Mengenang Wafa

Kami membereskan perlengkapan pribadi dan medis kami masing-masing yang akan kami bawa serta menuju Jalur Gaza. Satu persatu bawaan kami masukkan ke dalam sebuah mobil van berwarna putih. Di bagian samping van itu bertuliskan sebuah nama organisasi tempat kami berafiliasi, Bulan Sabit Merah Indonesia.

Pagi ini terasa seperti pagi-pagi biasanya, meski sebenarnya panggilan pagi ini tergolong panggilan darurat. Mungkin batas stres kami sudah terlalu kabur—karena sehari-hari kejadian mengerikan berlangsung tepat di depan mata kami dan juga dalam sepekan ini ada beberapa panggilan darurat—sehingga kami tak mampu lagi membedakan keadaan sangat genting atau cukup genting. Hal yang pasti adalah segera bergerak sesigap-sigapnya.

“Dimas kenapa ngelamun? Kamu sehat? Lihat Vina, gak?” tanyaku pada salah satu anggota tim cepat tanggap kami.

“Mmm, aku gak apa-apa Gi. Kayaknya dia lagi di barak deh, tadi aku lihat dia jalan cepat gitu ke arah sana,” Dimas menjelaskan dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah barak pengungsi.

“Ah, lagi…” pikirku. Aku melempar senyum pada Dimas, “Oke, aku panggil Vina dulu ya, terus kita langsung berangkat.”

Kutelusuri jalan selebar empat manusia yang menjadi jalan utama kamp tempat kami menetap sementara di dekat Ramallah, tepatnya di kamp Al-Amari. Aku mencari-cari sesosok gadis muda sahabat sejak SMA, sekitar delapan tahun silam. Sedikit lagi aku sampai pada barak keluarga yang kutuju, namun seorang gadis berjilbab ungu muda cerah telah dulu berlari kecil ke arahku.

Ia benar-benar hampir menabrakku. “Hei Gi, ada apa? Yuk yuk berangkat!” Tangan kirinya menepuk pundakku. Ia mencoba tersenyum sambil mengatur napas.

Aku memiringkan kepalaku sedikit untuk melihat pandangan di belakang punggung Vina. Sebegitu cepat pula responnya untuk menggeser tubuhnya dan memamerkan senyum lebarnya padaku, “Giyaaa, gak ada apa-apa kaliii. Tadi aku cuma mengantar jus buah ke keluarga Idris. Hehehe…” Gadis koleris yang ceria ini berhasil memutar tubuhku dan kami pun bergerak menuju van, kami sama-sama tahu harus segera berangkat.

Vina, Aku, Rico, Dimas, dan Syihan sudah lengkap dengan jubah putih dokter kami dan masuk ke dalam van. Kami mengecek ulang semua barang-barang. Vina adalah ketua kelompok aksi cepat tanggap Bulan Sabit Merah Indonesia. Seorang gadis yang sangat bersemangat dan mampu menjaga kewarasan kami ketika banyak sekali tekanan yang kami dapatkan baik dari pasien kami, para pejuang atau mujahid, ataupun dari kondisi lapangan yang begitu sulit diprediksi.

“Akhir-akhir ini aku sering melihatmu mengunjungi keluarga Idris. Ada apa sih? Kok gak pernah cerita-cerita?” Tanyaku sambil menyilangkan kedua lengan di depan dada, pura-pura merajuk agar ia mau membagi isi kepalanya.

Ia tertawa kecil. “Haha. Gak ada apa-apa kok… Beberapa hari yang lalu, waktu aku mengunjungi barak-barak pengungsi, aku terjebak dalam obrolan dengan keluarga Idris. Kami mengobrol tentang anak perempuan keluarga Idris yang meninggal tujuh tahun lalu.”

“Oh… Innalillaahi wa inna ilayhi raaji’uun… Memangnya ada apa dengan anak perempuannya?” Aku menjadi sedikit ingin tahu.

“Ia sama seperti kita dulu, seorang perempuan relawan medis Palestina. Ia benar-benar seseorang yang sangat menginspirasi…”

“Hmm, apakah ia meninggal saat perang berlangsung?” Rasa ingin tahuku dijawab singkat oleh Vina dengan sebuah anggukan kecil dan pandangan yang agak menerawang. “Menjadi relawan seperti ini memang beresiko, bahkan nyawa. Kita harus berhati-hati dan menjaga diri baik-baik,” Aku melanjutkan. “Kamu juga ya, Vin!” Ia hanya tersenyum.

