saya dengar dari teman-teman yang sudah lulus, bahkan saya sendiri pernah sempat mengatakannya. Awalnya karena mengikuti jalan cerita sang penutur alur, kalimat ini terdengar pas-pas saja dengan fakta. Namun ketika saya sedikit memikirkan kalimat ini lebih dalam, berusaha memandirikan kalimat tersebut dan membreakdown sekenanya, saya pikir kalimat ini agak… Mmm entahlah, mungkin kamu bisa bantu saya mendefinisikannya.

Dulu, ketika di kampus, kehidupan seperti lapangan yang dipenuhi ranjau amanah. Geser kiri dikit, amanah. Guling-guling kanan banyak, amanah. Koprol ke depan, eh amanah juga.

Dulu, ketika di kampus, mau rapat? Salman. Syuro? Salman. Janjian makan? Sekitar salman. Mau bayar utang? Depan tempat sepatu salman juga.

Dulu, ketika di kampus, jam enam pagi ngapain ke kampus? Syuro. Sebelum makan siang mau kemana? Ngementor. Weekend sibuk apa? Liqo dan tatsqif. Libur panjang ada apa? Dauroh.

 

Kini?

Gue sibuk, weekday kerja, weekend capek. Akhirnya, tilawah menipis.

Gue ada survei keluar kota, pulangnya pasti capek beut. Akhirnya, jarang QL.

Gue besok meeting sama klien di Ibukota, berangkat mesti pagi-pagi banget. Akhirnya, dhuha pun lost.

…dan-se-ba-gai-nya.

 

Imam Hasan Al Banna mengatakan, “Adapun tingkatan amal yang dituntut dari seorang al akh yang tulus adalah perbaikan diri sendiri, sehingga ia menjadi orang yang kuat fisiknya, kokoh akhlaknya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupan, selamat aqidahnya, benar ibadahnya, pejuang bagi dirinya sendiri, penuh perhatian akan waktunya, rapi urusannya, dan bermanfaat bagi orang lain. Itu semua harus dimiliki oleh masing-masing al akh.”

Ya kawan, beberapa dari kita mulai merasa bahwa the life has changed significantly. Hal yang biasa kita lakukan di kampus, hampir gak dilakukan lagi. Bahkan kalau bisa, “eh deka, jangan deket-deket gue dong…!”

Lupa atau ingat, sadar ataupun tidak, nahnu du’aat qobla kulli syai’in. Bagi Allaah, kita tetaplah agen-agen-Nya yang siap menyebarkan kebenaran dan kebaikan. No matter how you doin’ now. Kuliah, riset, kerja, freelance, NGO, LSM, dan lainnya, kita masih da’i dan akan tetap selalu menjadi seorang da’i hingga pertanggungjawaban kita sebagai da’i di hadapan-Nya lunas nas nas nas!

Memang bukan berarti harus da’wah di kampus, atau harus syuro di Salman untuk menganggap diri ini masih sholeh. Saya pikir, standar sholeh di lingkungan aktivitas baru sangat mungkin berbeda, levelnya beda, tantangannya beda. Dan di lingkungan baru itu, kita tetaplah da’i, hey!

Harus kita sadari, da’wah ini akan tetap melaju, bahkan semakin kencang menuju kepada kejayaan Islam, dengan atau tanpa kita. Ya, dengan atau TANPA KITA, semakin hari Islam semakin dekat dengan kejayaan yang telah Allaah janjikan. Justru, kitalah yang membutuhkan da’wah.

Jadi logikanya, kita boleh berpikir kalau diri kita “udah gak sholeh lagi”, tapi “udah bukan da’i lagi” itu gak akan pernah terjadi. Dan seorang da’i merupakan teladan bagi (da’i) yang lain. Dapatkah seorang yang tidak baik (tidak sholeh) dijadikan teladan? Maka, yuk bareng-bareng berusaha untuk tetap sholeh bahkan lebih sholeh untuk menjadi da’i yang berkualitas. Da’wah memang bukan segalanya, namun segala bisa menjadi tak berguna apabila kita tidak niatkan untuk berda’wah.

Suatu saat nanti, jika kita bertemu kembali sebagai seorang engineer, saintis, entrepreneur, politikus, dosen, dan sebagainya… Sebenarnya saat itu saya sedang bertemu dengan seorang da’i yang berkecimpung sebagai seorang engineer, saintis, entrepreneur, politikus, dosen, dan sebagainya pula. Maka, jagalah status da’i-mu selagi mengejar status-status baru lainnya. Status-status itu tidak saling mengganti, namun saling melengkapi.

 

Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus, maka setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh akan menyesali dirinya karena ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah. – Komitmen Da’i Sejati, Muhammad Abduh

 

Status mahasiswa boleh hilang, tapi status da’i kita bawa mati, kawan!

 

*tulisan ini juga dipublish di Islampos: http://www.islampos.com/lagi-lagi-mantan-orang-sholeh-70070/

One thought on “Mantan Orang Sholeh

  1. Ada jurang yang cukup besar (memang) antara da’wah kampus dengan da’wah sya’bi. Jika anti bisa melewatinya dengan sukses (meski dengan berdarah-darah…hehe…) insyaAllah akan lanjut terus. Hanya perlu sedikit taaruf dengan medan baru, mencari kontribusi apa yang bisa diberi untuk jalan ini. Da’wah sya’bi tidak melulu syuro, tidak melulu masjid. Banyak ceruk-ceruk yang mungkin untuk sebagian orang tidak bisa mereka sentuh dengan indahnya islam, tapi anti bisa lewat situ.
    Tapi untuk ibadah, tak ada kata lain selain memaksa diri tetap memenuhi target. Tanpa itu, domba yang sendirian akan semakin keluar jalur dan semakin sulit untuk kembali.
    Satu lagi, apapun yang terjadi, bagaimanapun ‘buruknya’ keadaan kita nanti, jangan pernah coba-coba pensiun dari jamaah ini. Sebab saudara kita dulu, kini, dan nanti, merekalah mungkin yang akan ‘memanggil’ kita dari sebaik-baik tempat itu karena kita pernah mencintai mereka, pernah mencintai jalan ini. Semoga kita senantiasa istiqomah sampai akhir…
    Maaf, tidak bermaksud menggurui. Hanya terkenang ketika saya dulu pernah merasakan hal yang serupa ^_^V

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s