Perjalanan pagi itu diselingi hujan deras yang membuat seisi van kami cukup hening, masing-masing kami sibuk dengan ayat-ayat-Nya. Ada yang hanyut dalam indah bacaan Al Qur’an, sedangkan sebagian lain mengulang hapalannya karena tidak ingin kalah dengan jumlah hapalan Al Qur’an anak-anak Palestina.

“Sepuluh menit lagi,” Syihan mengingatkan Vina yang berada di hadapannya, bahwa perjalanan van pagi ini akan segera berakhir.

Bismillahirrahmaanirrahiim. Saudara-saudaraku, Giya, Syihan, Rico, dan Dimas.” Ia memandangi kami satu persatu, berusaha mengalirkan energi positif dalam dirinya menuju kami. “Hari ini, sekali lagi kita akan memberikan seluruh jiwa raga kepada ummat. Tidak ada yang mampu mengganti keikhlasan kita, selain Allah di surga-Nya kelak. Hidup ini hanyalah sebuah tempat singgah dengan tujuan membedakan manusia yang banyak amalnya dengan yang tidak. Kemudian dengan segera, manusia-manusia itu akan kembali kepada Allah. Benar-benar dengan segera.”

Vina menggenggam tanganku erat. Entah apa yang baru saja keluar dari mulut ketua kelompok kami, namun pada titik ini aku merasa sangat sedih. Rico merangkul Dimas dan Syihan di kanan dan kirinya. Menepuk-nepuk pundak satu sama lain, saling melempar senyum dan saling menguatkan.

Kami disambut oleh beberapa rekan media yang sedang meliput kejadian yang pecah tadi pagi. Ketiga pria sigap mengeluarkan barang-barang dari van. Beberapa media sedang mewawancarai seorang pria yang langsung meminta izin untuk menemui kami.

Salam ‘aleykum warahmatullaah. This way, this way…” Pria ramah berperawakan Arab yang tingginya hampir mencapai dua meter itu langsung mendampingi kami menuju barak tempat para relawan medis lainnya menindaklanjuti mujahid-mujahid yang terkena luka tembak, serangan represif tentara Israel, ledakan bom dan rudal, serta luka-luka lainnya. Mereka antara enggan mati untuk terus berjuang bagi negara dan agamanya atau pasrah dijemput Izrail yang aku yakin sudah berkeliaran di sini sejak matahari terbit.

Pemandangan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari kami. Suara-suara yang kami dengar dari mulut ke mulut hanyalah nama Ilah mereka yang dibumbui dengan rintihan perih akibat menahan luka yang menganga. “Asyhadu allaa ilaaha… Illallaah… Wa asyhadu annaa… Muhammad… Rasulullaah…” Betapa mereka berada di antara keindahan dunia dan akhirat. Aku iri.

Vina menghampiriku yang sedang melihat sekilas keadaan barak pengungsi di Jalur Gaza ini. “Gi, Gi. Kumpul bentar yuk. Ada sedikit briefing dari koordinator relawan medis di bangunan tempat penyimpanan makanan, medis, dan lain-lain di sebelah…”

“Oh oke, Vin,” aku mengangguk.

“Tolong cari Rico ya, kasitau juga supaya kumpul di luar sekarang. Cuma sekitar sepuluh menit kok.” Ia tersenyum lembut sambil memegang kedua bahuku. Aku mulai mencari Rico dan sepertinya Vina lanjut menghampiri Syihan dan Dimas.

Dalam ruangan tersebut, layar televisi sedang menanyangkan gambar seorang lelaki yang menutupi hampir seluruh kepala dan wajahnya dengan kaffiyeh bermotif kotak merah-putih. Ia berbicara bahasa Arab sambil menyandang sebuah senapan Kalashnikov di tangan kiri dan Al-Qur’an yang didekapnya di depan dada dengan tangan kanan. Ia adalah salah seorang mujahid dari laskar yang memiliki misi bom syahid. Menyampaikan pesan terakhir memang seperti suatu ‘standar pelaksanaan’ yang menjadi rangkaian peledakan diri.

Kami memang sempat memperhatikan layar televisi, namun tak lama kemudian koordinator relawan medis datang dan briefing pun di mulai. Sekilas aku tak sengaja mendapati wajah Vina. Aku dapat merasakan wajahnya menjadi serius, matanya tak berkedip, dan rahangnya mengeras. Sayangnya, kami semua harus segera mengalihkan perhatian kepada bapak koordinator relawan medis yang menyambut kami pagi tadi.

Sejak setelah briefing hingga siang kami terus mendapat ‘suplai’ mujahid-mujahid yang cedera. Sesekali kami bergantian untuk sholat fardhu dan mengganjal perut kami dengan roti gandum dan susu. Siang ini memang sangat padat, tak hanya pikiran, namun juga hati kami lebih dipadati oleh kemuakan dan kemurkaan pada tentara laknatullaah itu.

Aku ingat salah satu pasienku adalah seorang anak kecil berumur sekitar tujuh tahun yang ditembak tepat di bahu kanan dan paha kirinya. Saksi mata yang menggendong badan mungil yang terkulai bersimbah darah itu kemari, bercerita bahwa hal itu terjadi beberapa detik setelah anak kecil ini melemparkan batu kerikil ke arah tentara yang berjaga di samping tank yang berpatroli mengacak-acak rumah dan keluarga warga sipil Palestina.

Adapula pasien Rico, seorang ibu yang melahirkan dalam keadaan sekarat akibat tertimpa puing-puing runtuhan bangunan. Entah bagaimana ceritanya, seorang ibu yang tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengejan, mampu melahirkan bayi yang sehat dengan begitu lancar. Meskipun pada akhirnya ibu itu tidak ditakdirkan untuk melihat bayinya. Maha Suci Engkau, yaa Allah…

Berbagai perlengkapan medis terus dikirimkan. Perlengkapan yang paling banyak kami habiskan antara lain: alkohol dan berbagai cairan desinfektan, kapas, serta kassa untuk membungkus luka. Aku merasa semakin hari, kemampuanku menjahit luka-luka lebar makin terasah. Begitu pula dengan kecermatanku mengeluarkan peluru yang tersesat di dalam daging. Lebih mendalam lagi, aku semakin sadar dan terinspirasi oleh mereka yang mewakafkan diri mereka untuk mendapatkan transaksi terbaik dengan Tuhannya.

“Serangan sudah mereda. Satu jam lagi sepertinya kita bisa kembali ke Al-Amari, tentunya setelah kita menemani dan menenangkan pasien, kemudian menceritakan keadaan mereka pada para relawan umum. Nanti biar relawan-relawan itu yang menemani dan membantu keperluan mereka, karena kita harus beristirahat untuk panggilan-panggilan medis lainnya besok. Ada pertanyaan?” Dimas selesai mengumumkan pada kami tentang keadaan sejauh ini. Kami hening. “Hmm… Ada yang lihat Vina?” Tanyanya kembali.

Kami melirik ke kanan dan kiri, bertanya satu sama lain. Segera kami berkeliling barak untuk menemukan ketua kelompok kami. Aku menghampiri petugas jaga, dengan bahasa Arab yang terbata dan diselingi dengan bahasa Inggris, aku memintanya untuk membantu kami mencari ketua tim dokter relawan medis Bulan Sabit Merah Indonesia.

“Vina…! Vinaaa…!!” Kami sahut menyahut memanggil nama Vina. Aku hampir menyerah, dan di sisi lain kami harus segera menemani para korban luka-luka serta menyosialisasikan keadaan kepada relawan umum, sehingga kami pun tak bisa fokus untuk menemukan Vina. “Semoga ia sedang tertidur di suatu tempat karena kelelahan,” bisikku tentang harapan aneh yang mau tak mau kuharapkan dari pada kemungkinan lain saat ini.

Hari mulai gelap. Ngiiing nguuung ngiiing nguuung. Suara sirene bersahutan. Ada apa ini?Tiga buah ambulans masuk ke daerah kamp pengungsian. “Vina!” batinku. Aku menghambur menuju arah suara sirene. Segera setelah diturunkan, aku memeriksa tubuh-tubuh yang sebagian harus tertumpuk karena telah menjadi mayat. Kabarnya sebuah bomsyahid telah meledak di perbatasan, menewaskan ratusan tentara laknat, namun juga warga yang berada di sekitar perbatasan. Selebihnya luka parah karena bom tersebut dicampur dengan paku-paku agak ledakannya lebih dahsyat.

Nggak ada, Gi…” Dimas tiba-tiba muncul di belakangku. Suaranya bergetar. Aku menoleh. Air mukanya kacau, ia mulai menangis deras.

Kedua alisku menyatu. Bingung. “Apa maksudmu, Dim? Aku gak ngerti…!”

Dimas memukul-mukul badan ambulans itu, menyesali sesuatu dalam sekali. Tapi apa???Akhirnya ia memilih pergi dari kerumunan dan masuk ke ruangan khusus relawan medis. Aku perlahan mengikutinya dari belakang.

Saat aku masuk ruangan, Dimas terduduk di salah satu sudut ruangan dan sudah bersama Syihan dan Rico seolah menenangkannya. Aku berjalan mendekati mereka. Masih dengan sangat perlahan. Benar-benar perlahan. Aku tak tahu harus bicara apa. Aku jongkok tepat di hadapan Dimas, agar tinggiku menyamai mereka yang sedang duduk. Sebenarnya aku sedih melihatnya setertekan itu.

Kedua mata Dimas yang dikawal oleh kacamata itu kini beradu dengan lantai. Ia mencoba berbicara… “Gi, Ric, Han… Ada salam dari Vina. Katanya kalau dia gak balik, tolong maafin semua kesalahan dia ya…” Kami semua menitikkan air mata. Aku yang tadinya jongkok, langsung beralaskan tanah. Aku merasa mulai terguncang.

Ia melanjutkan, “Sekitar tiga pekan lalu dia memintaku untuk mengantarkannya ke pelatihan peledakan diri, bom syahid.” Aku tahu napasku kini benar-benar tertahan. Sepertinya Allah sedang meliburkan tugas oksigen untuk memenuhi kebutuhan bernapas manusia selama beberapa detik saja. Namun sesaknya luar biasa. “Vina memintaku untuk merahasiakan hal ini. Awalnya aku sudah memintanya berpikir ulang, namun aku tak melihat kesedihan ataupun keraguan sedikitpun di wajahnya. Aku juga berpikir, tidak semudah itu diterima menjadi pasukan bom syahid. Seleksinya amat ketat dan persiapannya bukan main. Dari ratusan orang yang mendaftar, hanya beberapa puluh yang diterima. Setiap malam aku bersujud dan berdoa agar ia tidak diterima. Tak disangka, subuh tadi ia mendapat kabar gilirannya.”

Syihan yang kebapakan merangkul Dimas begitu erat, memijat bahunya agar lebih rileks. Rico pun bergegas mengambilkan segelas air putih untuk Dimas. Aku? Brakkk!

Pagi itu aku tidak ikut ke lapangan. Aku baru siuman tadi subuh dan inilah pagi terpilu yang pernah kurasakan. Vina bahkan tidak menceritakan apapun. Ia juga tidak meninggalkan sesuatu yang bisa kukenang. Meski aku tahu sekali, aku hanya akan menghancurkan rencananya—yang mungkin juga cita-citanya—jika ia menceritakannya padaku. Tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Aku berusaha sekuat tenaga mengangkat diri dari tempat tidur, berpakaian, dan mengenakan jilbabku, berjalan tertatih keluar barak relawan.

Assalaamu’alaykum, Mabrook,” sapaku pada penghuni barak.

“’Alaykumussalaam warahmatullaahi wa barakaatuh. Masuklah, Nak,” jawab perempuan renta itu menghampiri dan tersenyum, mempersilakanku masuk. Untungnya Mabrook Idris dapat berbicara bahasa Inggris, sehingga aku tak perlu memamerkan bahasa Arabku yang masih terputus-putus.

“Begini Mabrook… Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Apa itu, Nak?” Pandangan sendunya melekat pada wajahku.

“Siapakah anak perempuanmu, Mabrook? Aku pernah sekali mendengar kisahnya, seorang relawan medis yang sangat menginspirasi. Bolehkah aku mengetahuinya?”

Mabrook tersenyum. Ia berdiri dan mengambil sesuatu dari kotak tua kecil di antara tumpukan barang-barangnya. Ia duduk kembali kemudian menyodorkan sebuah kertas propaganda usang seukuran A4, bergambar seorang perempuan muda dengan ikat kepala bertuliskan ‘Allahu akbar’ dan kalimat-kalimat berbau perjuangan untuk mengapresiasi sangSyahidah. Aku menutup mulut dengan tanganku. Mengapa tak terpikirkan olehku??

Suaraku bergetar. “Wafa… Idris…?”

Mabrook mengangguk pelan.

Siapa tak kenal Wafa Idris? Beliaulah perempuan pertama yang menjadi pelaku bom syahid Palestina. Beliau meledakkan bom di pintu masuk sebuah toko sepatu di pusat kota Yerusalem tahun 2002 saat usianya masih dua puluhan. Sejak itu, banyak perempuan yang mewakafkan diri demi agama dan negaranya dengan jalan itu.

Mungkin sama seperti Wafa, Vina ingin mewakafkan dirinya secara total di jalan ini. Bukan berarti mungkin karena ia muak dan murka dengan keseharian yang ia dapati, melainkan karena Vina bergitu kuat, dan tentunya setiap orang memiliki keleluasaan serta ruang diskusi dengan Allah dalam menentukan pilihannya. Semoga Allah menerima amalmu, duhai Saudariku, Ar-Rahman sedang membukakan pintu langit seluas-luasnya untuk serta merta ditembus oleh para syuhada hingga ke jannah-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s